LANGKAT, JurnalPost.com — Tim dosen Politeknik Negeri Medan (Polmed) bersama Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) Berbasis Kimia Pangan untuk Meningkatkan Pengetahuan, Kepatuhan GMP, dan Produktivitas Industri Rumah Tangga Kue Kering di Desa Padang Cermin, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara”.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 22 Juni 2026 tersebut menyasar Industri Rumah Tangga (IRT) Kue Mak Zihan di Desa Padang Cermin, Kabupaten Langkat. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan pelaku usaha mengenai keamanan dan mutu pangan, memperkuat penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), serta mendorong efisiensi dan produktivitas dalam proses produksi kue kering.
Tim PKM diketuai Devi Lestari, S.Pd., M.Si. dari Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Kimia Industri Politeknik Negeri Medan. Anggota tim terdiri atas Juli Novita Sari dari Departemen Kimia Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara dan Amalia Rahmadani Ilham dari Program Studi D4 Manajemen Bisnis Politeknik Negeri Medan.
Kegiatan tersebut turut melibatkan mahasiswa Polmed, yakni Aprillo Hutahaean dari Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Kimia Industri dan Faya Zaskia Lubis dari Program Studi D4 Manajemen Bisnis.
Mitra program, IRT Kue Mak Zihan, melibatkan 10 peserta. Berdasarkan observasi awal, mitra masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari pemahaman mengenai GMP yang belum komprehensif, penerapan higiene personal dan sanitasi yang belum konsisten, keterbatasan penggunaan alat pelindung diri, hingga pencatatan produksi yang belum terdokumentasi dengan baik.
Ketua Tim PKM, Devi Lestari, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa penerapan GMP tidak hanya perlu dipahami dari aspek higiene dan sanitasi, tetapi juga dari perspektif kimia pangan yang memiliki keterkaitan langsung dengan mutu produk.
“Penerapan GMP pada industri rumah tangga tidak cukup hanya dengan menjaga kebersihan tempat dan peralatan produksi. Pelaku usaha juga perlu memahami bagaimana kadar air, suhu pemanggangan, reaksi Maillard, oksidasi lemak, dan kondisi penyimpanan dapat memengaruhi mutu kue kering,” ujar Devi.
Menurutnya, pendekatan berbasis kimia pangan diberikan agar pelaku usaha tidak sekadar mengikuti prosedur, tetapi memahami alasan ilmiah di balik setiap tahapan produksi.
“Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami mengapa setiap tahapan tersebut penting bagi keamanan, mutu, dan konsistensi produk. Dengan pemahaman tersebut, penerapan GMP diharapkan dapat menjadi kebiasaan kerja, bukan sekadar dilakukan ketika ada pendampingan,” katanya.
Pelaksanaan program menggunakan pendekatan Participatory Action Learning melalui sejumlah tahapan, mulai dari observasi, penyuluhan, pelatihan, praktik langsung, pendampingan implementasi GMP, penerapan teknologi tepat guna, hingga monitoring dan evaluasi.
Pelatihan yang melibatkan 10 peserta tersebut dilakukan secara interaktif sehingga materi yang diberikan dapat langsung diterapkan dalam proses produksi sehari-hari.
Evaluasi program dilakukan melalui tiga indikator utama, yaitu peningkatan pengetahuan peserta yang diukur melalui pre-test dan post-test, tingkat kepatuhan terhadap GMP menggunakan checklist observasi, serta produktivitas berdasarkan catatan produksi mitra.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pada seluruh indikator yang diukur. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 54,0 sebelum pelatihan menjadi 90,5 setelah pelatihan, dengan nilai p<0,001. Sementara itu, tingkat kepatuhan terhadap GMP meningkat dari 46,3 persen menjadi 96,3 persen.
“Peningkatan nilai pengetahuan dari 54,0 menjadi 90,5 menunjukkan bahwa pelatihan yang dipadukan dengan demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan mampu meningkatkan pemahaman peserta secara signifikan,” jelas Devi.
Menurut Devi, perubahan yang dihasilkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mulai terlihat pada praktik produksi sehari-hari.
“Yang paling penting bagi kami adalah pengetahuan tersebut dapat diterapkan di tempat produksi. Setelah pendampingan, mitra mulai lebih konsisten dalam menerapkan higiene personal, sanitasi peralatan dan ruang produksi, penggunaan alat pelindung diri, penyimpanan bahan, serta pencatatan kegiatan produksi,” ungkapnya.
Dampak program juga terlihat dari sisi produktivitas. Kapasitas produksi mitra tercatat meningkat sebesar 28 persen. Pada saat yang sama, persentase produk gagal atau reject berhasil ditekan dari 12 persen menjadi 4 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa penerapan GMP yang dibarengi dengan perbaikan proses dan penggunaan peralatan produksi dapat memberikan dampak langsung terhadap efisiensi usaha.
“Peningkatan kapasitas produksi sebesar 28% dan penurunan produk gagal dari 12% menjadi 4% merupakan hasil yang sangat berarti bagi mitra. Artinya, perbaikan proses produksi tidak hanya berdampak pada aspek keamanan dan mutu pangan, tetapi juga memberikan manfaat langsung terhadap produktivitas usaha,” tutur Devi.
Selain memberikan pelatihan, tim PKM juga mendampingi mitra dalam penggunaan teknologi tepat guna serta penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi dan sanitasi.
Mitra turut diperkenalkan dengan sistem pencatatan produksi agar memiliki data yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kapasitas produksi, efisiensi proses, serta pengelolaan usaha secara berkelanjutan.
Devi berharap berbagai praktik yang telah diperkenalkan selama program dapat terus dijalankan secara mandiri oleh mitra.
“Kami berharap SOP produksi dan sanitasi, pencatatan produksi, serta kebiasaan menerapkan GMP yang telah dibangun selama pendampingan dapat terus dijalankan oleh mitra secara mandiri. Dengan demikian, dampak kegiatan ini tidak berhenti pada saat program selesai, tetapi dapat mendukung keberlanjutan dan pengembangan usaha,” katanya.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat, khususnya pelaku industri rumah tangga pangan.
Integrasi ilmu kimia pangan, penerapan GMP, pendampingan langsung, dan peningkatan efisiensi produksi diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang turut diterapkan pada industri rumah tangga pangan lainnya.
“Program ini menunjukkan bahwa integrasi kimia pangan, pelatihan GMP, dan pendampingan langsung dapat meningkatkan kapasitas industri rumah tangga pangan secara terukur dan berkelanjutan. Kami ingin membantu pelaku usaha memanfaatkan potensi lokal sekaligus mewujudkan praktik produksi yang lebih higienis, efisien, dan berdaya saing,” pungkas Devi.
Tim pengabdian kepada masyarakat menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas dukungan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Apresiasi juga disampaikan kepada Direktur Politeknik Negeri Medan, Kepala P3M Politeknik Negeri Medan, Ketua Jurusan Teknik Mesin, Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Politeknik Negeri Medan, Program Studi Manajemen Bisnis Politeknik Negeri Medan, serta Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara atas dukungan, fasilitasi, dan kolaborasi selama program berlangsung.
Tim turut menyampaikan apresiasi kepada mitra IRT Kue Mak Zihan dan masyarakat Desa Padang Cermin, Kabupaten Langkat, atas partisipasi aktif dan kerja sama selama seluruh rangkaian kegiatan. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam keberhasilan penerapan GMP berbasis kimia pangan sekaligus peningkatan kapasitas dan produktivitas usaha mitra.
Oleh : Dosen Polmed
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda