JurnalPost.com - Generasi muda merupakan salah satu kelompok masyarakat yang memiliki posisi penting dalam kehidupan politik. Keberadaannya tidak hanya menentukan arah perkembangan demokrasi pada masa mendatang, tetapi juga berperan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Sebagai bagian dari masyarakat, generasi muda memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, menggunakan hak pilih, serta terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan publik. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, masih ditemukan anak muda, termasuk Generasi Z (Gen Z), yang menunjukkan kurangnya ketertarikan terhadap persoalan politik.
Bagi sebagian anak muda, politik dianggap sebagai sesuatu yang rumit, membosankan, bahkan tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka. Pandangan tersebut dapat memunculkan sikap apatis, yaitu kondisi ketika seseorang cenderung tidak peduli atau memilih untuk tidak terlibat dalam persoalan politik.
Rohmah dkk. (2026) menjelaskan bahwa apatisme politik pada Generasi Z berkaitan dengan berbagai faktor, seperti kepercayaan politik, literasi demokrasi, penggunaan media digital, serta rendahnya keterlibatan dalam kehidupan politik.
Fenomena ini menjadi perhatian karena keberlangsungan demokrasi tidak hanya bergantung pada keberadaan lembaga negara dan aturan yang berlaku, tetapi juga membutuhkan kesadaran serta partisipasi masyarakat, termasuk generasi muda.
Memahami Fenomena Apatisme Politik
Apatisme politik tidak selalu berarti seseorang sama sekali tidak mengetahui persoalan politik. Dalam beberapa keadaan, individu sebenarnya memahami bahwa terdapat berbagai permasalahan dalam kehidupan politik, tetapi memilih untuk tidak terlibat karena merasa partisipasinya tidak akan membawa perubahan.
Sikap tersebut dapat berkembang secara perlahan akibat pengalaman pribadi, pengaruh lingkungan sosial, maupun pandangan terhadap sistem politik.
Camberly dkk. (2025), dalam penelitian mengenai kecenderungan mahasiswa menghindari politik, membahas apatisme sebagai bentuk ketidakpedulian, ketidakterlibatan, atau pilihan untuk menjauh dari persoalan politik.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan anggapan bahwa politik tidak relevan dengan kehidupan pribadi serta rendahnya kepercayaan terhadap sistem politik.
Padahal, politik memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Kebijakan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga penyediaan lapangan pekerjaan merupakan bagian dari keputusan publik yang dapat memengaruhi kehidupan generasi muda.
Oleh karena itu, kurangnya keterlibatan dalam persoalan politik dapat membatasi kesempatan anak muda untuk memahami bagaimana keputusan publik dibuat dan bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi masyarakat.
Riyanti, Luthfi, dan Rohana (2023) menjelaskan bahwa generasi muda memiliki posisi sebagai agen perubahan. Pendidikan politik dapat membantu membangun pemahaman mengenai struktur pemerintahan, hak dan kewajiban warga negara, serta pentingnya partisipasi dalam proses politik.
Rendahnya Literasi dan Pendidikan Politik
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan munculnya apatisme politik adalah kurangnya pemahaman generasi muda terhadap persoalan politik.
Pembahasan mengenai politik sering kali menggunakan istilah yang tidak mudah dipahami, mulai dari sistem pemerintahan, lembaga negara, kebijakan publik, hingga proses pengambilan keputusan.
Bagi anak muda yang belum memperoleh pendidikan politik secara memadai, berbagai pembahasan tersebut dapat terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Akibatnya, mereka cenderung menghindari informasi politik karena merasa kesulitan memahami persoalan yang sedang dibicarakan.
Novandika dan Riyanti (2024) membahas pentingnya pendidikan politik dalam meningkatkan partisipasi generasi muda. Keluarga, lingkungan sosial, dan media massa memiliki peran dalam memperkenalkan informasi politik serta membangun kesadaran masyarakat.
Pendidikan politik yang terstruktur diperlukan agar generasi muda dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami hak dan kewajibannya, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Selain pengetahuan dasar, literasi politik juga berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memahami dan mengevaluasi informasi yang beredar.
Perkembangan teknologi digital memberikan akses informasi yang semakin luas. Berbagai persoalan politik dapat diketahui melalui media sosial, portal berita, maupun platform komunikasi lainnya.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami isi informasi secara tepat. Penyebaran informasi yang tidak akurat, berita palsu, dan konten yang menyesatkan dapat memengaruhi cara masyarakat memandang persoalan politik.
Generasi muda membutuhkan kemampuan untuk membedakan informasi yang dapat dipercaya dengan informasi yang tidak memiliki dasar yang jelas.
Literasi politik menjadi penting agar mereka tidak hanya memahami politik sebagai kegiatan pemilihan umum, tetapi juga sebagai proses yang berkaitan dengan kebijakan dan keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Nasution dan Hafizsutrisno (2023) turut membahas pentingnya pendekatan pendidikan politik yang dekat dengan kehidupan generasi muda, termasuk pemanfaatan budaya populer dan media sosial untuk membangun ketertarikan terhadap partisipasi politik.
Rendahnya Kepercayaan terhadap Proses Politik
Selain kurangnya pengetahuan, rendahnya kepercayaan terhadap proses politik juga dapat menjadi salah satu penyebab munculnya sikap apatis.
Ketika seseorang merasa bahwa pendapatnya tidak didengar atau keterlibatannya tidak akan menghasilkan perubahan, muncul kecenderungan untuk menjauh dari aktivitas politik.
Perasaan tersebut dapat membentuk jarak antara masyarakat dan lembaga politik. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengurangi keinginan untuk mengikuti perkembangan kebijakan publik maupun berpartisipasi dalam kegiatan demokrasi.
Wahyudi dkk. (2013), melalui penelitian terhadap mahasiswa, menemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan politik, kepuasan terhadap demokrasi, dan partisipasi politik.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan dan kepuasan terhadap demokrasi berkaitan dengan kecenderungan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan politik.
Hal ini memperlihatkan bahwa apatisme tidak selalu muncul karena seseorang tidak memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Sebagian individu mungkin memiliki perhatian terhadap persoalan sosial, tetapi meragukan kemampuan saluran politik yang tersedia untuk menghasilkan perubahan.
Oleh sebab itu, membangun kepercayaan masyarakat terhadap proses politik menjadi hal yang tidak kalah penting dibandingkan meningkatkan pengetahuan politik.
Generasi muda perlu memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat, terlibat dalam diskusi publik, dan memahami bagaimana aspirasi masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Handaningrum dan Rini (2014) juga membahas persepsi terhadap kualitas calon serta kepercayaan politik sebagai faktor yang dapat dikaji dalam hubungannya dengan partisipasi politik mahasiswa.
Pengaruh Lingkungan Sosial terhadap Sikap Politik
Lingkungan sosial merupakan faktor lain yang dapat memengaruhi pembentukan sikap politik generasi muda.
Keluarga menjadi salah satu lingkungan pertama yang memperkenalkan individu pada kehidupan bermasyarakat. Melalui interaksi sehari-hari, seseorang dapat mempelajari pentingnya menghargai perbedaan pendapat, memahami persoalan sosial, dan menyampaikan pandangan secara terbuka.
Kebiasaan berdiskusi mengenai permasalahan di lingkungan sekitar dapat membantu anak muda mengembangkan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Sebaliknya, apabila persoalan sosial dan politik selalu dianggap tidak penting untuk dibicarakan, generasi muda mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengembangkan ketertarikan terhadap persoalan publik.
Selain keluarga, lingkungan pendidikan dan pertemanan juga berpengaruh terhadap pembentukan pandangan politik.
Sekolah dan perguruan tinggi dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mempelajari nilai-nilai demokrasi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan memahami pentingnya keterlibatan masyarakat.
Diskusi akademik, organisasi kemahasiswaan, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai tanggung jawab sebagai warga negara.
Di sisi lain, media sosial juga memiliki peran yang semakin besar dalam membentuk pandangan politik anak muda. Platform digital memungkinkan mereka memperoleh informasi, mengikuti diskusi publik, dan menyampaikan pendapat dengan lebih mudah.
Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan sikap kritis agar informasi yang diterima tidak langsung dipercaya tanpa melalui proses pemeriksaan.
Dengan demikian, lingkungan sosial yang terbuka terhadap diskusi dan menghargai perbedaan pandangan dapat membantu generasi muda membangun pemahaman politik yang lebih baik.
Dampak Apatisme terhadap Partisipasi Politik Generasi Muda
Apatisme politik dapat memengaruhi tingkat keterlibatan generasi muda dalam kehidupan demokrasi.
Ketika anak muda semakin jarang mengikuti perkembangan politik, kesempatan mereka untuk memahami kebijakan publik dan menyampaikan aspirasi juga dapat menjadi semakin terbatas.
Sikap tidak peduli terhadap persoalan politik berpotensi mengurangi keterlibatan dalam berbagai kegiatan publik, seperti diskusi kebijakan, organisasi kemasyarakatan, maupun kegiatan demokrasi lainnya.
Dalam jangka panjang, rendahnya partisipasi dapat menyebabkan aspirasi sebagian generasi muda kurang terwakili dalam proses pengambilan keputusan.
Meski demikian, penting untuk membedakan antara apatisme politik dan sikap kritis terhadap lembaga maupun aktor politik.
Seseorang yang tidak puas terhadap kondisi politik belum tentu bersikap apatis. Ketidakpuasan juga dapat mendorong individu mencari informasi, menyampaikan kritik, atau memilih bentuk partisipasi lain yang dianggap lebih sesuai.
Karena itu, upaya meningkatkan partisipasi generasi muda tidak cukup dilakukan dengan mendorong mereka mengikuti kegiatan politik. Diperlukan pula ruang partisipasi yang terbuka, akses informasi yang mudah dipahami, dan kesempatan menyampaikan aspirasi secara bermakna.
Pentingnya Membangun Kesadaran Politik Sejak Dini
Mengurangi sikap apatis di kalangan generasi muda membutuhkan peran berbagai pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, hingga institusi publik.
Pendidikan politik sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengenalan lembaga pemerintahan atau proses pemilihan umum, tetapi juga menghubungkan persoalan politik dengan kehidupan sehari-hari.
Generasi muda perlu memahami bahwa keputusan politik dapat berkaitan dengan biaya pendidikan, kesempatan kerja, pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Pendekatan pendidikan yang komunikatif, terbuka, dan sesuai perkembangan teknologi dapat membantu menjadikan pembahasan politik lebih mudah dipahami.
Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran informasi dan pendidikan politik, selama konten yang disampaikan mengutamakan ketepatan informasi dan mendorong kemampuan berpikir kritis.
Pada akhirnya, partisipasi politik tidak harus selalu diwujudkan melalui keterlibatan dalam partai politik atau kegiatan pemilihan umum.
Mengikuti perkembangan kebijakan publik, berpartisipasi dalam forum diskusi, menyampaikan aspirasi, serta terlibat dalam kegiatan sosial juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Kesimpulan
Apatisme politik di kalangan generasi muda merupakan fenomena yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti rendahnya literasi politik, kurangnya kepercayaan terhadap proses politik, serta pengaruh lingkungan sosial.
Fenomena ini perlu diperhatikan karena generasi muda memiliki peran penting dalam keberlanjutan kehidupan demokrasi.
Upaya mengurangi apatisme tidak cukup hanya dengan meningkatkan pengetahuan politik, tetapi juga perlu disertai penguatan kemampuan berpikir kritis, keterbukaan ruang partisipasi, dan pembangunan kepercayaan terhadap proses demokrasi.
Generasi muda perlu mendapatkan kesempatan untuk memahami bahwa politik bukan sekadar persoalan kekuasaan atau persaingan antaraktor politik, melainkan juga berkaitan dengan berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Dengan pendidikan politik yang tepat dan lingkungan yang mendukung, generasi muda diharapkan dapat mengembangkan kesadaran untuk berpartisipasi secara kritis, mandiri, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.
Daftar Pustaka
Camberly, G., Stevani, L., Samantha, J., Maharani, J., Colin, S. O., & Dariyo, A. (2025). Mengapa mahasiswa cenderung menghindari politik? Memahami apatisme dan maknanya. Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora, 8(6), 1037–1044.
Hapsari, M. A., Wardhani, S. H. R., Ariyani, N., & Andani, D. (2022). Bahaya apatisme pemuda terhadap kehidupan bernegara: Edukasi partisipasi politik Karang Taruna Ira Kusuma Yogyakarta. DAS SEIN: Jurnal Pengabdian Hukum dan Humaniora, 2(2), 105–117.
Hasrullah, Arya, N., & Hidayatullah, F. (2023). Digital literacy and social media engagement: Examining the impact on political participation in Indonesia. International Journal of Academic Research in Progressive Education and Development, 12(3), 1822–1829.
Marsuki, N. R., Oruh, S., & Agustang, A. (2022). Youth apathy in political contest: A case study in the 2020 Gowa Regency Head Election. JED (Jurnal Etika Demokrasi), 7(1), 73–82.
Mukminul, J. (2022). Apatisme politik generasi milenial di Desa Napallicin Muratara. Ampera: A Research Journal on Politics and Islamic Civilization, 3(1), 56–64.
Novandika, B., & Riyanti, R. (2024). Pemilu dan partai politik: Pendidikan politik dalam meningkatkan partisipasi politik generasi muda. Themis: Jurnal Ilmu Hukum, 2(1).
Riyanti, R., Luthfi, A., & Rohana, D. (2023). Peran generasi muda dalam pendidikan politik untuk meningkatkan partisipasi politik. Themis: Jurnal Ilmu Hukum, 1(1).
Rohmah, A. N., Susana, E., Masloman, M. A., Putra, R. I. A., & Ulfa, K. (2026). Apatisme politik Generasi Z di Indonesia: Sebuah systematic literature review tentang ancaman terhadap demokrasi. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial Politik, 3(4), 1480–1486.
Wahyudi, H., Fernando, T., Ahmad, A., Khairani, A., Fatimah, F., Agung, I. M., & Milla, M. N. (2013). Peran kepercayaan politik dan kepuasan demokrasi terhadap partisipasi politik mahasiswa. Jurnal Psikologi, 9(2), 94–99.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda