JurnalPost.com - Banyu Biru menjadi sumber air yang menjadi kebanggaan masyarakat Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Airnya yang jernih, dikelilingi pepohonan rindang, menawarkan kesejukan alami yang kini semakin langka. Setiap akhir pekan, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan lokal, terutama keluarga yang datang untuk berenang dan bersantai. Selain itu Banyu Biru dihuni oleh ratusan ikan sengkaring besar berwarna keemasan dan kehitaman yang dianggap ikan keramat. Ikan ini diyakini sudah hidup sejak zaman kerajaan, dan dipercaya sebagai penjaga sumber air. Tradisi lokal menyebutkan, siapa pun yang mencoba menangkap atau mengganggu ikan di Banyu Biru akan mendapat kesialan.
Namun, meningkatnya aktivitas wisata membawa konsekuensi baru. Sampah plastik, limbah makanan, dan aktivitas pengunjung yang tidak terkontrol dapat mencemari ekosistem air. Bila tidak tegas ditangani, kejernihan yang menjadi daya tarik utama Banyu Biru justru bisa terancam. Pariwisata memang memberikan manfaat ekonomi, namun jika dikelola tanpa perencanaan, bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan lingkungan. Banyu Biru menemui tantangan yang nyata yaitu bagaimana menemukan titik keseimbangan antara manfaat ekonomi dan pelestarian alam.
Pendekatan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) menekankan tiga aspek utama: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Artinya, setiap pengembangan wisata harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa merusak ekosistem dan nilai budaya yang ada. Pendekatan pertama; melakukan konservasi sumber daya air dan daya dukung ekologis seperti; melakukan pengendalian daya dukung pengunjung, melakukan sistem pengelolaan sampah terpadu di area wisata, melakukan pengawasan debit air secara berkala oleh kelompok masyarakat dan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan sumber air.
Pendekatan yang kedua; peran nilai budaya sebagai mekanisme konservasi tradisional seperti; menghormati dan mempertahankan nilai-nilai budaya lokal dalam setiap aktivitas wisata, melibatkan tokoh adat masyarakat dalam aktivitas wisata budaya dan edukasi lingkungan, dan mengembangkan wisata interpretatif yang memperkenalkan sejarah, mitos, dan makna budaya Banyu Biru kepada wisatawan.
Pendekatan ketiga; masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan dan pengambilan manfaat ekonomi. Adapun strategi yang perlu dikembangkan seperti: memberikan pelatihan hospitality, guiding, dan kewirausahaan, melakukan pengembangan produk ekonomi kreatif lokal (souvenir, kuliner, kopi, batik motif air, dll.) yang memperkuat identitas Banyu Biru.
Pendekatan keberlanjutan juga membutuhkan dukungan kelembagaan dan kebijakan. Adanya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, ekologi, dan sosial di Banyu Biru. Pemerintah daerah dapat menyediakan arah kebijakan dan infrastruktur pendukung, akademisi berperan melalui riset dan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga dan mengelola sumber daya alam. Dengan langkah bersama, Banyu Biru dapat menjadi contoh nyata bahwa wisata alam dan konservasi dapat berjalan beriiringan dengan jernihnya air yang mengalirkan manfaat bagi generasi yang akan datang.
Penulis: Grace Sissela Marpaung
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda