JurnalPost, Jakarta – Di tengah padatnya aktivitas Jakarta, sebuah rumah tua di kawasan Kramat, Senen, Jakarta Pusat, menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda. Bukan hanya soal makanan, Warung Roekoen membawa pengunjung menikmati suasana rumah klasik berusia lebih dari satu abad dengan jejak budaya Tionghoa yang masih terasa kuat.
Berlokasi di Jalan Kramat Pulo Dalam 1 No. B72, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Warung Roekoen menempati sebuah bangunan lama yang sekilas terlihat seperti rumah keluarga biasa. Namun ketika memasuki bagian dalam, pengunjung akan menemukan berbagai koleksi barang antik, porselen, lukisan, lampion, hingga dekorasi klasik yang menghadirkan atmosfer masa lampau.
Nama “Roekoen” merupakan kependekan dari “Roemah Koenoe”. Nama itu mencerminkan konsep utama tempat tersebut, yakni mempertahankan suasana rumah lama sekaligus menjadikannya ruang yang tetap hidup dan digunakan hingga sekarang.
Perpaduan arsitektur lama, ornamen Tionghoa dan sedikit sentuhan Eropa membuat pengunjung seolah sedang bertamu ke rumah keluarga yang telah dihuni selama beberapa generasi. Berbagai benda vintage yang memenuhi ruangan pun memperkuat kesan nostalgia.
Bermula dari Kos Khusus Perempuan
Warung Roekoen didirikan pada 29 April 2024 oleh Dade, 62 tahun, bersama istrinya. Sebelum menjadi tempat makan yang terbuka untuk umum, bangunan tersebut lebih dahulu dimanfaatkan sebagai kos khusus perempuan bernama Koes Roekoen.
Ide mendirikan warung berawal dari kebiasaan penghuni kos yang kerap mencari makanan ringan.
“Sebelumnya saya membuat kos premium khusus perempuan. Anak-anak perempuan biasanya suka ngemil, jadi saya berpikir kenapa tidak dibuat warung di bawah. Awalnya memang hanya untuk anak-anak kos,” kata Dade kepada Xinhua saat ditemui pada 15 Agustus 2026.
Pada tahap awal, menu yang disediakan masih sederhana, berupa makanan rumahan serta berbagai camilan untuk memenuhi kebutuhan penghuni kos.
Namun perlahan, keberadaan warung tersebut mulai diketahui masyarakat sekitar. Pengunjung dari luar mulai datang, tidak hanya karena makanannya, tetapi juga karena tertarik dengan suasana unik bangunan tua tersebut.
“Awalnya memang untuk kebutuhan anak kos. Lama-kelamaan orang dari luar mulai datang. Mungkin penasaran dengan tempat dan makanannya. Akhirnya bukan hanya penghuni kos yang datang,” ujar Dade.
Dari konsep sederhana tersebut, Warung Roekoen kemudian berkembang menjadi tempat makan yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Dade, pemilik Warung Roekoen, berpose di dekat meja makan antik di Warung Roekoen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, 15 Agustus 2026. (Xinhua/Poppy Amelia S.)
Rumah Berusia Lebih dari 100 Tahun
Salah satu daya tarik utama Warung Roekoen terdapat pada bangunan yang digunakannya. Rumah tersebut merupakan warisan keluarga istri Dade dan dibangun oleh kakek sang istri lebih dari satu abad lalu.
Karakter bangunan lama masih dipertahankan. Alih-alih mengubah seluruh bagian menjadi bergaya modern, keluarga memilih mempertahankan berbagai unsur asli yang menjadi identitas rumah.
“Bangunan ini peninggalan keluarga istri saya. Dibangun oleh kakeknya istri. Umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Jadi memang sejak dulu rumahnya seperti ini, bukan sengaja dibuat baru agar terlihat tua,” kata Dade.
Di setiap sudut rumah, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi bernuansa Tionghoa, mulai dari guci, keramik, porselen, piring antik, lukisan, lampion hingga kuplet.
Sejumlah koleksi barang antik dan dekorasi bernuansa Tionghoa menghiasi Warung Roekoen di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, 15 Agustus 2026. (Xinhua/Poppy Amelia S.)
Sebagian besar benda tersebut berasal dari keluarga Dade maupun keluarga istrinya. Ada pula koleksi yang diberikan oleh anggota keluarga atau dibeli sendiri oleh Dade.
“Barang-barang di sini banyak yang memang milik keluarga. Ada milik saya, ada pula yang diberikan keluarga lainnya. Semua kami kumpulkan dan dimanfaatkan,” jelasnya.
Keberadaan benda-benda tersebut tidak hanya menjadi dekorasi, tetapi juga menyimpan bagian dari perjalanan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sajikan Masakan Rumahan yang Mengingatkan Masa Kecil
Selain interiornya, Warung Roekoen juga mengandalkan konsep kuliner rumahan.
Dade mengatakan, sejumlah makanan yang disajikan merupakan menu yang akrab dengannya sejak kecil. Karena itu, ia tidak berusaha menjadikan Warung Roekoen sebagai tempat makan yang mengutamakan hidangan mewah.
“Kalau makanan, saya memang ingin makanan rumahan. Ini makanan yang dulu saya makan waktu kecil. Bukan makanan mewah, tetapi makanan yang memang biasa kita makan di rumah,” katanya.
Dade ingin setiap pengunjung merasa seperti sedang menyantap makanan di rumah sendiri.
“Saya ingin orang yang datang merasa seperti makan di rumah. Makanannya sederhana, tetapi justru itu yang enak. Yang penting mereka nyaman dan ingin kembali,” lanjutnya.
Pilihan menunya cukup beragam. Pengunjung dapat menikmati nasi uduk, nasi ulam, lontong, mi keriting bakso pangsit lada hitam, nasi goreng kampung dadar, hingga dimsum.
Untuk minuman tersedia es kopi gula aren, aneka jus, es teh susu hingga es bunga telang jeruk soda. Warung Roekoen juga menyediakan camilan seperti pempek, tempe mendoan, donat dan roti bakar.
Sebagian besar menu ditawarkan dengan harga sekitar Rp30.000.
Daftar menu yang tersedia di Warung Roekoen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Foto diambil 15 Agustus 2026. (Xinhua/Poppy Amelia S.)
Jadi Lokasi Favorit untuk Berfoto
Keunikan interior Warung Roekoen juga membuat tempat tersebut menarik bagi pengunjung yang ingin berfoto.
Dade menyebut warungnya relatif ramai terutama pada akhir pekan serta hari libur. Saat perayaan Imlek, jumlah pengunjung biasanya meningkat.
Sebagian bahkan datang menggunakan busana cheongsam serta membawa berbagai properti seperti kipas lipat dan lampion kecil untuk mendukung sesi pemotretan.
“Biasanya mereka sudah membawa properti sendiri. Ada yang memakai cheongsam, membawa kipas lipat, lampion kecil dan perlengkapan lain. Mereka datang menikmati suasananya sekaligus berfoto,” katanya.
Salah seorang pengunjung, Dian, 32 tahun, mengaku menyukai karakter klasik Warung Roekoen.
“Saya sangat suka suasananya. Klasik dan penuh nostalgia, jadi terasa berbeda dari tempat lain. Cocok untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga dan bagus juga untuk foto-foto,” ujarnya.
Tidak hanya untuk foto santai, Warung Roekoen juga beberapa kali digunakan sebagai lokasi foto tahunan sekolah, pre-wedding, hingga perayaan ulang tahun.
Untuk kegiatan khusus, pengunjung umumnya datang sejak sekitar pukul 09.00 WIB sebelum warung mulai dipadati pelanggan.
“Kalau acara khusus biasanya mereka datang pagi, sekitar jam sembilan. Jadi sebelum warung ramai, kegiatan sudah dimulai atau selesai. Supaya tidak mengganggu pengunjung yang ingin makan,” jelas Dade.
Menariknya, Dade tidak memungut biaya sewa khusus bagi pengunjung yang ingin menggunakan tempat tersebut untuk pemotretan.
“Tidak ada sewa tempat. Mau foto tahunan sekolah, pre-wedding atau ulang tahun silakan. Yang penting pesan makanan dan minuman dari sini,” katanya.
Perpustakaan mini menjadi salah satu sudut yang dapat ditemukan di Warung Roekoen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, 15 Agustus 2026. (Xinhua/Poppy Amelia S.)
Tumbuh Bersama Lingkungan Sekitar
Selain menjaga bangunan dan suasana, Dade juga menekankan pentingnya pelayanan, kebersihan dan keramahan terhadap pengunjung.
Para pekerja di Warung Roekoen berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian di antaranya berasal dari lingkungan pesantren milik keluarga Dade, sementara lainnya merupakan warga sekitar.
Dengan demikian, keberadaan Warung Roekoen juga turut menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Lebih dari sekadar tempat makan, Warung Roekoen menjadi bagian dari perjalanan sebuah rumah keluarga yang terus beradaptasi mengikuti zaman.
Bangunan berusia lebih dari 100 tahun tersebut pernah berfungsi sebagai rumah keluarga, kemudian kos perempuan, dan kini menjadi tempat makan yang mempertahankan jejak sejarah serta budaya Tionghoa di tengah perubahan wajah Jakarta.
Seorang pramusaji mengantarkan minuman kepada pelanggan di Warung Roekoen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, 15 Agustus 2026. (Xinhua/Poppy Amelia S.)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda