JurnalPost.com - Sebagai agama mayoritas di Indonesia, Islam telah banyak mempengaruhi berbagai aspek kehidupan baik secara sosial maupun politik. Pada era pemerintahan Soekarno, Islam telah menempati posisinya dengan ikut berkontribusi dalam aktivitas politik melalui pembentukan organisasi seperti Partai Masyumi, Muhammadiyah, dan NU (Nahdlatul Ulama). Meskipun pada masa itu, peran Islam tidak begitu signifikan dan mengalami pasang surut mengikuti arus pergolakan politik, setidaknya ini membuktikan bahwa Islam telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah penting negara Indonesia.
Setelah kekuasaan Orde Lama berakhir, pergantian rezim pun terjadi yang diikuti oleh berbagai gejolak politik, Indonesia pernah mengalami fase sulit ketika krisis ekonomi pada 1997-1998 terjadi dan hal ini berimplikasi pada kondisi instabilitas yang menggangu berbagai aspek kehidupan. Fase demi fase terlewati hingga sampai pada era reformasi, perpolitikan Indonesia mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Pada tanggal 20 Oktober 2004, secara resmi Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi presiden RI ke-4 sekaligus menjadi presiden pertama yang dipilih secara langsung melalui proses demokrasi. Hal ini juga menandakan bahwa Indonesia berhasil mengalami konsolidasi demokrasi, kepemimpinan SBY membawa lembaran baru dengan membawa perubahan-perubahan yang progresif dalam bingkaian kebijakan yang dibuatnya.
Dalam kebijakan luar negeri, ia mengukuhkan kembali peran Indonesia di dunia internasional dengan mengedepankan diplomasi sebagai instrumen penting untuk menggapai tujuan. Indonesia telah diakui dunia sebagai negara Muslim terbesar dan hal ini menjadi identitas khas yang menjadi kekuatan dari bagaimana Islam hidup berdampingan di tengah demokrasi dan modernitas, maka terciptalah istilah Islam moderat yang bertujuan untuk mempromosikan nilai-nilai Islam yang damai dan toleran.
Peristiwa 9/11 yang terkait dengan terorisme dan isu radikalisme membuat citra Islam buruk di mata internasional, konsekuensi dari kondisi eksternal mengubah arah kebijakan luar negeri Indonesia untuk menangkal isu tersebut melalui kebijakan kontrateroris dan ikut secara aktif melalui forum-forum internasional. Tak hanya itu, organisasasi Muhammadiyah dan NU ikut berkontribusi dalam menangkal kelompok radikal dengan mempromosikan kajian Islam moderat, dialog antaragama juga dilakukan yang dicetuskan oleh Menlu Hassan Wirajuda melalui agenda Interfaith Dialogue dan Alliance of Civilization sebagai bagian dari diplomasi Indonesia yang menegaskan bahwa pemerintahan SBY ingin membangun harmonisasi global dan menempatkan wajah Islam dalam kebijakan luar negerinya. (Fanani, Ahmad Fuad, 2012).
Keanggotaan Indonesia diperkuat lagi melalui Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai wadah diskusi antar negara-negara Muslim baik dalam bidang keamanan, politik, dan ekonomi bahkan pada tiga tahun awal pemerintahannya, SBY banyak melalukan kunjungan ke negara-negara Timur Tengah seperti Arab, Qatar, Uni Emirat Arab dan lainnya untuk penguatan kerjasama ekonomi.
Indonesia juga menunjukan bentuk kepeduliannya terhadap isu-isu umat Muslim yang menunjukan peranannya sebagai jembatan antara Barat dan Timur dalam upaya menciptakan perdamaian dunia. Salah satunya mengenai isu Palestina, Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina yang sesuai dengan UUD 1945 bahwa segala bentuk penjajahan harus dihapuskan dan menjunjung tinggi penghormatan atas hak asasi manusia.
Bisa disimpulkan, bahwa faktor Islam dalam politik era SBY memainkan peran yang cukup signifikan setelah sebelumnya terpinggirkan. Promosi Islam moderat sebagai identitas nasional menjadikan Indonesia terus berkomitmen menyebarkan nilai-nilai Islam yang toleran baik di lingkup nasional maupun internasional. Sebagai negera Musim terbesar, Indonesia peduli terhadap isu-isu negara Muslim lainnya, dukungan terhadap Palestina menjadi salah satu kontribusi nyata dari bagaimana kebijakan luar negeri yang sesuai dengan prinsip-prisnip demokrasi berjalan.
Penulis: Devi Wulansari (Mahasiswi Hubungan Internasonal, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda