Oleh: Dikdik Garnika Dosen Bimbingan dan Konseling Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
JurnalPost.com - Ada satu hal yang sering kita sembunyikan rapi-rapi, bahkan dari diri sendiri. Kita semua pernah salah, pernah melanggar, pernah tergelincir, pernah memilih sesuatu yang kita tahu tidak sepenuhnya benar. Tetapi anehnya, kita tidak selalu gelisah karena kesalahan itu. Kita hanya gelisah ketika kesalahan itu terlihat oleh orang lain.
Ada semacam standar diam-diam yang kita pegang. Bukan tentang benar atau salah sepenuhnya, tetapi tentang dosa mana yang masih terasa “nyaman” untuk kita lakukan. Kita mungkin tidak merasa bersalah ketika menunda pekerjaan, mengabaikan pesan orang, atau bersikap dingin kepada seseorang. Kita bisa memakluminya dengan mudah. “Aku lagi capek.” “Aku butuh waktu sendiri.” “Aku juga manusia.”
Namun, ketika orang lain melakukan kesalahan yang berbeda yang tidak kita lakukan, yang tidak kita sukai, kita tiba-tiba menjadi hakim yang tegas. Kita menilai, mengomentari, bahkan dalam diam merasa lebih baik, seolah-olah dosa yang kita pilih lebih ringan, lebih manusiawi, lebih bisa dimengerti. Padahal bukankah itu juga bentuk lain dari pembenaran?
Kita hidup dalam dunia yang memberi ruang besar untuk menilai, tetapi ruang yang sempit untuk memahami. Kita cepat sekali melihat kesalahan orang lain, tetapi lambat untuk menyadari bias dalam diri sendiri. Kita sering memiliki kecenderungan untuk melihat diri dengan kacamata niat, dan melihat orang lain dengan kacamata perilaku. Ketika kita melakukan kesalahan, kita menjelaskan. Ketika orang lain melakukannya, kita menyimpulkan.
“Dia memang seperti itu.” Kalimat sederhana, tetapi sering kali menutup kemungkinan untuk melihat lebih dalam. Padahal kalau kita mau jujur, kita semua sedang berjuang dengan versi diri kita masing-masing. Hanya saja bentuknya berbeda. Ada yang berjuang dengan kemarahan, ada yang dengan kecemasan, ada yang dengan kebutuhan untuk selalu terlihat baik. Dan di antara semua itu, kita memilih cara-cara yang terasa paling bisa kita toleransi. Kita memilih dosa yang tidak terlalu mengganggu citra diri kita, yang masih bisa kita jelaskan, yang tidak membuat kita merasa menjadi hina.
Di titik ini, yang terjadi bukan lagi soal benar atau salah, tetapi soal kenyamanan psikologis. Kita ingin tetap merasa baik tentang diri sendiri, bahkan ketika kita tahu tidak sepenuhnya demikian. Maka kita menyesuaikan standar. Kita membuat garis batas yang fleksibel, yang menguntungkan kita. Tanpa sadar kita menjadi sangat pandai dalam membenarkan diri, dan sangat mudah dalam menyalahkan orang lain. Ironisnya, hal ini sering terjadi justru pada orang-orang yang ingin menjadi baik, yang ingin hidupnya benar, yang ingin terlihat tidak menyakiti siapa pun.
Karena semakin kita ingin terlihat “bersih”, semakin sulit kita menerima bahwa kita juga punya sisi yang tidak selalu rapi. Sisi yang impulsif, egois, atau bahkan menyakitkan. Akhirnya daripada menghadapinya, kita memindahkan fokus. Kita melihat ke luar. Kita mencari kesalahan orang lain, lalu merasa sedikit lebih lega.
“Setidaknya, bukan kita saja”. Ada perasaan aneh yang muncul ketika melihat orang lain “lebih buruk”. Bukan karena kita benar-benar senang mereka salah, tetapi karena itu membuat kita merasa tidak sendirian. Bahkan, dalam beberapa kasus, merasa lebih baik. Dan itu dianggap “manusiawi”.
Tetapi ketika dibiarkan, ia bisa menjadi pola yang tidak sehat. Kita menjadi lebih sibuk mengukur orang lain daripada memahami diri sendiri. Kita menjadi lebih cepat bereaksi daripada merefleksikan. Padahal pertumbuhan justru sering dimulai dari keberanian untuk melihat ke dalam. Bukan untuk menyalahkan diri tanpa henti, tetapi untuk jujur.
“Bahwa kita juga punya kecenderungan yang sama” “Bahwa kita juga memilih jalan yang mudah, yang nyaman, yang tidak selalu benar” “Bahwa kita juga, dalam banyak hal, adalah manusia yang sedang belajar”
Ada kalanya kita merasa paling benar hanya karena kita tidak melakukan kesalahan yang sama dengan orang lain. Padahal bisa jadi kita hanya belum berada di situasi yang sama. Kita tidak benar-benar berbeda, tapi hanya berbeda dalam situasinya. Kesadaran seperti ini sering kali tidak nyaman. Ia meruntuhkan ilusi bahwa kita sepenuhnya “baik”. Ia membuat kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa identitas kita tidak selalu konsisten.
Tetapi justru di situlah ruang untuk bertumbuh. Karena ketika kita mulai melihat diri dengan lebih jujur, kita juga mulai melihat orang lain dengan lebih manusiawi. Kita tidak lagi terburu-buru menilai. Kita mulai bertanya, “apa yang mungkin sedang dia hadapi?” Bukan untuk membenarkan semua kesalahan, tetapi untuk memahami bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat.
Pada praktik konseling, sering kali terlihat bahwa orang yang paling keras menghakimi justru sedang berusaha keras menahan sesuatu dalam dirinya sendiri. Ada ketegangan yang tidak meredam dan ada standar yang terlalu tinggi, sehingga menghakimi menjadi cara untuk menjaga jarak dari kerentanan, karena lebih mudah menunjuk keluar daripada menengok ke dalam. Namun hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi sempurna. Ia lebih sering mengajak kita untuk menjadi sadar.
“Sadar bahwa kita punya kelemahan”. “Sadar bahwa kita bisa salah”. “Sadar bahwa orang lain pun demikian”.
Dari kesadaran itu mungkin yang perlahan berubah bukan hanya cara kita melihat orang lain, tetapi juga cara kita memperlakukan diri sendiri. Kita menjadi sedikit lebih lembut, sedikit lebih jujur, sedikit lebih manusia.
Bukan berarti kita berhenti memperbaiki diri. Justru sebaliknya, kita memperbaiki diri dengan cara yang lebih utuh. Bukan karena ingin terlihat benar, tetapi karena ingin benar-benar bertumbuh. Pada akhirnya, persoalannya bukan pada siapa yang paling sedikit dosanya. Tetapi pada siapa yang paling berani mengakui, memahami, dan belajar darinya. Karena kita semua dengan cara yang berbeda, sedang berjalan di proses yang sama, “Menjadi Manusia”.
Dikdik Garnika, Dosen Bimbingan dan Konseling Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwoketo
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda