Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Terlalu Manusia Untuk Tidak Menghakimi Manusia Lain

Terlalu Manusia Untuk Tidak Menghakimi Manusia Lain

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
06 Mei 2026, 18.56 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Menghakimi Manusia

Oleh: Dikdik Garnika Dosen Bimbingan dan Konseling Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

JurnalPost.com - Ada satu hal yang sering kita sembunyikan rapi-rapi, bahkan dari diri sendiri. Kita semua pernah salah, pernah melanggar, pernah tergelincir, pernah memilih sesuatu yang kita tahu tidak sepenuhnya benar. Tetapi anehnya, kita tidak selalu gelisah karena kesalahan itu. Kita hanya gelisah ketika kesalahan itu terlihat oleh orang lain.

IKLAN

Ada semacam standar diam-diam yang kita pegang. Bukan tentang benar atau salah sepenuhnya, tetapi tentang dosa mana yang masih terasa “nyaman” untuk kita lakukan. Kita mungkin tidak merasa bersalah ketika menunda pekerjaan, mengabaikan pesan orang, atau bersikap dingin kepada seseorang. Kita bisa memakluminya dengan mudah. “Aku lagi capek.” “Aku butuh waktu sendiri.” “Aku juga manusia.”

Kemerdekaan
Baca Juga

Kemerdekaan Belum Usai di Ruang Kelas

Namun, ketika orang lain melakukan kesalahan yang berbeda yang tidak kita lakukan, yang tidak kita sukai, kita tiba-tiba menjadi hakim yang tegas. Kita menilai, mengomentari, bahkan dalam diam merasa lebih baik, seolah-olah dosa yang kita pilih lebih ringan, lebih manusiawi, lebih bisa dimengerti. Padahal bukankah itu juga bentuk lain dari pembenaran?

Kita hidup dalam dunia yang memberi ruang besar untuk menilai, tetapi ruang yang sempit untuk memahami. Kita cepat sekali melihat kesalahan orang lain, tetapi lambat untuk menyadari bias dalam diri sendiri. Kita sering memiliki kecenderungan untuk melihat diri dengan kacamata niat, dan melihat orang lain dengan kacamata perilaku. Ketika kita melakukan kesalahan, kita menjelaskan. Ketika orang lain melakukannya, kita menyimpulkan.

“Dia memang seperti itu.” Kalimat sederhana, tetapi sering kali menutup kemungkinan untuk melihat lebih dalam. Padahal kalau kita mau jujur, kita semua sedang berjuang dengan versi diri kita masing-masing. Hanya saja bentuknya berbeda. Ada yang berjuang dengan kemarahan, ada yang dengan kecemasan, ada yang dengan kebutuhan untuk selalu terlihat baik. Dan di antara semua itu, kita memilih cara-cara yang terasa paling bisa kita toleransi. Kita memilih dosa yang tidak terlalu mengganggu citra diri kita, yang masih bisa kita jelaskan, yang tidak membuat kita merasa menjadi hina.

Di titik ini, yang terjadi bukan lagi soal benar atau salah, tetapi soal kenyamanan psikologis. Kita ingin tetap merasa baik tentang diri sendiri, bahkan ketika kita tahu tidak sepenuhnya demikian. Maka kita menyesuaikan standar. Kita membuat garis batas yang fleksibel, yang menguntungkan kita. Tanpa sadar kita menjadi sangat pandai dalam membenarkan diri, dan sangat mudah dalam menyalahkan orang lain. Ironisnya, hal ini sering terjadi justru pada orang-orang yang ingin menjadi baik, yang ingin hidupnya benar, yang ingin terlihat tidak menyakiti siapa pun.

El Niño
Baca Juga

El Niño Sangat Kuat, Sultra Tak Boleh Menunggu Sawah Mengering

Karena semakin kita ingin terlihat “bersih”, semakin sulit kita menerima bahwa kita juga punya sisi yang tidak selalu rapi. Sisi yang impulsif, egois, atau bahkan menyakitkan. Akhirnya daripada menghadapinya, kita memindahkan fokus. Kita melihat ke luar. Kita mencari kesalahan orang lain, lalu merasa sedikit lebih lega.

“Setidaknya, bukan kita saja”. Ada perasaan aneh yang muncul ketika melihat orang lain “lebih buruk”. Bukan karena kita benar-benar senang mereka salah, tetapi karena itu membuat kita merasa tidak sendirian. Bahkan, dalam beberapa kasus, merasa lebih baik. Dan itu dianggap “manusiawi”.

IKLAN

Tetapi ketika dibiarkan, ia bisa menjadi pola yang tidak sehat. Kita menjadi lebih sibuk mengukur orang lain daripada memahami diri sendiri. Kita menjadi lebih cepat bereaksi daripada merefleksikan. Padahal pertumbuhan justru sering dimulai dari keberanian untuk melihat ke dalam. Bukan untuk menyalahkan diri tanpa henti, tetapi untuk jujur.

“Bahwa kita juga punya kecenderungan yang sama” “Bahwa kita juga memilih jalan yang mudah, yang nyaman, yang tidak selalu benar” “Bahwa kita juga, dalam banyak hal, adalah manusia yang sedang belajar”

Bukti Ilmiah
Baca Juga

Kesehatan di Antara Testimoni dan Bukti Ilmiah

Ada kalanya kita merasa paling benar hanya karena kita tidak melakukan kesalahan yang sama dengan orang lain. Padahal bisa jadi kita hanya belum berada di situasi yang sama. Kita tidak benar-benar berbeda, tapi hanya berbeda dalam situasinya. Kesadaran seperti ini sering kali tidak nyaman. Ia meruntuhkan ilusi bahwa kita sepenuhnya “baik”. Ia membuat kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa identitas kita tidak selalu konsisten.

Tetapi justru di situlah ruang untuk bertumbuh. Karena ketika kita mulai melihat diri dengan lebih jujur, kita juga mulai melihat orang lain dengan lebih manusiawi. Kita tidak lagi terburu-buru menilai. Kita mulai bertanya, “apa yang mungkin sedang dia hadapi?” Bukan untuk membenarkan semua kesalahan, tetapi untuk memahami bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat.

Pada praktik konseling, sering kali terlihat bahwa orang yang paling keras menghakimi justru sedang berusaha keras menahan sesuatu dalam dirinya sendiri. Ada ketegangan yang tidak meredam dan ada standar yang terlalu tinggi, sehingga menghakimi menjadi cara untuk menjaga jarak dari kerentanan, karena lebih mudah menunjuk keluar daripada menengok ke dalam. Namun hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi sempurna. Ia lebih sering mengajak kita untuk menjadi sadar.

“Sadar bahwa kita punya kelemahan”. “Sadar bahwa kita bisa salah”. “Sadar bahwa orang lain pun demikian”.

Dari kesadaran itu mungkin yang perlahan berubah bukan hanya cara kita melihat orang lain, tetapi juga cara kita memperlakukan diri sendiri. Kita menjadi sedikit lebih lembut, sedikit lebih jujur, sedikit lebih manusia.

Bukan berarti kita berhenti memperbaiki diri. Justru sebaliknya, kita memperbaiki diri dengan cara yang lebih utuh. Bukan karena ingin terlihat benar, tetapi karena ingin benar-benar bertumbuh. Pada akhirnya, persoalannya bukan pada siapa yang paling sedikit dosanya. Tetapi pada siapa yang paling berani mengakui, memahami, dan belajar darinya. Karena kita semua dengan cara yang berbeda, sedang berjalan di proses yang sama, “Menjadi Manusia”.

Dikdik Garnika, Dosen Bimbingan dan Konseling Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwoketo

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/terlalu-manusia-untuk-tidak-menghakimi-manusia-lain/92804/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.58 WITA

  • #Menghakimi Manusia
  • #Opini Dosen

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Pilihan Editor

  1. 1 Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?
  2. 2

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

  5. 5

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.