
Oleh Andiena Awaliatu Nissa, Mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital dan Media SV IPB
JurnalPost.com – Sudah 26 tahun menjadi guru bahasa Jerman, sudah ada banyak anak muridnya yang berhasil menjejakan kaki di negeri pemikir dan penyair. Dengan cara mengajarnya yang menyenangkan juga memberikan ketertarikan tersendiri bagi anak muridnya untuk lanjut belajar bahasa Jerman di perguruan tinggi.
Bernama lengkap Yanti Rostianti, wanita yang kerap disapa Frau Yanti ini lahir di Bogor pada tanggal 14 Desember 1971. Sebelum akhirnya menjadi guru bahasa Jerman, Ibu Yanti pernah mengenyam pendidikan di SMA Negeri 2 Kota Bogor dan melanjutkan ke perguruan tinggi Universitas Pendidikan Indonesia yang saat itu masih bernama IKIP Bandung untuk menyelesaikan studi S1-nya pada Program Studi Bahasa Jerman dan melanjutkan jenjang magister di Universitas Pakuan.
Keputusannya belajar bahasa Jerman karena terinspirasi oleh guru bahasa Jermannya saat di bangku SMA dan juga saat itu masih sedikit sekali jumlah guru bahasa Jerman di Bogor. Juga pada masanya nyaris tidak ada satupun orang dari kampung halamannya yang bisa berbahasa Jerman sehingga membuatnya merasa tertarik untuk mencoba hal baru.
Dari situlah Ibu Yanti memutuskan untuk berkuliah di jurusan bahasa Jerman dan menjadi guru bahasa Jerman. Ketertarikannya untuk belajar bahasa Jerman ini pula yang menghantarkannya hingga bisa pergi ke negara Jerman sebanyak tiga kali melalui beasiswa dari Dinas Pertukaran Pendidikan Kementrian Pendidikan Jerman {Pedagogische Austauschdienst atau PAD). Kesempatannya pergi ke Jerman ia dapatkan ketika sudah menjadi guru bahasa Jerman.
Tahun 1998 Ibu Yanti menjadi guru bahasa Jerman di sebuah sekolah menengah atas di Sukabumi, sebelum akhirnya pada 2004 ia pindah tempat mengajar ke SMA Negeri 1 Leuwiliang sampai sekarang.
Tahun 2009 menjadi tahun keberangkatan pertamanya ke Jerman. Pada kesempatan ini ia mengikuti program hospitasi selama tiga pekan di sebuah sekolah Gymnasium (kelas 5 – kelas 13). Selama di Jerman ia tinggal bersama sebuah keluarga yang salah satu anggota keluarganya adalah guru pada Gymnasium tersebut. Selama mengikuti hospitasi banyak pengalaman yang diperoleh baik dalam hal metodik didaktik maupun lintas budaya.
Keberangkatan kedua dan ketiga pada tahun 2010 dan 2016, Ibu Yanti dapatkan dari beasiswa yang diadakan oleh Goethe Institut dan PAD. Namun berbeda dengan yang pertama pada keberangkatan kedua dan ketiga ini, Ibu Yanti mengikuti program kursus bahasa (Sprachkurs) dan Seminar (Fortbildung) selama dua pekan yang pesertanya adalah para guru bahasa Jerman dari berbagai negara di Asia, Afrika, dan Eropa sejumlah 20 peserta. Selain kursus bahasa dan seminar di perguruan tinggi, dalam kegiatan ini juga diselipkan program hospitasi di beberapa sekolah, kunjungan ke berbagai museum, menonton teater, mengunjungi konser musik, dan rekreasi ke beberapa kota di negara bagian lain yang ada Jerman.
Untuk dapat memperoleh beasiswa seperti ini, para guru bahasa Jerman di Indonesia harus melalui beberapa tahapan seleksi oleh Goethe Institut Indonesia. Seperti prestasi yang didapatkan ketika mengikuti diklat guru bahasa Jerman yang diselenggarakan oleh Goethe Institut bekerja sama dengan P4TK Bahasa, dimana selama diklat berlangsung akan ada kandidat terbaik yang berhak untuk diberikan beasiswa ke Jerman. Selain itu, keaktifan guru dalam organisasi MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan IGBJI (Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia) juga menjadi salah satu pertimbangan Goethe Institut.
Ada banyak pengalaman dan pengetahuan yang Ibu Yanti dapatkan setelah pergi ke Jerman. Pengalaman dan pengetahuan yang ia dapat tersebut dibagikan pula kepada guru-guru bahasa Jerman lainnya, juga kepada anak didiknya. Tentu saja dari cerita tersebut sedikit banyak memberikan motivasi kepada guru lain dan juga para siswa.
Selama perjalanan karirnya sebagai seorang guru bahasa Jerman, sudah banyak pengalaman dan prestasi yang ia dapatkan. Tidak sekali dua kali saja Ibu Yanti mendapat undangan untuk menjadi narasumber dalam kegiatan workshop dan berbagi praktik baik, ia juga pernah menjadi instuktur kabupaten untuk kurikulum 2013, yang tugasnya mengajarkan kurikulum 2013 kepada guru-guru di sekolah lain yang berada di berbagai daerah.
Saat ini selain menjadi guru bahasa Jerman, Ibu Yanti juga memiliki peran lain baik di lingkup sekolah maupun di luar sekolah. Sejak 2021 sampai sekarang, ia menjadi kepala perpustakaan SMA Negeri 1 Leuwiliang. Menjadi ketua Komunitas Belajar Guru Bahasa dan Seni SMA Negeri 1 Leuwiliang, ia juga memberikan kursus gratis bahasa Jerman untuk siswa kelas 10 di sekolah tempatnya mengajar setelah pulang sekolah. Pernah menjabat ketua MGMP Bahasa Asing SMA Kabupaten Bogor selama dua periode, dan sekarang masih aktif sebagai bendahara pada organisasi tersebut. Selain itu ia pun menjadi anggota MGMP Bahasa Jerman tingkat Provinsi Jawa Barat dan Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia (IGBJI).
Sudah banyak anak muridnya yang berhasil pergi ke Jerman dan mendapatkan kesempatan belajar atau bekerja di negara tersebut, bahkan beberapa ada pula yang mendapatkan beasiswa untuk studi di sana. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri sebagai guru yang mengajarkan bahasa Jerman.
Dengan semua prestasi dan pencapaian yang sudah didapatkan Ibu Yanti menjadi bukti bahwa belajar adalah kunci atas semua keberhasilan yang didapatkan. Menjadi seorang guru bukan berarti ilmu yang didapatkan sudah cukup untuk mengikuti perkembangan jaman apalagi dengan sistem pendidikan yang terus berubah. Dengan terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan berprestasi maka semua yang diinginkan perlahan akan menjadi kenyataan. Bukan hal yang mudah tentunya untuk bisa pergi ke luar negeri dengan beasiswa, perlu adanya perjuangan agar mampu bersaing dengan para pejuang beasiswa lainnya.




