JurnalPost.com - Desa Tosari di Kabupaten Pasuruan menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar panorama: kearifan masyarakat Suku Tengger yang berjalan hingga saat ini. Tosari tidak hanya sebagai gerbang menuju kawasan wisata Gunung Bromo, tetapi menjadi ruang hidup, tempat budaya, spiritualitas, dan alam berpadu dalam harmoni. Makna keberlanjutan tidak hanya menjaga alam, tetapi juga menjaga manusia dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan dosen prodi Pariwisata UPN “Veteran” Jawa Timur pada 15 Oktober 2025 membuka pandangan baru tentang bagaimana Tosari bisa mengembangkan wisata berbasis kearifan lokal. Dalam diskusi yang melibatkan Bala Daun yang memiliki peran dalam pengelolaan pariwisata di Desa Tosari, disampaikan bahwa wisata di Tosari tidak hanya berpusat pada panorama Bromo, namun juga harus mengangkat identitas lokal dan memberi nilai tambah ekonomi bagi warga. Sehingga dikembangkanlah ide-ide baru seperti; workshop budaya, dan live-in experience bersama keluarga Tengger.
Konsep pariwisata berkelanjutan berbasis budaya lokal yang dikembangkan di Tosari menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, bukan sekadar objek wisata. Masyarakat Tengger memiliki sistem nilai yang menghormati alam dan mereka percaya gunung adalah bagian dari kehidupan, bukan sekadar latar pemandangan. Melalui pendekatan partisipatif, warga dan akademisi berupaya membangun pariwisata dari dalam, dengan mengangkat nilai-nilai yang telah lama dijaga: gotong royong, kesederhanaan, dan keseimbangan.
Meski potensinya besar, masyarakat Tosari masih menghadapi beberapa tantangan seperti; keterbatasan sumber daya manusia, literasi digital, dan belum adanya roadmap wisata berbasis budaya. Desa Tosari menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu bergantung pada proyek besar atau inovasi teknologi tinggi. Prinsip keberlanjutan justru tumbuh dari praktik keseharian masyarakat.
Nilai-nilai seperti ritual adat, semangat gotong royong, dan tradisi menjamu tamu dengan secangkir kopi di rumah warga menjadi wujud nyata dari harmoni antara manusia, budaya, dan alam. Melalui kebiasaan sederhana ini, masyarakat Tengger menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus memperkuat ikatan sosial yang menjadi fondasi utama bagi pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal dan berkelanjutan.
Penulis: Grace Sissela Marpaung
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda