JurnalPost.com - Bondowoso sebagai Republik Kopi kini mulai menegaskan posisinya sebagai destinasi ekowisata yang menggabungkan pertanian, edukasi, dan budaya. Melalui pengelolaan berbasis komunitas, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor utama dalam rantai ekonomi pariwisata. Kampung Kopi Kluncing yang terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso kini menjadi contoh nyata bagaimana wisata kopi tidak hanya sekadar perjalanan rasa, namun juga menjadi strategi ekonomi berbasis komunitas yang menghubungkan dunia dengan Desa Sukorejo.
Kampung Kopi Kluncing yang dikelola oleh Pokdariwis Ijen Murni, tidak hanya menyajikan cita rasa kopi khas lereng Ijen, kampung ini juga menghadirkan perjalanan belajar tentang proses produksi kopi mulai dari hulu hingga ke cangkir. Wisatawan diajak turun langsung ke kebun untuk memetik buah kopi, menyaksikan proses pascapanen, menyangrai biji, hingga belajar teknik penyeduhan bersama para petani lokal. Model wisata partisipatif ini memberikan nilai tambah yang besar, terutama bagi wisatawan asing yang datang mencari pengalaman otentik, edukatif, dan berkelanjutan.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dosen prodi Pariwisata dari UPN “Veteran” Jawa Timur menemukan bahwa wisatawan mancanegara dan lamanya waktu tinggal mereka memiliki peran paling besar dalam mendorong peningkatan pendapatan Kampung Kopi Kluncing. Hasil analisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan bahwa semakin lama wisatawan tinggal dan semakin banyak mereka terlibat dalam aktivitas berbasis kopi, semakin besar pula dampaknya terhadap ekonomi warga setempat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Ijen Geopark memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap pendapatan Kampung Kopi Kluncing, sementara wisatawan domestik cenderung memberikan dampak yang lebih kecil. Namun, bukan jumlah wisatawan yang menjadi kunci utama, melainkan kualitas interaksi dan durasi kunjungan. Wisatawan yang menginap lebih lama umumnya mengeluarkan lebih banyak pengeluaran, mulai dari akomodasi, kuliner, hingga produk lokal seperti kopi kemasan dan kerajinan tangan. Efek berganda (multiplier effect) dari pengeluaran ini mengalir ke berbagai lapisan masyarakat: petani, pemilik homestay, pelaku UMKM, hingga pemandu wisata muda desa.
Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pariwisata yang lebih berkualitas daripada kuantitas. Pemerintah daerah diharapkan fokus pada pengembangan paket wisata berbasis pengalaman, seperti coffee workshop, farm stay, dan storytelling tour, yang mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan berinteraksi lebih dalam dengan warga. Kopi Kluncing kini menjadi laboratorium hidup bagi konsep pariwisata berkelanjutan. Setiap cangkir kopi yang disajikan di Kluncing, wisatawan belajar tentang makna kerja keras petani, harmoni antara manusia dan alam, serta nilai ekonomi yang tumbuh dari rasa saling berbagi. Di balik aroma kopi yang menenangkan, tersimpan cerita tentang pemberdayaan, kreativitas, dan ketahanan ekonomi masyarakat desa.
Penulis: Grace Sissela Marpaung
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda