JurnalPost.com - Upaya merawat sejarah dan mengenalkan potensi budaya lokal dilakukan mahasiswa KKN PPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Angkatan XLIX Tahun 2025/2026 Kelompok 69 bersama Karang Taruna Pakis Kulon melalui penataan kawasan wisata religi Petilasan Syekh Subakir di Gunung Balak, Dusun Pakis Kulon, Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, pada 1 Agustus 2026.
Penataan kawasan dilakukan dengan memasang papan informasi sejarah dan plang petunjuk arah menuju Gunung Balak. Kebutuhan terhadap petunjuk arah dan informasi mengenai kawasan tersebut turut terlihat dari pengalaman peziarah yang datang dalam acara Sadranan. Salah seorang peziarah asal Ketep mengaku sebelumnya belum mengetahui keberadaan Petilasan Syekh Subakir di Gunung Balak, Pakis Kulon.
“Saya sebelumnya tidak tahu kalau ada Petilasan Syekh Subakir di Gunung Balak, Pakis Kulon. Yang banyak orang tahu itu di Gunung Tidar. Waktu mencari di Google Maps juga yang muncul hanya Gunung Balak, bukan Petilasan Syekh Subakir,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebelum penataan dilakukan, kawasan Petilasan Syekh Subakir masih minim penunjang informasi bagi pengunjung. Belum tersedia papan informasi yang menjelaskan sejarah dan tradisi kawasan maupun petunjuk arah menuju lokasi petilasan. Kondisi ini membuat pengunjung dari luar daerah harus mengandalkan informasi dari masyarakat sekitar untuk menemukan dan mengenali keberadaan petilasan.

Menurut tradisi lisan masyarakat setempat, Gunung Balak memiliki keterkaitan dengan kisah perjalanan dakwah Syekh Subakir di Tanah Jawa. Kawasan tersebut juga menyimpan cerita mengenai Pusaka Kalimasada yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari nilai budaya masyarakat Dusun Pakis Kulon.
Nilai budaya Gunung Balak juga masih hidup melalui tradisi Sadranan yang dilaksanakan pada bulan Suro. Tradisi berupa doa bersama tersebut telah berlangsung dari tahun ke tahun dan dihadiri masyarakat dari berbagai daerah.
Keberadaan tradisi tersebut menunjukkan bahwa Gunung Balak tidak hanya memiliki nilai sejarah dan religi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat dalam mempertahankan tradisi dan budaya setempat.
Pemasangan papan informasi sejarah dan petunjuk arah menjadi salah satu langkah dalam penataan kawasan sekaligus memperkenalkan Petilasan Syekh Subakir kepada masyarakat dari luar daerah. Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk keterlibatan generasi muda dalam merawat dan mengenalkan warisan sejarah serta budaya.
Salah satu anggota Karang Taruna Pakis Kulon, Ilham Fernanda, menyampaikan harapannya terhadap penataan kawasan tersebut.
“Kami berharap dengan adanya papan sejarah dan petunjuk arah ini, masyarakat dari luar daerah bisa lebih mudah menemukan Gunung Balak sekaligus mengenal sejarah dan tradisi yang ada di sini,”
Kolaborasi antara mahasiswa KKN PPM UMBY dan pemuda setempat diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan wisata religi Syekh Subakir-Gunung Balak secara berkelanjutan. Pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemudahan akses bagi pengunjung, tetapi juga tetap memperhatikan sejarah, tradisi, dan nilai budaya masyarakat Pakis Kulon.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda