
Penulis: Rizki Ramadhan, M.Pd. Dosen Prodi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya
JurnalPost.com - Kolaborasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan University of York, Inggris, diwujudkan melalui pelatihan bagi 31 guru SMP di Kota Surabaya dalam pengembangan bahan ajar bahasa Inggris berbasis ekoliterasi.
Kegiatan bertajuk Workshop on Ecoliteracy through Extensive Reading for EFL Junior High School Teachers ini digelar pada Sabtu (20/1/2024) di Kampus 2 Unesa sejak pukul 09.00 hingga siang hari. Workshop ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada peningkatan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran inovatif.
Ketua tim pengabdian, Prof. Pratiwi Retnaningdyah, Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih perlunya pengembangan bahan ajar berbasis extensive reading di tingkat SMP, yang selama ini cenderung berfokus pada buku teks.
“Pembelajaran membaca di sekolah umumnya masih berpusat pada buku paket. Padahal, melalui extensive reading, siswa dapat belajar secara lebih mandiri, menemukan makna, serta memahami lingkungan sekitarnya melalui teks yang relevan,” ujar beliau.
Menurut Prof. Tiwi (begitu ia akrab disapa), pendekatan extensive reading memungkinkan siswa membaca secara luas dengan materi yang dekat dengan kehidupan mereka. Hal ini sekaligus mendorong munculnya pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning) yang lebih menyenangkan.

Workshop ini menghadirkan narasumber dari seluruh tim pengabdian kepada masyarakat, yakni Prof. Pratiwi Retnaningdyah, Ph.D., Dr. Ali Mustofa, S.S., M.Pd., Ahmad Munir, S.Pd., M.Ed., Ph.D., Dr. Him’mawan Adi Nugroho, M.Pd., Zainul Aminin, S.Pd., M.Pd., Wiwiet Eva Savitri, S.Pd., M.Pd., serta Riski Ramadhan, S.Pd., M.Pd., dan Andrzej Cirocki (Andy Cirocki), pakar dari University of York.
Andy Cirocki turut memberikan perspektif native speaker terkait praktik pembelajaran membaca yang efektif dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahasa asing.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan materi mengenai konsep extensive reading, pengembangan bahan ajar berbasis ekoliterasi, serta strategi implementasinya di kelas. Kegiatan juga dikemas secara interaktif melalui simulasi pembelajaran, diskusi kelompok, dan praktik penyusunan sintaks pembelajaran.
Workshop berlangsung di beberapa lokasi di lingkungan Fakultas Bahasa dan Seni Unesa, mulai dari ruang seminar hingga area terbuka seperti Laboratorium Merdeka milik Unesa, sehingga peserta dapat merasakan pengalaman belajar yang kontekstual dengan konsep ekoliterasi.
Hasilnya, berbagai bahan ajar yang dihasilkan dinilai inovatif dan relevan dengan isu lingkungan terkini. Materi tersebut tidak hanya memperkaya pembelajaran bahasa Inggris, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran ekoliterasi sejak dini pada siswa.

Salah satu peserta, Rinda Wulandari, S.Pd., M.Pd., dari SMP Negeri 2 Surabaya, mengaku kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran di kelas.
“Pelatihan ini memberikan wawasan tambahan untuk lebih kreatif dalam menyusun bahan ajar. Mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pembelajaran bahasa Inggris merupakan hal yang inovatif,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Rahdeesse B. Mustika Dewa, S.Pd., dari SMP Mardi Sunu. Ia menilai pendekatan yang diberikan mudah diterapkan dan sesuai dengan kebutuhan siswa saat ini.
“Dengan pelatihan ini, didapatkan sebuah alternatif metode yang lebih menarik dan kontekstual,” tegasnya.
Tim pengabdian juga menyoroti sejumlah tantangan dalam penerapan pembelajaran berbasis ekoliterasi, seperti keterbatasan bahan ajar yang relevan, akses teknologi, hingga rendahnya minat siswa terhadap isu lingkungan.
Melalui workshop ini, para guru didorong untuk mampu merancang materi yang lebih fleksibel, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari kerja sama internasional Unesa dengan pihak Inggris. Sebelumnya, Unesa memperoleh hibah UK-Indonesia Going Global Partnerships 2022 dan menjalin kolaborasi dengan University of York dalam pengembangan pendidikan literasi.
Prof. Tiwi berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi dunia pendidikan.
“Kami berharap para guru dapat mengembangkan bahan ajar yang tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa siswa, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini,” pungkasnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda