Pamekasan, JurnalPost.com - Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit menular tidak selalu harus dilakukan melalui penyuluhan kesehatan secara langsung. Di Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, tim peneliti dari Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Universitas Trunojoyo Madura (UTM), mencoba pendekatan berbeda dengan menghadirkan video animasi edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.
Video animasi tersebut dikembangkan sebagai bagian dari penelitian bertajuk “Model Pencegahan Penyakit Menular dengan Integrasi Pengobatan Herbal, Medis dan Media Digital Berbasis Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Madura.”
Penelitian yang melibatkan dosen dan mahasiswa ini berupaya menjembatani informasi kesehatan berbasis medis dengan kebiasaan serta pandangan masyarakat Madura dalam memahami dan mencegah penyakit menular.
Fokus utama media edukasi yang dikembangkan adalah pencegahan campak dan tuberkulosis (TBC), dua penyakit menular yang membutuhkan pemahaman masyarakat mengenai penularan, langkah pencegahan, serta pentingnya penanganan medis yang tepat.
Berangkat dari Kehidupan Sehari-hari Masyarakat
Pengembangan video animasi tidak dilakukan hanya berdasarkan kajian akademik. Tim peneliti turun langsung ke masyarakat untuk memahami bagaimana informasi kesehatan diterima, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah kegiatan kemasyarakatan menjadi bagian dari proses penelitian, mulai dari Posyandu, pertemuan kader kesehatan, hingga kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di sejumlah desa di Kecamatan Pamekasan.
Melalui wawancara, observasi, serta koordinasi dengan tenaga kesehatan dan masyarakat, tim mengumpulkan berbagai informasi yang kemudian digunakan sebagai bahan penyusunan materi edukasi.
Pendekatan ini dilakukan agar pesan kesehatan tidak hanya akurat dari sisi informasi medis, tetapi juga dapat disampaikan dengan cara yang dekat dengan kebiasaan dan karakteristik masyarakat setempat.
Hasilnya berupa video animasi yang memadukan gambar bergerak, suara, dan narasi sederhana. Materi disusun agar mudah diikuti oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia dan latar belakang pendidikan.
Penggunaan animasi dipilih sebagai alternatif penyampaian informasi kesehatan yang lebih menarik dibandingkan materi tertulis semata.

Libatkan Kader Posyandu hingga Pondok Pesantren
Setelah dikembangkan, video animasi tersebut diperkenalkan melalui sejumlah kegiatan sosialisasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Mahasiswa yang tergabung dalam tim penelitian turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi bersama kader Posyandu di Kecamatan Pamekasan.
Selain itu, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Pondok Pesantren Nasyrul Ulum, Pamekasan, dengan melibatkan para santri.
Keterlibatan kader kesehatan dan lingkungan pesantren menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan informasi. Kedua kelompok tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga diharapkan dapat membantu menyampaikan kembali pesan-pesan kesehatan di lingkungan masing-masing.
Melalui kegiatan tersebut, tim peneliti juga memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan bentuk edukasi kesehatan berbasis digital kepada masyarakat secara langsung.
Diharapkan Tidak Berhenti pada Kegiatan Penelitian
Ketua tim penelitian, Ekna Satriyati, berharap pengembangan video animasi tersebut tidak hanya menjadi luaran akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan pihak-pihak terkait.
Harapan itu disampaikan dalam rangkaian kegiatan penyerahan dokumen luaran penelitian pada 14 Oktober 2026.
“Harapannya, masyarakat Pamekasan bersama para pemangku kepentingan dapat bekerja sama untuk menyebarluaskan video animasi ini. Dengan begitu, informasi mengenai pencegahan penyakit menular dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan membantu meningkatkan kesadaran bersama,” ujar Ekna Satriyati.
Menurut tim peneliti, keberlanjutan pemanfaatan media edukasi menjadi salah satu hal penting agar informasi mengenai pencegahan penyakit menular dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dukungan terhadap penggunaan video animasi juga datang dari pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum, Kiai Hamid.
Ia menilai perkembangan teknologi digital membuka peluang baru dalam menyampaikan informasi kesehatan secara lebih ringkas dan mudah dipahami.
“Semoga penelitian ini menjadi amal jariah kita semua. Video animasi seperti ini memang sudah waktunya, karena melalui video edukasi yang singkat dan padat, masyarakat bisa lebih cepat memahami informasi mengenai pencegahan penyakit menular,” tutur Kiai Hamid.
Sementara itu, Camat Pamekasan, Dwi Norkholis Ikhwan, bersama Ketua TP PKK Kecamatan Pamekasan, Fadila Ikhwan, turut memberikan tanggapan positif terhadap hasil pengembangan media edukasi tersebut.
Keduanya memandang penggunaan animasi sebagai salah satu alternatif yang menarik untuk membantu penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat.
Mempertemukan Pengetahuan Medis dan Pendekatan Sosial Budaya
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya memahami aspek sosial budaya ketika menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki pengalaman, kebiasaan, serta pengetahuan lokal yang dapat memengaruhi cara mereka memandang suatu penyakit maupun menentukan langkah pengobatan.
Karena itu, pendekatan medis dan pemahaman terhadap praktik kesehatan tradisional menjadi bagian dari kajian penelitian. Meski demikian, pemanfaatan pengobatan herbal tetap perlu memperhatikan bukti ilmiah dan tidak menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan medis yang diperlukan, khususnya untuk penyakit seperti campak dan TBC.
Melalui integrasi pendekatan sosial budaya dan media digital, tim riset Sosiologi UTM berupaya menghadirkan informasi kesehatan yang lebih mudah diakses serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, kader Posyandu, dan masyarakat diharapkan dapat memperluas pemanfaatan video animasi tersebut.
Pengembangan media ini menjadi salah satu contoh bagaimana penelitian sosial dapat menghasilkan sarana edukasi yang berpotensi dimanfaatkan secara langsung dalam kehidupan masyarakat.
Bagi tim peneliti, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari terselesaikannya penelitian atau penyerahan dokumen luaran, tetapi juga dari peluang pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit menular.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda