MANGGARAI TIMUR, JurnalPost.com – Keceriaan kembali terlihat di tengah suasana pengungsian anak-anak penyintas gempa bumi Flores di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada Sabtu, 5 September 2026, anak-anak menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur dan relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) yang terus memberikan pendampingan selama mereka berada di lokasi pengungsian.
Ucapan terima kasih itu disampaikan setelah anak-anak menerima bantuan buku Iqra yang diberikan para donatur untuk mendukung kegiatan belajar mengaji. Buku-buku tersebut dikirim melalui relawan Fuad Rofiq dan kemudian dibagikan kepada anak-anak yang mengikuti bimbingan belajar serta pendampingan psikososial di Posko UAR Dusun Waso.
“Terima kasih kepada donatur dan relawan UAR yang telah baik kepada kami, memberikan buku Iqra untuk belajar mengaji Al-Qur’an dan madu saset untuk kesehatan,” ujar anak-anak yang didampingi relawan psikososial Bunda Heni bersama relawan lainnya di Posko UAR Dusun Waso.
Sebelumnya, pada Kamis, 3 September 2026, anak-anak terdampak gempa di lokasi pengungsian juga telah menyampaikan ucapan terima kasih melalui Ketua UAR Korwil NTT kepada berbagai pihak yang memberikan bantuan.
Apresiasi tersebut ditujukan kepada instansi pemerintah, lembaga swasta, komunitas, maupun individu yang ikut mendukung keberlangsungan pelayanan pendidikan serta kegiatan trauma healing bagi anak-anak di tenda pengungsian.
Belajar Mengaji di Tengah Pengungsian
Di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana, relawan UAR tetap berupaya menjaga aktivitas pendidikan anak-anak. Kegiatan belajar mengaji dan membaca Al-Qur’an dilakukan di tenda pengungsian maupun musala darurat.
Pendampingan tersebut menjadi salah satu cara agar rutinitas pendidikan dan pembinaan keagamaan anak-anak tetap berlangsung meskipun mereka masih harus menjalani kehidupan di lokasi pengungsian.
Relawan psikososial UAR, Bunda Heni, mengatakan kegiatan yang dilakukan tidak hanya diarahkan pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membangun kebiasaan positif, kedisiplinan, dan penanaman adab kepada anak-anak.
Anak-anak yang konsisten mengikuti kegiatan mengaji juga diberikan apresiasi sederhana berupa madu dari tim terapis sebagai penghargaan atas semangat mereka.
“Buku Iqra kami berikan kepada anak-anak yang belum punya. Mereka juga kami beri madu saset dan uang Rp2.000 sebagai reward karena mereka sudah konsisten mengaji bersama kami,” ujar Bunda Heni.
Puluhan Anak Antusias Ikuti Kegiatan Kebersihan
Pendampingan terhadap anak-anak penyintas gempa juga dilakukan melalui kegiatan sederhana yang berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan, salah satunya pemeriksaan serta pemotongan kuku.
Menurut Bunda Heni, sedikitnya 56 anak mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias.
Bagi anak-anak, kegiatan sederhana itu ternyata memberikan pengalaman menyenangkan. Selain kuku menjadi lebih bersih, mereka juga mendapatkan pujian dan apresiasi karena berani mengikuti kegiatan serta menjaga kebersihan diri.
“Beberapa anak malah datang ke tenda meminta dipotong kuku kaki karena katanya dipotong Bunda tidak sakit,” tutur Bunda Heni melalui pesan singkat, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, perhatian sederhana terhadap kebersihan anak ternyata mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri di tengah situasi pengungsian.
Meskipun tidak selalu mendapatkan hadiah berupa uang atau makanan, anak-anak tetap menunjukkan kegembiraan ketika memperoleh pujian karena telah menjaga kebersihan tubuh mereka.
Tanamkan Harapan dan Keteguhan Hati
Selain pendidikan dan kegiatan psikososial, relawan UAR juga memanfaatkan waktu bersama anak-anak untuk menanamkan nilai-nilai akhlak, kemandirian, serta keteguhan hati dalam menghadapi kondisi pascabencana.
Anak-anak diajak memahami bahwa menjadi penyintas bencana tidak berarti harus kehilangan harapan ataupun semangat menjalani kehidupan.
“Saya menanamkan bahwa saat keadaan kita lemah seperti sekarang, kita harus tetap yakin Allah memberi rezeki. Kita tidak boleh melemahkan diri dengan tangan di bawah atau selalu mengharap pemberian orang,” kata Bunda Heni.
Dalam kesempatan berkumpul bersama, anak-anak juga diajak mempelajari doa untuk kedua orang tua serta memahami pentingnya menghormati dan menyayangi ayah dan ibu.
Bunda Heni mengingatkan anak-anak agar tetap berbakti dan mendoakan orang tua, termasuk ketika mendapat teguran atau hukuman karena melakukan kesalahan.
“Kita tetap harus sayang kepada orang tua, mendoakan mereka dan tidak boleh marah atau menyimpan dendam kepada ayah maupun mamah,” ujarnya.
Pendampingan yang dilakukan relawan UAR menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, kesehatan, dan tempat tinggal.
Anak-anak penyintas juga membutuhkan keberlanjutan pendidikan, perhatian, pendampingan psikososial, serta pembinaan karakter agar tetap memiliki rasa aman, semangat belajar, dan harapan untuk menjalani kehidupan setelah bencana. [AM]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda