
Oleh: Yogi Saputra
Nim :22016160
Matkul :Berita dan Fotografi
JurnalPost.com – Langit sore di atas kampus terlihat sama seperti bertahun-tahun lalu — pucat, lembut, dan sedikit berdebu. Di bawah rindangnya pohon flamboyan dekat gedung fakultas, Aby duduk sendirian, menatap layar laptop yang menampilkan file bernama Skripsi_Final_Beneran.docx.
File itu sudah dibuat tiga tahun lalu, direvisi puluhan kali, namun tak pernah benar-benar selesai. Ia menarik napas panjang. Baginya, layar itu bukan sekadar alat kerja, tapi cermin yang memantulkan hidupnya — tertunda, menggantung, dan terus mengulang.
Aby adalah mahasiswa semester ke-15.
Sebuah angka yang, bagi sebagian orang, terdengar mustahil. Di kampus, banyak yang mengenalnya sebagai “mahasiswa abadi”, sebutan yang lebih sering dilontarkan dengan nada bercanda. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang Aby rasakan jauh lebih dalam — rasa malu, kehilangan arah, dan ketakutan eksistensial yang tak mudah dijelaskan.
Ia mengakui, sebagian besar penyebab keterlambatannya adalah akademik dan personal. Beberapa mata kuliah harus ia ulang karena nilai yang belum mencukupi. Ia sempat tertinggal dari teman-temannya, dan pernah cuti dua kali: sekali karena masalah keluarga, dan sekali lagi karena dirinya merasa terlalu lelah. Namun ketika ia kembali, dunia kampus sudah berubah — kurikulum berganti, dosen baru bermunculan, dan nama-nama di kelas hampir semua asing.
Aby merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Setiap langkah di koridor kampus menimbulkan gema yang memantul di kepalanya: Kapan kamu lulus? Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk lebih dalam dari yang orang kira. Bagi Aby, pertanyaan itu bukan tentang administrasi atau nilai, tapi tentang identitas. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri — apakah ia masih seorang mahasiswa, atau hanya seseorang yang menolak meninggalkan masa lalu?
Malam-malam Aby di kamar kos dipenuhi oleh renungan yang tak berujung. Ia memandangi sertifikat seminar yang menempel di dinding, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia pernah produktif, pernah berjuang. Namun setiap kali ia membuka berkas skripsinya, jari-jarinya berhenti di tengah kalimat. Pikiran kosong. Seolah otaknya menolak melangkah lebih jauh.
Dalam diam, ia mulai curiga: apakah ia benar-benar masih belajar, atau hanya bersembunyi di balik rutinitas yang ia pahami?
“Saya takut lulus,” katanya suatu kali kepada dosennya, tanpa sadar kalimat itu keluar begitu saja.
Dosen itu hanya menatapnya sebentar, lalu tersenyum. “Mungkin kamu bukan takut lulus, tapi takut kehilangan sesuatu yang sudah terlalu lama jadi bagian dirimu.”
Kata-kata itu membekas. Aby sadar bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, melainkan “ruang aman” di mana ia merasa memiliki kendali. Dunia luar baginya terasa seperti labirin tanpa peta, penuh ketidakpastian.
Di kampus, semuanya teratur: nilai, jadwal, sistem, bahkan kegagalannya pun terasa terprediksi. Dunia luar tidak memberi kemewahan seperti itu.
Hari-hari Aby berjalan lambat. Ia mengikuti kelas tambahan, mengulang beberapa mata kuliah, dan mencoba menata kembali semangatnya. Tapi di dalam dirinya, masih ada ruang hampa yang tak bisa diisi oleh teori atau tugas. Ia mulai kehilangan minat berinteraksi, menghindari pertemuan dengan teman-teman lama.
Ia sering menatap ke cermin dan bertanya, “Aku masih mahasiswa? Atau aku cuma seseorang yang tersesat di antara waktu?”
Rasa cemasnya berubah menjadi semacam kebiasaan mental.
Ia mulai mengalami overthinking sebelum tidur, membayangkan bagaimana jika ia tidak pernah bisa menyelesaikan kuliah, bagaimana jika dunia luar sudah tidak menunggunya. Kadang ia bermimpi berada di kelas yang sama berulang-ulang, dengan dosen yang selalu berkata, “Kita lanjut minggu depan,” tapi minggu depan tak pernah tiba.
Ia terbangun dengan keringat dingin, merasa seolah waktunya membeku.
Namun suatu sore, saat sendirian di perpustakaan, Aby menemukan buku psikologi lama tentang self-concept dan meaning of failure. Di sana tertulis:
“Kegagalan bukanlah akhir dari usaha, melainkan ruang bagi jiwa untuk mengenali dirinya sendiri.”
Entah mengapa kalimat itu menyalakan sesuatu di dalam dirinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aby berhenti menyalahkan keadaan. Ia mulai menulis bukan karena tuntutan dosen, tapi karena ingin jujur pada dirinya sendiri. Ia menulis di halaman pertama skripsinya:
“Penelitian ini bukan hanya tentang teori, tapi tentang diriku yang sedang belajar memahami apa itu makna bertahan.”
Perlahan, perubahan itu terasa nyata. Aby mulai datang ke kampus lebih awal, bukan untuk mengejar kelas, tapi untuk duduk di taman dan membaca. Ia berbicara dengan dosen bukan untuk meminta kelonggaran, tapi untuk berdiskusi. Ia bahkan membantu mahasiswa baru memahami materi yang dulu membuatnya gagal.
Rasa percaya dirinya tumbuh kembali, walau perlahan.
Di tengah perjalanannya, Aby menyadari bahwa ia telah melewati banyak versi dirinya: yang ambisius, yang putus asa, yang takut, dan kini — yang mencoba berdamai. Ia tidak lagi melihat semester 15 sebagai kutukan, melainkan proses panjang yang membentuk kesadarannya.
Ia belajar bahwa keberhasilan bukan diukur dari cepatnya seseorang lulus, tetapi dari seberapa dalam ia mengenal dirinya sendiri melalui perjalanan itu.
Ketika akhirnya skripsi itu selesai, Aby tidak langsung mendaftar wisuda. Ia ingin menulis satu bab tambahan: tentang perjalanan batin seorang mahasiswa yang belajar lebih banyak tentang kehidupan daripada teori. Bab itu ia beri judul, “Semester Tanpa Akhir.”
Di malam sebelum menyerahkan naskahnya, Aby menatap layar laptopnya. Tidak ada perasaan heroik, tidak ada euforia. Hanya ketenangan yang lama ia cari.
Ia tersenyum — bukan senyum pahit, tapi senyum penuh kesadaran.
“Aku mungkin lambat,” tulisnya di catatan akhir,
“tapi aku tidak berhenti. Aku mungkin tersesat, tapi aku menemukan diriku di tengah jalan.”
Ketika fajar datang, Aby menutup laptopnya.
Langit pagi tampak sama seperti biasanya — tapi untuk pertama kalinya, ia merasa waktunya bergerak lagi.




