Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  2. Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  3. PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  5. Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Scrolling Boleh, Pecah Belah Jangan: Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Ramainya Media Sosial

Scrolling Boleh, Pecah Belah Jangan: Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Ramainya Media Sosial

A
Penulis: Affan Rifqi Annajib
31 Oktober 2026, 15.59 WITA Editor: Alvin Pradana
8 menit baca
Focused Study Break on Social Media
Keterangan foto: Ilustrasi penggunaan media sosial di era digital. Penerapan nilai-nilai Pancasila menjadi penting untuk menangkal hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang dapat mengancam persatuan masyarakat. (Ilustrasi/JurnalPost)

JurnalPost.com - Media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sejak bangun tidur hingga menjelang malam, banyak orang terbiasa membuka ponsel untuk melihat berbagai informasi, mengikuti tren, menonton video, atau sekadar membaca komentar di media sosial. Aktivitas scrolling bahkan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan hampir tanpa disadari.

Di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, media sosial juga menyimpan berbagai tantangan. Penyebaran berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian, provokasi, hingga perdebatan yang berujung pada permusuhan semakin mudah ditemukan di ruang digital.

IKLAN

Persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks Indonesia, Pancasila memiliki peran penting sebagai pedoman dalam membangun perilaku masyarakat, termasuk ketika berinteraksi di dunia maya.

Pancasila seharusnya tidak hanya dipahami sebagai lima sila yang dihafalkan sejak duduk di bangku sekolah. Nilai-nilainya perlu diterapkan dalam tindakan sederhana, mulai dari memilih informasi, menyampaikan pendapat, hingga menghargai perbedaan di media sosial.

Media Sosial Membuka Peluang, tetapi Juga Memunculkan Persoalan

Tidak dapat dimungkiri bahwa perkembangan media sosial membawa banyak manfaat. Masyarakat bisa memperoleh informasi dengan cepat, menjalin komunikasi tanpa batas wilayah, mengembangkan usaha, hingga memperluas pengetahuan melalui berbagai konten edukatif.

Namun, kemudahan tersebut juga membuka peluang bagi penyebaran informasi yang belum tentu benar. Konten yang memancing emosi, menimbulkan kemarahan, atau menyudutkan kelompok tertentu terkadang lebih cepat menarik perhatian dibandingkan informasi yang disampaikan secara utuh dan berimbang.

Sebuah video yang dipotong dari konteks aslinya, misalnya, dapat menimbulkan kesalahpahaman. Begitu pula judul sensasional yang sengaja dibuat untuk memancing rasa penasaran pembaca.

Ketika informasi semacam itu dibagikan secara berulang tanpa pemeriksaan, dampaknya dapat meluas. Orang yang sebelumnya tidak mengetahui persoalan sebenarnya bisa ikut terprovokasi dan membentuk penilaian berdasarkan informasi yang keliru.

Karena itu, masyarakat perlu menyadari bahwa kebebasan menggunakan media sosial selalu disertai tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.

Jangan Sampai Menjadi Penyebar Hoaks

Salah satu persoalan yang sering muncul di media sosial adalah kebiasaan membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Tidak sedikit pengguna yang langsung meneruskan sebuah unggahan hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan pandangan pribadi. Padahal, informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu didukung fakta.

Hoaks dapat dibuat untuk berbagai kepentingan, mulai dari mencari perhatian, memperoleh keuntungan, membentuk opini, hingga menjatuhkan pihak tertentu.

Penyebaran informasi palsu bukan hanya merugikan orang yang menjadi sasaran, tetapi juga dapat menimbulkan keresahan dan merusak hubungan antarmasyarakat.

Dalam situasi seperti ini, nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial yang terkandung dalam Pancasila menjadi sangat relevan.

Sebelum membagikan sebuah informasi, pengguna media sosial sebaiknya memeriksa sumbernya, membaca isi berita secara lengkap, serta membandingkannya dengan pemberitaan dari media yang memiliki kredibilitas.

Apabila kebenarannya masih meragukan, pilihan terbaik adalah tidak menyebarkannya.

Menjadi pengguna media sosial yang bijak bukan berarti harus mengetahui semua hal. Justru kemampuan menahan diri ketika menghadapi informasi yang belum jelas merupakan bentuk tanggung jawab dalam kehidupan digital.

Berbeda Pendapat Tidak Harus Saling Menjatuhkan

Kolom komentar menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan bagaimana masyarakat menyikapi perbedaan pendapat.

Dalam sebuah unggahan, orang dapat menyampaikan pandangan yang beragam. Perbedaan tersebut merupakan hal wajar, terlebih Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan pemikiran berbeda.

Sayangnya, perdebatan di media sosial terkadang berubah menjadi serangan pribadi. Kritik terhadap sebuah pendapat bergeser menjadi penghinaan, ejekan, bahkan ujaran kebencian.

Padahal, sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan pentingnya menghormati martabat setiap manusia.

Nilai tersebut juga berlaku ketika seseorang berkomunikasi melalui layar ponsel. Kebebasan berpendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan atau mempermalukan orang lain.

Seseorang tetap dapat menyampaikan kritik secara tegas tanpa harus menggunakan kata-kata kasar. Perbedaan pandangan pun dapat menjadi ruang pembelajaran apabila disampaikan melalui diskusi yang sehat.

Perlu diingat bahwa di balik setiap akun media sosial terdapat manusia yang memiliki perasaan dan kehidupan nyata.

Komentar yang ditulis dalam hitungan detik mungkin terlihat sepele bagi pengirimnya, tetapi bisa meninggalkan dampak panjang bagi orang yang menerimanya.

Keberagaman Harus Dijaga, Bukan Dijadikan Bahan Provokasi

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya. Kekayaan tersebut merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu dijaga bersama.

Namun, keberagaman juga dapat menjadi sasaran provokasi apabila digunakan untuk membangun prasangka dan kebencian terhadap kelompok tertentu.

IKLAN

Di media sosial, persoalan yang berkaitan dengan agama dan identitas sering memicu perdebatan sensitif. Tidak jarang sebuah unggahan dibuat dengan narasi yang sengaja mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Dalam kondisi tersebut, pengamalan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dapat diwujudkan melalui sikap menghormati kebebasan beragama dan keyakinan orang lain.

Sementara itu, sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merusak persaudaraan sebagai sesama warga negara.

Ketika menemukan konten yang mengandung penghinaan terhadap agama, suku, atau kelompok tertentu, masyarakat sebaiknya tidak ikut memperluas penyebarannya.

Melaporkan konten yang melanggar aturan platform, memberikan klarifikasi berdasarkan fakta, dan mengutamakan dialog yang santun merupakan langkah yang lebih bermanfaat daripada membalas provokasi dengan kebencian.

Persatuan bangsa tidak hanya dijaga melalui kegiatan besar atau peringatan nasional, tetapi juga melalui keputusan sederhana ketika menggunakan media sosial.

Pancasila sebagai Pedoman Moral di Dunia Digital

Perkembangan teknologi tidak mengurangi relevansi Pancasila. Sebaliknya, derasnya arus informasi justru membuat nilai-nilai dasar bangsa semakin diperlukan.

Kelima sila Pancasila dapat menjadi pedoman dalam membangun kebiasaan digital yang lebih bertanggung jawab.

Sila pertama mengajarkan pentingnya menghormati agama dan keyakinan orang lain. Dalam bermedia sosial, nilai ini dapat diterapkan dengan tidak menyebarkan konten yang menghina atau memprovokasi konflik keagamaan.

Sila kedua mengingatkan setiap orang agar memperlakukan sesamanya secara manusiawi, termasuk dengan menghindari perundungan digital, penghinaan, dan serangan pribadi.

Sila ketiga menekankan pentingnya menjaga persatuan. Pengguna media sosial perlu berhati-hati terhadap informasi yang sengaja dibuat untuk mengadu domba masyarakat.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan pentingnya mengedepankan pertimbangan yang matang, mendengarkan pendapat orang lain, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog.

Adapun sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi seharusnya memberikan manfaat yang merata, termasuk bagi masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses dan kemampuan digital.

Dengan demikian, Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan pedoman yang dapat diterapkan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.

Menjadi Pengguna Media Sosial yang Lebih Bertanggung Jawab

Menciptakan ruang digital yang sehat tidak harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang diterapkan secara konsisten.

Membaca informasi sampai selesai sebelum memberikan tanggapan merupakan salah satu contohnya. Kebiasaan ini membantu mengurangi kesalahpahaman akibat hanya membaca judul atau melihat potongan unggahan.

Selain itu, pengguna media sosial perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

Ketika menemukan pendapat yang berbeda, usahakan memberikan tanggapan dengan bahasa yang sopan dan berdasarkan alasan yang jelas.

Apabila menemukan konten yang mengandung ujaran kebencian atau provokasi, hindari ikut menyebarkannya. Gunakan fasilitas pelaporan yang tersedia apabila konten tersebut melanggar aturan.

Tidak kalah penting, masyarakat juga perlu lebih aktif menyebarkan informasi yang bermanfaat, seperti konten pendidikan, kegiatan sosial, budaya, dan berbagai bentuk kerja sama yang memperkuat persaudaraan.

Media sosial sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Potensi tersebut akan memberikan manfaat apabila digunakan dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Scrolling Boleh, tetapi Persatuan Tetap Harus Dijaga

Pada akhirnya, media sosial hanyalah sarana. Dampak positif atau negatifnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.

Kebiasaan scrolling, mengunggah konten, memberikan komentar, dan membagikan informasi merupakan bagian dari kehidupan digital yang tidak dapat dihindari. Namun, setiap aktivitas tersebut tetap membutuhkan pertimbangan moral.

Jangan sampai kemudahan berkomunikasi justru membuat masyarakat semakin mudah bertengkar. Jangan pula perbedaan pandangan berubah menjadi alasan untuk saling membenci.

Pancasila tidak cukup hanya diucapkan dalam upacara atau dihafalkan sebagai bagian dari pelajaran sekolah. Nilai-nilainya perlu hadir dalam tindakan nyata, termasuk ketika seseorang memegang ponsel dan berinteraksi dengan orang lain melalui media sosial.

Memilih untuk memeriksa fakta daripada menyebarkan hoaks, mengutamakan kesantunan daripada penghinaan, serta menjaga persatuan daripada mengikuti provokasi merupakan bentuk sederhana pengamalan Pancasila.

Karena itu, tidak ada yang salah dengan menikmati media sosial selama dilakukan secara bijak. Teknologi boleh terus berkembang, tetapi nilai kemanusiaan, toleransi, dan persatuan tidak boleh ditinggalkan.

Scrolling boleh, berbeda pendapat boleh, tetapi jangan sampai jempol kita menjadi penyebab perpecahan bangsa.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/scrolling-boleh-pecah-belah-jangan-pancasila-media-sosial/98442/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 13.59 WITA

  • #Literasi Digital
  • #etika digital
  • #hoaks
  • #kebebasan berpendapat
  • #media sosial
  • #pancasila
  • #persatuan bangsa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

Pilihan Editor

  1. 1 Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan
  2. 2

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

  3. 3

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  4. 4

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  5. 5

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.