MANGGARAI TIMUR, JURNALPOST – Di tengah kondisi pengungsian pascagempa bumi, anak-anak di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap mendapatkan ruang untuk belajar, bermain, dan menjalankan aktivitas keagamaan.
Pada Sabtu sore (22/8/2026), puluhan anak mengikuti kegiatan belajar membaca Al-Qur’an di bawah tenda pengungsian yang juga difungsikan sebagai Posko Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR).
Kegiatan tersebut dipandu oleh dua relawan UAR Korwil NTT, Ihsan Annuha dan Mahmud Nolowala. Keduanya membimbing anak-anak yang terdampak gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Dengan penuh kesabaran, para relawan mendampingi anak-anak mengenal huruf hijaiyah melalui IQRA hingga belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Meski berada dalam situasi pengungsian, anak-anak terlihat antusias mengikuti pembelajaran di bawah tenda BNPB yang menjadi Posko UAR di Dusun Waso.
Mahmud Nolowala mengatakan kegiatan mengaji direncanakan berlangsung secara rutin setiap sore selama masa tanggap darurat.
“Alhamdulillah, anak-anak yang mengungsi di Dusun Waso sangat antusias belajar mengaji Al-Qur’an, dimulai dari belajar IQRA. Insya Allah, kegiatan bimbingan mengaji ini akan dilakukan setiap sore,” kata Mahmud melalui rekaman video yang dibagikan pada Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, antusiasme anak-anak menjadi penyemangat bagi para relawan untuk terus menghadirkan kegiatan positif bagi penyintas gempa. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pendidikan dan pembinaan keagamaan anak-anak selama berada di pengungsian.
UAR Siapkan Layanan Terapi Bekam
Selain memberikan pendampingan kepada anak-anak, relawan UAR juga menyiapkan layanan kesehatan berupa terapi bekam bagi warga terdampak.
Pada hari yang sama, Mahmud menyalurkan amanah donatur untuk membeli sejumlah perlengkapan yang diperlukan dalam layanan bekam sebagai bagian dari pelayanan thibbun nabawi.
“Alhamdulillah, donasi Bapak dan Ibu semuanya sudah kami belanjakan untuk keperluan perbekaman. Di antaranya tisu basah dan kering, sarung tangan, masker, alkohol, kantong plastik, dan karpet alas bekam,” ujarnya.
Mahmud berharap layanan tersebut dapat membantu menjaga kondisi kesehatan masyarakat terdampak selama menjalani kehidupan di tempat pengungsian.
“Semoga setelah menjalani terapi bekam para korban sehat kembali, sehingga lebih meningkat keimanan dan ketakwaannya, tetap semangat dalam menjalani kehidupan di pengungsian,” tambahnya.
UAR Perluas Pelayanan di Lokasi Gempa
UAR mulai menerjunkan relawan sejak pemerintah menetapkan status tanggap darurat bencana. Pada Minggu (16/8/2026), sebanyak tujuh personel UAR Korwil NTT yang dipimpin Daud Masang bergerak memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah.
Berdasarkan hasil asesmen lapangan, relawan kemudian menentukan dua wilayah sebagai pusat pelayanan untuk memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat.
Di Kabupaten Sikka, posko pelayanan dipusatkan di Masjid Al-Muhajirin, Perumahan Maumere. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur, kegiatan kemanusiaan berpusat di Posko UAR Dusun Waso, Desa Satar Kampas.
Sejak hari kedua pascabencana, relawan telah menyalurkan berbagai kebutuhan dasar kepada warga. UAR juga turut mendistribusikan air bersih ke tenda-tenda pengungsian di Stadion Gelora Samador bersama Palang Merah Indonesia (PMI).
Selain itu, relawan terlibat dalam kegiatan membersihkan puing-puing masjid, memberikan layanan bekam bagi warga terdampak, serta mendukung pemulihan mental penyintas bersama Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP).
Pengurus pusat UAR juga berencana menambah jumlah personel di daerah terdampak, termasuk melibatkan relawan UAR Muslimat. Penambahan tim tersebut diharapkan dapat memperluas pelayanan berupa tenaga kesehatan, dukungan psikososial, serta berbagai bentuk bantuan kemanusiaan lainnya sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Bagi UAR, keterlibatan relawan dalam penanganan bencana tidak hanya menjadi bentuk kepedulian kemanusiaan, tetapi juga sarana meningkatkan kapasitas personel serta semangat pengabdian. Karena itu, seluruh anggota di tingkat koordinator wilayah maupun daerah terus didorong untuk selalu siap siaga, cepat merespons, dan tangguh dalam menghadapi situasi kebencanaan.
[AM]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda