Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  2. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  3. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  4. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  5. Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Menjadi Diri Sendiri atau Mengikuti Tren? Krisis Identitas Anak Muda di Era FOMO

Menjadi Diri Sendiri atau Mengikuti Tren? Krisis Identitas Anak Muda di Era FOMO

Z
Penulis: Zayidha Navisya Haris
14 Oktober 2026, 16.59 WITA Editor: Gilang Pamungkas
8 menit baca
Pensive Study Session by the Window
Ilustrasi seorang anak muda yang sedang merenung di depan laptop. Fenomena FOMO dan tekanan tren media sosial menjadi tantangan bagi generasi muda dalam mempertahankan jati diri. (Ilustrasi AI)

JurnalPost.com - Kehadiran teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara anak muda berinteraksi, memperoleh informasi, serta mengenali identitas dirinya. Platform seperti TikTok dan Instagram kini bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan gaya hidup, mengikuti tren, hingga mencari pengakuan sosial.

Di tengah derasnya arus informasi tersebut, muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau perkembangan yang dialami orang lain. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah anak muda saat ini benar-benar bebas mengekspresikan dirinya, atau justru semakin terikat pada standar yang dibentuk oleh tren dan lingkungan sosial?

IKLAN

FOMO menjadi persoalan yang menarik untuk dibahas karena masa muda merupakan fase penting dalam proses pencarian jati diri. Pada tahap ini, seseorang cenderung memiliki kebutuhan untuk diterima dan diakui oleh lingkungan sekitarnya. Keinginan tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kebutuhan akan pengakuan membuat seseorang terus-menerus menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain, kebebasan untuk menjadi diri sendiri dapat terancam.

Mahasiswa di kampus
Baca Juga

Anak Muda dan Politik: Jangan Hanya Memilih, tetapi Juga Berpikir Kritis

Oleh karena itu, FOMO tidak dapat dipandang hanya sebagai kebiasaan mengikuti perkembangan media sosial. Fenomena ini juga berkaitan dengan persoalan sosial dan budaya yang memengaruhi cara generasi muda membentuk identitasnya.

Media Sosial dan Tekanan untuk Selalu Mengikuti Tren

FOMO berkembang seiring meningkatnya keterhubungan masyarakat melalui teknologi digital. Media sosial memungkinkan seseorang melihat aktivitas, pencapaian, dan pengalaman orang lain hanya dalam hitungan detik. Mulai dari gaya berpakaian, tempat nongkrong populer, perjalanan wisata, hingga prestasi akademik, semuanya dapat ditemukan dengan mudah melalui layar ponsel.

Imaddudin (2020), dalam kajiannya mengenai FOMO dan konsep diri Generasi Z, membahas keterkaitan antara pengalaman bermedia sosial dan cara individu memandang dirinya sendiri. Hal ini menjadi relevan ketika anak muda terus-menerus membandingkan kehidupan pribadinya dengan gambaran kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial.

Konten yang terlihat menarik dan sempurna sering kali hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Namun, ketika konten tersebut dijadikan ukuran keberhasilan, seseorang dapat merasa bahwa kehidupannya kurang menarik, tidak cukup berhasil, atau tertinggal dibandingkan orang lain.

GEN Z
Baca Juga

Bahasa Gen Z dan Identitas Digital: Kreativitas Berbahasa di Era TikTok

Perasaan inilah yang kemudian dapat mendorong seseorang mengikuti tren demi memperoleh penerimaan dan pengakuan sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena tersebut dapat ditemukan melalui berbagai perilaku. Misalnya, membeli pakaian model terbaru, menggunakan produk yang sedang viral, mengikuti istilah bahasa gaul tertentu, atau mengunjungi tempat populer hanya agar tidak dianggap ketinggalan zaman oleh lingkungan pertemanan.

Mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Tren dapat menjadi sarana hiburan, memperluas pergaulan, bahkan membuka kesempatan untuk mencoba pengalaman baru. Persoalan muncul ketika seseorang melakukan sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan atau minat pribadinya, melainkan semata-mata karena takut dianggap berbeda.

Pada kondisi tersebut, keputusan pribadi mulai dipengaruhi tekanan sosial. Apa yang terlihat sebagai bentuk kebebasan berekspresi justru dapat berubah menjadi upaya memenuhi ekspektasi orang lain demi mendapatkan validasi.

Focused Study Break on Social Media
Baca Juga

Scrolling Boleh, Pecah Belah Jangan: Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Ramainya Media Sosial

FOMO dan Proses Pembentukan Identitas Anak Muda

Fenomena FOMO memiliki hubungan erat dengan proses pembentukan identitas, terutama pada masa remaja dan dewasa muda. Pada fase ini, individu mulai mengeksplorasi minat, nilai, keyakinan, serta posisi dirinya dalam lingkungan sosial.

Kajian Avci, Baams, dan Kretschmer (2025) mengenai penggunaan media sosial dan perkembangan identitas remaja menunjukkan bahwa hubungan keduanya bersifat kompleks.

Di satu sisi, media sosial dapat memberikan ruang bagi anak muda untuk mengeksplorasi minat, mengembangkan kreativitas, menemukan komunitas, dan mengekspresikan identitas dirinya.

Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial juga dapat berkaitan dengan berbagai tekanan psikologis, termasuk kecenderungan melakukan perbandingan sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak secara otomatis menyebabkan krisis identitas. Dampaknya dapat berbeda-beda, bergantung pada cara individu menggunakan platform digital, jenis interaksi yang dilakukan, serta bagaimana mereka memaknai informasi yang diterima.

Ketika media sosial dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai diri sendiri, seseorang berisiko kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak puas terhadap kehidupannya.

Sebaliknya, apabila digunakan secara sadar dan bijaksana, media sosial justru dapat membantu seseorang menemukan lingkungan yang mendukung perkembangan kepribadiannya.

Dengan demikian, persoalan utamanya bukan terletak pada keberadaan media sosial, melainkan pada kemampuan individu untuk membedakan antara kebutuhan pribadi dan tekanan yang muncul dari lingkungan digital.

Antara Budaya, Identitas, dan Keinginan untuk Diterima

Dari sudut pandang sosial dan budaya, FOMO memperlihatkan adanya dilema antara kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok dan keinginan mempertahankan keunikan diri.

Masyarakat Indonesia memiliki nilai kebersamaan dan solidaritas sosial yang kuat. Nilai tersebut berperan penting dalam membangun hubungan antarmasyarakat. Namun, dalam situasi tertentu, dorongan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok juga dapat menimbulkan tekanan terhadap individu yang memiliki pilihan berbeda.

IKLAN

Pada era digital, tekanan tersebut semakin luas. Standar gaya hidup tidak lagi hanya dibentuk oleh keluarga, teman sekolah, atau lingkungan tempat tinggal, tetapi juga oleh kreator konten, figur publik, dan tren global yang tersebar melalui media sosial.

Akibatnya, anak muda menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan pengaruh budaya global dengan nilai serta identitas yang telah dimilikinya.

Meskipun demikian, mengikuti perkembangan budaya global tidak selalu berarti meninggalkan budaya lokal. Media sosial justru dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan bahasa daerah, pakaian tradisional, kuliner khas, hingga kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Persoalannya adalah bagaimana generasi muda tidak sekadar mengikuti tren demi memperoleh perhatian atau jumlah tanda suka, tetapi juga memahami nilai dan makna dari budaya yang ditampilkan.

Kreativitas dan modernitas seharusnya dapat berjalan berdampingan dengan upaya mempertahankan identitas budaya. Keterbukaan terhadap perubahan tidak harus menghilangkan penghargaan terhadap akar budaya sendiri.

Pentingnya Literasi Digital dan Kesadaran Diri

Menghadapi tekanan FOMO membutuhkan kemampuan literasi digital sekaligus pemahaman yang baik terhadap diri sendiri.

Anak muda perlu membiasakan diri untuk berpikir kritis sebelum mengikuti suatu tren. Pertanyaan sederhana seperti, "Apakah saya benar-benar menyukai hal ini, atau hanya takut dianggap ketinggalan?" dapat menjadi langkah awal untuk memahami motivasi di balik suatu keputusan.

Kesadaran tersebut penting agar pilihan yang diambil tidak selalu didasarkan pada penilaian orang lain.

Selain individu, keluarga dan lembaga pendidikan juga memiliki peran dalam membantu generasi muda menghadapi tekanan sosial di dunia digital.

Lingkungan yang memberikan ruang untuk berdiskusi, menghargai perbedaan, dan tidak menjadikan popularitas atau kepemilikan barang sebagai ukuran utama keberhasilan dapat membantu anak muda mengembangkan kepercayaan diri.

Pendidikan literasi digital juga perlu diarahkan pada kemampuan memahami bahwa konten media sosial tidak selalu mencerminkan kehidupan seseorang secara utuh.

Foto perjalanan, pencapaian akademik, maupun gaya hidup yang terlihat menarik di media sosial merupakan bagian dari informasi yang dipilih untuk ditampilkan. Karena itu, membandingkan seluruh kehidupan pribadi dengan potongan kehidupan orang lain bukanlah cara yang tepat untuk mengukur keberhasilan diri.

Mengurangi tekanan FOMO bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sadar, membatasi perbandingan sosial yang tidak sehat, dan memberikan perhatian lebih besar terhadap tujuan serta kebutuhan pribadi.

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Perubahan Zaman

Fenomena FOMO memperlihatkan bahwa salah satu tantangan besar generasi muda di era digital bukan hanya kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga keberanian mempertahankan identitas diri di tengah berbagai pengaruh sosial.

Mengikuti tren tidak selalu berarti kehilangan jati diri. Sebaliknya, memilih untuk tidak mengikuti tren juga bukan berarti menolak perkembangan zaman.

Permasalahan muncul ketika kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan membuat seseorang mengabaikan nilai, minat, dan prinsip yang sebenarnya diyakini.

Oleh sebab itu, kesadaran diri, kemampuan memilah informasi, serta keberanian mengambil keputusan secara mandiri menjadi hal penting dalam menghadapi kehidupan digital.

Menjadi diri sendiri bukan berarti menutup diri dari perubahan. Justru, seseorang yang mengenali identitasnya akan lebih mampu menentukan pengaruh luar mana yang sesuai dengan kebutuhan dan prinsip hidupnya.

Pada akhirnya, keberanian untuk tidak mengikuti tren yang bertentangan dengan nilai pribadi merupakan salah satu bentuk kemandirian dalam membangun identitas yang autentik.

Di tengah dunia digital yang bergerak begitu cepat, menjadi diri sendiri bukanlah tentang seberapa berbeda seseorang dari orang lain, melainkan tentang sejauh mana ia mampu menjalani kehidupan berdasarkan pilihan dan kesadaran dirinya sendiri.

Daftar Pustaka

Imaddudin. (2020). Fear of Missing Out (FoMO) dan konsep diri Generasi-Z: Ditinjau dari aspek komunikasi. Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal, 2(1), 24–39. DOI: 10.35706/jprmedcom.v2i1.3747

Avci, H., Baams, L., & Kretschmer, T. (2025). A systematic review of social media use and adolescent identity development. Adolescent Research Review, 10, 219–236. DOI: 10.1007/s40894-024-00251-1

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/menjadi-diri-sendiri-atau-mengikuti-tren-krisis-identitas-anak-muda-di-era-fomo/98171/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.46 WITA

  • #FoMO
  • #Generasi Z
  • #Literasi Digital
  • #anak muda
  • #jati diri
  • #krisis identitas
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri
  2. 2

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  3. 3

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  4. 4

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  5. 5

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.