- Mulai dari aktivitas sehari-hari: Ajak anak membaca tulisan besar dan berwarna di jalan, menghitung buah saat belanja, atau menuliskan namanya sendiri. Anak belajar lebih cepat ketika kegiatan terasa dekat dengan kehidupan mereka.
- Belajar sambil bermain: Gunakan permainan sederhana seperti kartu huruf, puzzle angka, tebak kata, atau permainan jual beli untuk mengenalkan membaca dan berhitung tanpa membuat anak merasa tertekan.
- Lakukan secara rutin, bukan lama: Anak usia dini lebih membutuhkan konsistensi dibanding durasi panjang. Luangkan 10–15 menit setiap hari untuk aktivitas membaca, menulis, atau berhitung sederhana.
- Berikan apresiasi pada proses, bukan hanya hasil: Pujian seperti “Wah, kamu sudah berani mencoba!” membantu anak membangun rasa percaya diri dan tidak takut salah saat belajar.
- Tidak membandingkan anak dengan teman sebaya: Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Fokuslah pada kemajuan kecil yang dicapai anak dari waktu ke waktu.
- Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan: Anak akan lebih mudah belajar ketika merasa aman dan nyaman. Hindari memarahi atau memberi tekanan berlebihan saat anak belum memahami materi.
- Latih disiplin menggunakan gawai sejak dini: Interaksi langsung dengan orangtua jauh lebih efektif untuk melatih fokus, bahasa, dan kemampuan berpikir anak dibanding pembelajaran pasif melalui layar.
- Jadilah contoh bagi anak: Anak cenderung meniru kebiasaan orangtuanya. Ketika anak melihat orangtua membaca buku, menulis, atau berhitung dalam aktivitas sehari-hari, mereka akan lebih tertarik untuk mencoba.
- Perhatikan tanda anak mulai kesulitan belajar: Jika anak terus menghindari membaca, mudah menyerah, atau sering mengatakan “Saya tidak bisa”, orangtua perlu memberi pendampingan lebih sabar dan membangun rasa percaya dirinya terlebih dahulu.
- Ingat bahwa tujuan utama bukan sekadar pintar: Calistung sejak dini bukan hanya tentang kemampuan akademik, tetapi juga melatih fokus, ketekunan, keberanian mencoba, dan kesiapan anak menghadapi proses belajar di sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
Stop Meremehkan Dampak Kemampuan Calistung pada Kepercayaan Diri Anak
JurnalPost.com - Di tengah perdebatan mengenai apakah anak usia dini perlu belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung), banyak orang tua akhirnya memilih menunda pengenalan kemampuan dasar tersebut karena khawatir dianggap terlalu memaksa anak. Padahal, jika dilakukan melalui permainan sederhana, kegiatan yang menyenangkan, dan tanpa tekanan, pengenalan calistung sejak usia 4–6 tahun justru menjadi fondasi penting bagi perkembangan anak di masa depan.
Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung bukan sekadar tuntutan akademik sekolah dasar. Calistung merupakan keterampilan dasar yang melatih perkembangan kognitif, sensorimotorik, bahasa, hingga kemampuan emosional anak. Saat anak belajar mengenali huruf, menebalkan garis, menghitung benda, atau menyusun kata sederhana, sesungguhnya anak sedang belajar berkonsentrasi, mengendalikan emosi, menyelesaikan masalah, serta membangun ketekunan sejak dini.
Sayangnya, masih banyak anak yang memasuki usia sekolah dasar tanpa memiliki kemampuan dasar calistung yang memadai. Kondisi ini ditemukan dalam kegiatan intervensi sosial yang dilakukan kelompok MBKM Proyek Kemanusiaan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara pada awal tahun 2026 di sebuah RPTRA di Jakarta. Jakarta dikenal sebagai salah satu kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Asia Tenggara. Tingginya kepadatan penduduk di wilayah ini beriringan dengan berbagai persoalan sosial, mulai dari kemiskinan, keterbatasan ruang hidup, hingga rendahnya akses pendidikan yang berdampak langsung pada perkembangan anak. Dalam kondisi seperti ini, tidak semua anak memperoleh kesempatan belajar yang optimal sejak usia dini.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah menghadirkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) sebagai ruang alternatif belajar dan bermain bagi anak-anak di lingkungan padat penduduk. RPTRA menjadi tempat yang sangat penting karena menyediakan fasilitas bermain, perpustakaan, sekaligus ruang interaksi sosial bagi anak-anak. Namun, kondisi lapangan menunjukkan bahwa kemampuan dasar anak-anak yang datang ke RPTRA sangat beragam.
Dalam kegiatan pendampingan tersebut ditemukan bahwa sebagian anak usia 9–11 tahun masih mengalami kesulitan membaca kalimat sederhana, belum lancar melakukan pengurangan, bahkan beberapa cenderung menghindari soal berhitung. Ada anak yang mampu berbicara aktif dan lancar, tetapi masih kesulitan mengeja kata sederhana. Beberapa anak juga tampak takut ketika diminta menjawab pertanyaan dan langsung mengatakan, “Saya tidak bisa,” sebelum mencoba mengerjakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa keterlambatan penguasaan calistung tidak hanya berdampak pada kemampuan akademik, tetapi juga mempengaruhi rasa percaya diri anak. Anak mulai merasa ia tertinggal dibanding teman-temannya. Mereka menjadi ragu untuk mencoba, takut salah, dan perlahan kehilangan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.
Dalam psikologi perkembangan, anak usia sekolah berada pada tahap perkembangan yang disebut industry versus inferiority menurut Erik Erikson. Pada tahap ini, anak membutuhkan pengalaman berhasil untuk membangun rasa kompeten dan percaya diri. Sebaliknya, kegagalan yang terus berulang dapat membuat anak merasa rendah diri dan tidak mampu.
Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh konsep self-efficacy dari Albert Bandura, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri. Anak yang merasa “Saya bisa.” biasanya lebih berani mencoba, lebih tekun, dan tidak mudah menyerah. Sebaliknya, anak yang merasa dirinya tidak mampu akan lebih mudah menghindari tantangan belajar. Oleh karena itu, pengenalan calistung sejak usia dini sebenarnya bukan soal mengejar prestasi akademik semata. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan belajar, melatih konsistensi, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mengembangkan kemampuan dasar berpikir anak secara bertahap.
Program intervensi calistung yang pernah dilakukan ini menunjukkan bahwa pendampingan belajar yang dilakukan secara hangat, interaktif, dan tanpa tekanan dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, sekaligus membangun keyakinan diri anak. Seluruh partisipan menunjukkan peningkatan kepercayaan diri pada aspek akademik dan emosional, disertai keberanian yang lebih besar untuk mencoba, bertanya, dan berinteraksi selama proses belajar berlangsung. Hasil ini membuktikan bahwa keterbatasan akses pendidikan formal bukanlah penghalang mutlak bagi perkembangan anak apabila mereka memperoleh kesempatan belajar yang konsisten, suportif, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Program ini juga menjadi pengingat bahwa proses belajar anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh pengalaman positif, apresiasi, dan hubungan yang hangat antara anak dan pendamping selama proses pembelajaran.
Orang tua tidak perlu langsung mengajarkan anak seperti di ruang kelas formal. Justru pendekatan terbaik bagi anak usia 4–6 tahun adalah melalui permainan sederhana yang dilakukan secara rutin di rumah. Berikut tips sederhana bagi orangtua untuk menstimulasi keterampilan Calistung anak sejak dini, yaitu:
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda