Oleh: Bayu Bakti Angga Santoso Dosen Program Studi S1 Farmasi, Universitas Alma Ata
“Saya sudah mencoba, dan terbukti sembuh.”
Kalimat seperti ini sangat mudah kita temui di media sosial. Kadang muncul di TikTok, Facebook, Instagram, unggahan pribadi, kolom komentar, atau siaran langsung. Seseorang bercerita tentang penyakitnya, lalu menunjukkan produk yang menurutnya membuat kondisinya membaik. Tidak lama kemudian, orang lain ikut bertanya: beli di mana? Berapa harganya? Bagaimana cara minumnya? Apakah manjur?
Dari situlah sebuah pengalaman pribadi perlahan berubah menjadi rekomendasi kesehatan.
Produk yang sebelumnya tidak dikenal mendadak ramai dicari. Suplemen tertentu dianggap perlu dikonsumsi. Obat tertentu disebut ampuh dan manjur. Bahkan, terapi yang manfaat dan keamanannya belum jelas bisa mendapatkan kepercayaan hanya karena banyak orang mengaku telah merasakan hasilnya.
Masalahnya, apa yang dialami satu orang tidak otomatis berlaku pada orang lain.
Dalam urusan kesehatan, kita sering lupa bahwa tubuh manusia tidak bekerja dengan cara yang sama. Usia, berat badan, fungsi hati dan ginjal, riwayat penyakit, pola makan, faktor genetik, hingga obat lain yang sedang dikonsumsi dapat memengaruhi respons seseorang terhadap suatu terapi.
Produk yang tidak menimbulkan masalah pada satu orang belum tentu aman bagi orang lain. Pada kondisi tertentu, produk yang sama dapat memicu alergi, berinteraksi dengan obat lain, memperburuk penyakit yang sudah ada, atau menimbulkan efek samping yang tidak ringan.
Karena itu, kalimat “saya cocok pakai itu” sebenarnya hanya menjelaskan pengalaman seseorang. Kalimat tersebut belum cukup untuk menjawab apakah produk yang sama aman dan bermanfaat bagi orang lain.
Di sinilah testimoni kerap menyesatkan, meskipun orang yang menyampaikannya belum tentu berniat menyesatkan.
Seseorang, misalnya, merasa kondisinya membaik setelah mengonsumsi sebuah produk. Namun, pada saat yang sama, ia mungkin juga sedang berobat ke dokter, mengubah pola makan, tidur lebih teratur, mengurangi aktivitas tertentu, atau memang sedang memasuki fase pemulihan alami.
Ketika kondisinya membaik, seluruh perubahan tersebut kemudian dikaitkan hanya dengan satu produk.
Padahal, kejadian yang berlangsung secara berurutan tidak selalu menunjukkan hubungan sebab-akibat. Seseorang mengonsumsi suatu produk lalu merasa lebih baik bukan berarti produk itulah satu-satunya penyebab perbaikan tersebut.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika testimoni bertemu dengan kepentingan pemasaran.
Di media sosial, batas antara pengalaman pribadi, edukasi, dan promosi kini semakin tipis. Kalimat “sekadar berbagi pengalaman” kadang diakhiri dengan tautan pembelian, kode promo, atau ajakan membeli produk tertentu. Tidak semua orang menyadari bahwa konten yang terlihat seperti cerita pribadi bisa saja merupakan bagian dari strategi pemasaran.
Dalam konteks kesehatan, keadaan seperti ini patut mendapat perhatian.
Orang yang sedang sakit cenderung mencari harapan. Ketika pengobatan membutuhkan waktu, biaya, pemeriksaan berulang, dan kesabaran, tawaran kesembuhan yang cepat tentu mudah menarik perhatian. Terlebih jika disampaikan oleh seseorang yang terlihat sehat, berbicara dengan percaya diri, dan mengatakan bahwa dirinya telah membuktikannya sendiri.
Risikonya menjadi lebih besar jika yang dipromosikan adalah obat keras, antibiotik, kortikosteroid, produk pelangsing, pemutih kulit, atau ramuan yang diklaim mampu menyembuhkan penyakit serius.
Dalam ilmu kesehatan, suatu terapi tidak dinilai dari banyaknya orang yang mengatakan “cocok”. Obat atau terapi perlu diteliti untuk mengetahui apakah benar memberikan manfaat, seberapa besar manfaat tersebut, apa risikonya, berapa dosis yang tepat, dan pada kelompok pasien seperti apa terapi tersebut dapat digunakan.
Penelitian juga berusaha membedakan apakah perbaikan yang terjadi benar-benar disebabkan oleh terapi atau justru oleh faktor lain. Karena itu, hasil suatu pengobatan biasanya dibandingkan dengan kelompok lain, terapi pembanding, atau kondisi kontrol.
Di sinilah letak perbedaan penting antara testimoni dan bukti ilmiah.
Testimoni hanya dapat mengatakan, “Ini yang terjadi pada saya.”
Sementara itu, bukti ilmiah berusaha menjawab pertanyaan yang lebih luas: apakah terapi tersebut memang bekerja? Seberapa aman? Siapa yang dapat memperoleh manfaat? Dan siapa yang justru berisiko mengalami efek yang merugikan?
Tentu, penelitian ilmiah bukan sesuatu yang tanpa kekurangan. Sebuah penelitian bisa memiliki keterbatasan. Hasil penelitian juga dapat dikoreksi ketika muncul data baru. Namun, justru di situlah kekuatan ilmu pengetahuan. Sebuah kesimpulan dapat diuji kembali, diperdebatkan, dibandingkan, bahkan diperbaiki.
Testimoni tidak memiliki proses semacam itu.
Meski demikian, bukan berarti pengalaman pasien tidak memiliki nilai sama sekali. Cerita orang lain tetap dapat membantu. Pasien bisa mendapatkan gambaran mengenai pengalaman menjalani pengobatan, kesulitan yang mungkin muncul, atau pertanyaan yang perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan.
Persoalannya muncul ketika pengalaman pribadi digunakan sebagai dasar untuk menentukan terapi.
Menurut saya, posisi testimoni seharusnya jelas: ia dapat menjadi pintu masuk untuk mencari informasi lebih lanjut, tetapi bukan menjadi dasar terakhir dalam mengambil keputusan kesehatan.
Sebelum mempercayai klaim tentang obat atau produk kesehatan, ada beberapa hal sederhana yang sebenarnya dapat kita tanyakan. Siapa yang menyampaikan informasi tersebut? Apakah ia memiliki kompetensi di bidang yang dibicarakan? Adakah bukti penelitian yang mendukung klaimnya? Apakah risiko dan efek samping turut dijelaskan? Dan yang tidak kalah penting, adakah kepentingan komersial di balik konten tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menjadi penting karena informasi kesehatan yang keliru tidak selalu tampak mencurigakan. Justru, informasi semacam itu sering disampaikan dengan sangat meyakinkan dan menggunakan cerita yang dekat dengan kehidupan kita.
Dalam situasi seperti ini, peran tenaga kesehatan menjadi semakin penting. Apoteker, misalnya, tidak hanya berurusan dengan penyerahan obat. Apoteker juga memiliki tanggung jawab membantu masyarakat memahami cara penggunaan obat, manfaat, risiko, efek samping, hingga kemungkinan interaksi dengan obat atau produk lain.
Di tengah banjir informasi kesehatan, masyarakat membutuhkan pihak yang mampu menerjemahkan bukti ilmiah ke dalam bahasa yang mudah dipahami.
Perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah, dan media juga tidak bisa tinggal diam. Informasi kesehatan yang benar tidak cukup hanya tersedia. Informasi tersebut juga harus mudah ditemukan, mudah dimengerti, dan disampaikan dengan cara yang menarik.
Jika tidak, informasi yang benar akan terus kalah cepat dari informasi yang sensasional.
Pada akhirnya, banyaknya tayangan, komentar, tanda suka, atau orang yang menulis “saya juga cocok” bukanlah ukuran bahwa suatu produk benar-benar aman dan efektif.
Seribu testimoni tetap tidak dapat menggantikan bukti ilmiah.
Dalam urusan kesehatan, keputusan terapi semestinya dibuat berdasarkan kondisi pasien, pemeriksaan yang memadai, bukti terbaik yang tersedia, serta pertimbangan tenaga kesehatan. Bukan semata-mata karena sebuah video sedang ramai dibicarakan.
Di tengah begitu mudahnya siapa pun berbicara tentang obat dan kesehatan, masyarakat bukan hanya perlu pandai mencari informasi. Kita juga perlu belajar meragukan informasi pada saat yang tepat.
Sebab, dalam urusan pengobatan, cerita yang terdengar paling meyakinkan belum tentu merupakan bukti yang paling dapat dipercaya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda