Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Warna Warni Diskriminasi Lembaga Pendidikan Masa Kini

Warna Warni Diskriminasi Lembaga Pendidikan Masa Kini

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
27 Februari 2021, 15.41 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
10 menit baca
Warna Warni Diskriminasi Lembaga Pendidikan Masa Kini

JURNALPOST - Bukan sandiwara lagi, inilah realita yang ada di lembaga pendidikan Indonesia. Entah sekedar membiasakan atau memang sudah tradisi. Hingga saat ini terus saja berlanjut tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan diskriminasi. Yang pada dasarnya dilakukan terhadap anak keluarga kurang mampu atau masyarakat miskin. Seringnya anak menjadi tidak bisa sekolah dan melanjutkan pendidikan karena terkendala biaya. Tidak kurang anak kehilangan masa depannya hanya karena tidak mampu membayar biaya sekolah yang ditetapkan pemerintah. Namun menghadapi kenyataan ini seharusnya ada kebijakan yang lebih akurat terkait biaya dan masa depan anak.

Pada kenyataanya, setiap manusia membawa potensi masing-masing yang apabila dibimbing dan dikembangkan oleh lembaga pendidikan bisa membawa pengaruh dan perubahan yang besar. Namun itu tidak dilihat, tidak pula dipertimbangkan semata-mata karena tidak mampu melunaskan biaya pendidikan.

IKLAN

Banyak yang berpotensi rendah, tidak memenuhi syarat kelulusan dalam suatu lembaga, namun berhasil diluluskan karena orang tuanya mampu memberi bayaran yang serupa atau bahkan lebih dari itu. Akibatnya, pendidikan mayorits dipenuhi oleh orang-orang gengsi bukan yang berprestasi. Berangkat dari sana, banyak yang belajar ogah-ogahan dengan pikiran tidak akan ada apa-apa, jikapun terjadi bisa diseleseikan dengan mata uang saja. Alhasil, tumbuhlah generasi-generasi yang bermental materi dan pemelihara otak anyar alias otak baru yang belum pernah atau jarang dipakai.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Sungguh ironis bukan??, namun itulah realita. Sebagai putra-putri Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Seharusnya ada kebijakan atau terobosan untuk membela anak keluarga miskin untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka yang terbilang miskin, yang tidak mampu mengeluarkan bayaran terpaksa mengubur cita-cita hanya karena kurang mendapat perhatian pemerintah. Sering kali dikatakan bahwa, “bayaran tersebut tidak begitu mahal, mustahil tidak bisa memenuhi”, iya, murah dan kecil bagi yang mampu dan yang biasa mempunyai uang lebih dari itu. Namun tidak bagi yang sebaliknya, ada yang jangankan untuk mengeluarkan uang untuk bayaran sekolah, untuk makan sehari-hari pun terbilang susah. Tapi adakah pemerintah yang peduli akan hal ini ??

Lalu untuk fenomena semacam ini, warga Indonesia harus mengadu dan meminta bantuan kepada siapa?? Sementara hak dan kewajiban mereka ada di negara mereka sendiri. Mustahil untuk bisa sekolah di negeri sendiri harus meminta bantuan kepada negara lain. Sedangkan Indonesia terkenal kaya dan subur. Tidak mampu kah dan tidak bersedia kah Indonsia membantu dan mengayomi warganya sendiri??

Diskriminasi ini bukan halusinasi, melainkan sudah menjadi momok dalam jiwa anak negeri. Bersaing sehat dengan potensi sudah jarang terjadi, disebabkan pendidikan hanya untuk mendapat materi. Dikatakan pada mereka sebagai rakyat jelata, “bisa saja kalian sekolah sambil bekerja, seperti menjadi asisten rumah tangga dan kerja paruh waktu lainnya”. Wow, haruskah?? harukah anak negeri menjadi babu di negeri sendiri untuk bisa mendapatkan hak sebagai penerus generasi??. Dan benarkah hanya pekerjaan yang demikian yang pantas untuk anak negeri, sementara pekerjaan yang bergengsi hanya bisa diampu oleh yang dari luar negeri?? Atau hanya bisa dikerjakan oleh yang menurut kalian berprestasi??

Padahal tidak sebenarnya, mereka juga punya potensi. Hanya saja kalian belum pernah melihatnya dan mereka tidak mendapat wadah untuk mengembangkannya. Cobalah untuk tidak mendiskriminasi, berikan peluang dan kesempatan kepada mereka. Berikan ketenangan dan kenyamanan untuk meraih prestasi, karena seharusnya negeri tidak menjadi sekejam ini.

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Penderitaan yang hanya bisa dirasakan oleh yang merasakan. Yang mana cita-cita hanya menjadi sebuah harapan. Untuk bergerak dan bertindak membutuhkan banyak pertimbangan, sebab suara dan aspirasi sering tidak didengarkan.

Beginilah derita di negeri sendiri, tenggelam dalam diskriminasi sudah menjadi tradisi. Yang berpotensi dianggap tidak berfungsi bila sudah di salib oleh yang punya materi. Semua ini perlu kebijakan afirmasi untuk kelompok marginal atas diskriminasi pendidikan yang dialami. Kebijakan-kebijakan pemerintah sangat diperlukan agar supaya anak bangsa bisa menggapai cita-cita dan mewujudkan mimpi. Sebab perbedaan ini menjadi penjara bagi perkembangan potensi dan prestasi yang mereka miliki.

Tidak bisakah menyadari pentingnya pendidikan untuk generasi ? Bisakah tidak menganggap pendidikan sebagai ladang materi ? Akan bagaimana nasib negeri ini nanti jika pendidikan terus-menerus melahirkan generasi tanpa potensi ? Sementara hidup bukan untuk menebar gengsi melainkan ditempa dan diciptakan yang Maha Kuasa agar bermanfaat untuk agama dan bangsa. Karena hakekatnya barometer potensi bukanlah gengsi, melainkan nilai yanng bermakna dimata dunia sertta Sang Pencipta.

Setiap anak Indonesia harusnya bahagia dengan bisa menempuh pendidikan sebagai bekal untuk menggapai cita-cita, karena dengan pendidikan anak mampu tumbuh dengan percaya diri dan bergerak sesuai jati diri. Dikarenakan dalam pendidikan diberi ilmu pengetahuan serta didikan kepribadian. Yang tentunya kedua hal itu sangat berpengaruh bagi semua orang untuk menjalani aktivitas disetiap lini kehidupan.

Asap Negara
Baca Juga

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Untuk mencetak generasi unggul sebagai sumber daya manusia yang berkualitas, pendidikan memegang peranan yang sangat penting. Sebab pendidikan bertugas memberikan pelayan-pelayanan prima kepada setiap warga negara demi mewujudkan cita-cita bangsa. Pelayanan tersebutkah yang perlu dibagikan secara merata. Tidak boleh terkotak-kotak ataupun hanya diberikan kepada orang tertentu saja. Memang jika dilihat dari cabang pendidikan, anak-anak bisa belajar tentang adab dan akhlak serta beberapa cabang ilmu penegathuan di lingkungan keluarga dan masyarakat dari pengalaman dan pengetahuan orang tua mereka atau masyarakat sekitar. Namun untuk mempelajari yang lebih dari itu, seperti pelajaran tentang mencintai kebangsaan dan memperbaiki zaman tidak bisa didapatkan dengan hanya belajar di lembaga pendidikan informal dan nonformal.

IKLAN

Disinilah peran terbesar lembaga pendidikan formal. Untuk mengajarkan lebih detail dan menyeluruh tentang tata cara menghadapi kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi kemajuan dan kemakmuran negara menjadi tugas generasi. Maka sangat jelas bahwa setiap anak wajib mendapatkan hak mengenyam pendidikan di negeri ini. Tujuan pendidikan pun sudah jelas, dan bagaimana cita-cita bangsa sudah tertulis dan disahkan sejak Indonesia merdeka.

Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencetak generasi yang cerdas, berilmu, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia Agar menjadi insan kamil yang berguna bagi bangsa dan agama. Undang-undang tersebut juga menjelaskan bahwa pendidikan wajid diselenggarakan dengan prinsip yang demokratis, berkeadian dan tidak mendiskriminasi, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, nilai kultural, nilai kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistematik yang lebih terbuka dan multimakna. Serta menjujnjung tinggi hak asasi manusia. Pendidikan juga wajib diselenggarakan dengan penuh kesadaran untuk membudayakan dan memberdayakan generasi dengan terus memberikan pelayanan sepanjang hayat.

Untuk mencapai hal itu, tentu saja tidak bisa jika hanya narasi belaka. Harus ada perwujudan tindakan sesuai dengan yang sudah ditetapkan sebagai tujuan dari pendidikan. Terlebih makna yang tertuang dalam sila pancasila tersebut merupakan cita-cita bangsa, maka tentu saja diperlukan pembuktian kebijakan-kebijakan yang relevan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Seharusnya ada upaya ataupun kebijakan dari pemerintah agar lebih aktif dalam memperhatikan keadaan pendidikan. Mencari tahu dan melihat bagaimana sebenarnya kualitas pendidikan di negara ini. Perlu sekali-kali melihat data setiap penduduk yang ada, agar tahu apakah pendidikan sudah terbagi rata kepada setiap warga negara atau tidak. Karena kembali lagi kepada pemahasan awal, pendidikan di Indonesia seolah-olah hanya diperuntukkan bagi mereka yang punya finansial tinggi, yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam masalah keuangan. Sehingga mereka mudah saja untuk masuk ke lembaga pendidikan yang diinginkan meski tercatat tidak memenuhi syarat.

Seharusnya biaya pendidikan bisa mengusung ketenangan untuk warga negara. Karena untuk mencetak generasi tidak bisa dipandang sebelah mata. Ada yang mampu secara finansial namun tidak memenuhi syarat pendidikan, ada yang tidak mampu secara finansial namun bisa memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan pendidikan. Jadi akan lebih baik apabila pendidikan tidak hanya dibataskan pada pencarian materi. Sebab sesungguhnya hakekat pendidikan didirikan untuk mencetak generasi agar bisa menjadi pembela dan mampu mengusung negara Indonesia ke gerbang kemakmuran. Selain itu diharapkan supaya Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara Asia bahkan diseluruh dunia.

Sebagaimana cita-cita bangsa dalam sila kedua pancasila. Yakni menjadikan manusia yang adil dan beradab. Artinya, setiap warga negara wajib mendapat hak pendidikan tanpa terkecuali. Namun sesuai realita, tidak semua warga negara mampu membayar biaya pendidikan sebab pemerintah menetapkan harga yang relatif tinggi. Menanggapi hal itu, perlu kesadaran pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang layak dibidang pendidikan. Karena pendidikan bukan ladang bisnis, melainkan organisasi negara yang wajib diberikan kepada setiap warga negara Indoneisa. Untuk mewujudkan cita-cita bangsa perlu adanya perubahan kebijakan, kemudian ber usaha menerapkan sila kelima sebagai bukti cinta kepada bangsa Indonesia. Yakni memberikan hak warga negara dengan adil dan menyeluruh tanpa mendiskriminasi dalam lembaga pendidikan.

Berkaca pada negar-negara maju, maka tampak jelas bahwa mereka sangat memprioritaskan pendiidikan untuk warganya tanpa pilah-pilih. Sebab merek paham akan penringnya pendidikan untuk generasi. Apabila setiap warga mendapat hak pendidikan dan menjalankan tugas serta kewajiban sebagai pelajar, maka dikemudian akan membawa dampak dan perubahan yang besar terhadap bangsanya.

Di lembaga pendidikan pelajar diarahkan untuk bisa mengembangkan potensi, mengasah kemampuan serta pendidikan akhlak dan perbekalan wawasan yang nantinya akan sangat diperlukan ditengah-tengah masyarakat. Dengan menekuni tugas dan kewajiban sebagai warga negara maka pelajar akan memahami tindakan dan sikap yang harus dilakukan untuk menjalankan kehidupan serta menghadapi tantangan zaman.

Jika anak-anak tidak pernah mengikuti pendidikan mereka tidak akan tahu cara menghadapi arus kehidupan. Mereka tidak mengetahui cara menghasah kemampun dan mengembangkan potensi. Meskipun mungkin mereka banyak belajar dilingkungan pendidikan informal dan non formal, tapi itu belum cukup. Karena memang di lembaga pendidikan formal anak-anak akan mendapat ilmu pengetahuan luas, pengalaman serta dukungan untuk mengasah kemampuan dan mengembangkan potensi. Dengan begitu diharapkan anak-anak akan menjadi siswa yang berprestasi untuk negeri. Anak-anak yang mampu mengusung negara Indonesia ke gerbang kemakmuran, mengubah kehidupan bangsa agar mampu bersaing dengan negara-negara maju itulah yang diharapkan dari para generasi. Jika disadari sebenarnya itulah yang menjadi cita-cita bangsa yang sudah tertuang dalam Undang-Undang dan pancasila.

Maka diskriminasi yang sudah menjadi tradisi dan budaya di negeri ini sebaiknya segera diakhiri. Kondisi buruk saat ini sangat mengancam nasib negara yang kemungkinan besar akan membuat Indonesia semakin tertinggal dari negara lain. Karena setiap hari revolusi zaman terus berlanjut, mereka yang ada di negara-negara maju selalu melahirkan karya-karya besar sebagai wujud prestasi dari para generasi.

Jika anak-anak Indonesia masih didiskirimanasi dan ada yang tidak mengeyam pendidikan, mereka tidak akan pernah tau bagaimana cara menghadapi tantangan zaman. Bisa dipastikan anak-anak indonesia selamanya hanya menjadi penonton karya-karya besar dari negara lain. Bahkan mirisnya, bisa saja anak Indonesia selamanya hanya berimitasi terhadap produk yang diciptakan oleh orang-orang dari negara dibelahan dunia sana.

Oleh : Nesta Lestari (Writer and Educational Blogger)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/warna-warni-diskriminasi-lembaga-pendidikan-masa-kini/18319/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 02.26 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 2

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. K
    Karina 27 Februari 2021 17.49 WITA
    Penomena apo fenomena
  2. N
    Nesta Lestari 28 Februari 2021 01.35 WITA
    Fenomena yuk. Hehe

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Pilihan Editor

  1. 1 Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso
  2. 2

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  3. 3

    UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. 4

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  5. 5

    Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.