Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Remaja Kini Mudah Minder, Orangtua Perlu Lebih Peka

Remaja Kini Mudah Minder, Orangtua Perlu Lebih Peka

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
18 Agustus 2026, 12.53 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Mudah Minder
Ilustrasi seorang perempuan yang tampak minder dan kurang percaya diri di tengah keramaian, menggambarkan perasaan terasing, ragu terhadap diri sendiri, dan sulit berinteraksi dengan lingkungan sosial. (Ilustrasi/AI)
JurnalPost.com - Di balik kebiasaan remaja membandingkan diri di media sosial dan lingkungan pergaulan, tersimpan tekanan psikologis yang sering tidak disadari orangtua. “Pa/Ma, aku jelek ya?” Pertanyaan sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele bagi sebagian orangtua. Namun, bagi banyak remaja, kalimat tersebut sebenarnya menyimpan kecemasan yang jauh lebih dalam. Di usia ketika mereka sedang mencari jati diri, penilaian terhadap penampilan, prestasi, hingga penerimaan sosial menjadi sangat penting. Sayangnya, di era media sosial dan lingkungan pergaulan yang semakin kompetitif, banyak remaja tumbuh dengan kebiasaan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai social comparison, yaitu kecenderungan individu menilai diri sendiri dengan membandingkan kehidupan, kemampuan, atau penampilan orang lain. Pada masa remaja, kondisi ini menjadi semakin kuat karena fase perkembangan mereka memang ditandai dengan pencarian identitas diri. Remaja usia 12–18 tahun sedang berada pada tahap perkembangan psikososial identity versus role confusion menurut Erik Erikson. Pada fase ini, remaja mulai aktif bertanya tentang siapa dirinya, bagaimana dirinya dilihat orang lain, dan apakah dirinya cukup “baik” dibanding teman-temannya.Tidak heran jika banyak remaja akhirnya menjadi sangat sensitif terhadap komentar sosial, jumlah pengikut media sosial, pencapaian akademik, gaya berpakaian, hingga penampilan fisik. Sedikit saja merasa tertinggal, mereka dapat mengalami tekanan emosional yang cukup besar. Kondisi ini ditemukan dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di salah satu RPTRA di Jakarta pada awal tahun 2026. Observasi dan wawancara terhadap remaja usia SMP (12-15 tahun) menunjukkan adanya kecenderungan kuat untuk membandingkan diri dalam aspek penampilan fisik, pencapaian akademik, dan penerimaan sosial di lingkungan pergaulan.Yang menarik, ketika dilakukan pengukuran psikologis, sebagian besar remaja memang berada pada kategori sedang dalam tingkat social comparison. Namun, hasil wawancara menunjukkan kondisi yang lebih kompleks. Banyak remaja ternyata memiliki penilaian diri yang negatif, mudah merasa tidak cukup baik, dan belum memiliki kemampuan mengelola emosi secara sehat ketika merasa kalah dibanding orang lain. Sayangnya, kondisi seperti ini sering luput dari perhatian orangtua. Banyak orangtua baru menyadari ada masalah ketika anak mulai murung, mudah marah, menarik diri, atau mengalami penurunan prestasi akademik. Padahal, tekanan psikologis pada remaja sering muncul dalam bentuk yang lebih halus dan tersembunyi. Ada remaja yang terlihat baik-baik saja tetapi diam-diam merasa dirinya tidak menarik. Ada yang terus memaksakan diri tampil sempurna agar diterima lingkungan. Ada pula yang menjadi sangat keras terhadap dirinya sendiri ketika gagal mencapai standar tertentu. Media sosial memperparah kondisi ini. Remaja terus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna, lebih cantik, lebih populer, atau lebih berhasil. Tanpa kemampuan mengelola emosi yang baik, mereka mudah terjebak dalam keyakinan bahwa dirinya kurang berharga. Mereka tumbuh di tengah banjir informasi, standar sosial yang tinggi, dan tekanan untuk selalu terlihat baik di depan orang lain. Karena itu, kehadiran orangtua yang peka secara emosional menjadi semakin penting. Tips agar remaja tidak membandingkan diri secara negatif:
  1. Kurangi kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain
Kalimat seperti “Lihat temanmu bisa kok” mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi justru dapat membuat remaja merasa diri tidak cukup baik. Fokuslah pada perkembangan anak dibanding pencapaian orang lain.
  1. Apresiasi proses, bukan hanya hasil
Remaja perlu tahu bahwa usaha mereka dihargai, bukan hanya nilai atau prestasinya. Pujian terhadap keberanian mencoba dan ketekunan membantu anak membangun rasa percaya diri yang lebih sehat.
  1. Ajarkan bahwa media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan
Bantu remaja memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah “bagian terbaik” kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh kehidupan nyata.
  1. Bangun komunikasi yang aman dan tidak menghakimi
Remaja lebih mudah terbuka ketika merasa didengar tanpa langsung dikritik atau diberi ceramah. Dengarkan lebih dulu sebelum memberi solusi.
  1. Bantu anak mengenali kelebihan dirinya sendiri
Ajak remaja menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda. Tidak semua keberhasilan harus terlihat sama.
  1. Hindari tuntutan perfeksionisme berlebihan Terlalu menuntut anak untuk selalu sempurna dapat membuat mereka mudah cemas dan takut gagal. Remaja perlu belajar bahwa gagal adalah bagian normal dari proses berkembang.
  2. Ajarkan self-compassion atau welas diri Bantu anak belajar berkata pada dirinya sendiri, “Tidak apa-apa belum berhasil sekarang,” dibanding terus menyalahkan diri sendiri ketika mengalami kegagalan.
  3. Perhatikan tanda-tanda tekanan psikologis pada remaja Jika anak mulai sering mengkritik dirinya sendiri, menarik diri dari pergaulan, terlalu sensitif terhadap komentar sosial, atau kehilangan semangat belajar, orangtua perlu lebih peka dan memberi dukungan emosional.
  4. Ciptakan rumah sebagai tempat paling aman bagi anak Remaja yang merasa diterima di rumah cenderung lebih kuat menghadapi tekanan sosial di luar. Kehangatan emosional dari keluarga menjadi pelindung penting bagi kesehatan mental mereka.
  5. Ingat bahwa setiap anak punya waktunya masing-masing Tidak semua remaja harus unggul dalam hal yang sama atau berkembang dengan kecepatan yang sama. Yang paling penting adalah membantu anak bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional dan percaya pada dirinya sendiri.
Sarah Zahrani1, Dinda Fitriyadi2, Radhiatul Iffa3, Denrich Suryadi4 Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara123 dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara4

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/remaja-kini-mudah-minder-orangtua-perlu-lebih-peka/97301/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.50 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Tarumanagara

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

Pilihan Editor

  1. 1 Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan
  2. 2

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

  3. 3

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  4. 4

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  5. 5

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.