• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dari Doa Ibu ke LoA Dunia: Gelar Tidak Menunggu Tenang, Ia Melangkah di Tengah Guncang

Editor Redaksi
24 Desember 2025
in Featured
Gelar Abdi Fistawan di Lingkungan Universitas New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia (02/10/2025). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Oleh: Arum Kusuma Dewi

“Ayo kamu ternyata bisa, jangan menyerah dulu.”

Kalimat itu menjadi mantra tersendiri bagi Gelar Abdi Fistawan yang bukan sekadar penyemangat di catatan kecil, melainkan napas yang menuntun langkahnya di tengah malam-malam panjang penuh angka, deadline, dan ketidakpastian. Di usia belasan, ia sudah belajar bahwa kadang satu-satunya orang yang bisa meyakinkan kita untuk tetap berjalan hanyalah diri sendiri. Momen itu datang di sebuah kamar kecil di asrama Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Jakarta. Saat sebagian teman sudah tertidur, layar laptopnya menyala menampilkan satu pesan yang mengubah segalanya “Congratulations! You’ve been accepted at Wageningen University & Research.” Gelar terpaku. Bukan bahagia yang pertama ia rasakan, melainkan rasa tidak percaya. Ia bahkan harus membaca ulang beberapa kali, memastikan itu bukan sekadar mimpi.

Empat LoA (Letter of Acceptance) dari universitas yang sama bukan prestasi kecil. Tapi di balik layar yang sederhana itu, ada perjalanan penuh jatuh bangun yang jarang diketahui orang: perjuangan menembus ujian SAT yang hanya dibuka sebulan sekali, revisi esai berkali-kali, hingga tekanan dari waktu yang terasa makin sempit. “Waktu itu cuma ada satu kesempatan terakhir di Desember,” kenangnya. “Kalau gagal, berarti selesai.” Bagi Gelar, kata berhasil tidak punya makna glamor. “Berhasil itu ketika bisa mendapat dampak positif dari apa yang kita usahakan,” ujarnya pelan. Ia tak bicara soal panggung besar, tapi tentang rasa tenang yang datang setelah melewati hari-hari yang hampir membuatnya menyerah.

Perjalanan Gelar tidak datang dari keluarga yang semuanya mulus. Ia menyebut rumahnya “kurang harmonis,” tapi di sanalah benih kekuatannya tumbuh. “Mereka bilang mimpi ke luar negeri itu cuma angan,” ucapnya tanpa dendam. Namun justru karena itu, setiap pencapaiannya terasa lebih bermakna. Yang paling ia rindukan bukan rumah megah atau pesta keberangkatan, melainkan hal yang sederhana: masakan ibu. “Itu yang paling saya cari ketika jauh,” katanya lirih. Kadang, satu piring nasi hangat bisa lebih menguatkan dari ribuan kata motivasi.
Gelar tidak tumbuh dari “keberuntungan yang tiba-tiba.” Ia adalah hasil dari kebiasaan yang konsisten sejak SMP: belajar lebih awal, membuat tenggat pribadi lebih cepat dari batas sekolah. Di SMA, kebiasaan itu makin terasah ketika ia bergabung dalam Beasiswa Indonesia Maju (BIM) angkatan 4. “Saya tidak genius,” katanya sambil tersenyum. “Saya cuma terbiasa disiplin.” Ia aktif di dua organisasi yaitu Kerohanian Islam dan Adiwiyata Castra dan bahkan menjadi ketua di keduanya. Bagi Gelar, sibuk bukan alasan untuk menyerah. “Kalau kita tahu apa yang mau dicapai, waktu itu bisa dibagi.”

Namun di balik jadwal yang padat, ia juga menyimpan ketakutan yang realistis: “Bisakah saya kuliah dengan kondisi ekonomi seperti ini?” Pertanyaan itu menjadi bahan bakar, bukan penghalang. Karena bagi Gelar, takut bukan berarti berhenti namun belajar berjalan sambil gemetar. Ketika orang lain sibuk dengan acara perpisahan SMA, Gelar justru menulis esai. Puluhan kali. Setiap universitas punya gaya sendiri, dan setiap esai punya tantangan berbeda. “Yang paling melelahkan itu esai Amerika,” katanya. “Mereka minta personal tapi tidak boleh terlalu personal. Harus jujur, tapi tetap akademis.”

Ia sempat mengalami titik jenuh. Burnout datang bersamaan dengan tes IELTS dan SAT yang membuat banyak teman lain menyerah. Namun Gelar memilih memegang satu prinsip yang ia sebut “I deserve the spot.” Baginya, semua orang punya kesempatan yang sama, tapi hanya yang bertahan yang akan sampai. Skor SAT Math 740/800 menjadi bukti nyata bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia. Tapi yang lebih penting dari angka itu adalah ketahanan mental yang dibangun selama proses. “Setiap kali gagal, saya bilang ke diri sendiri: oke, berarti belum waktunya.”

Kabar LoA terus berdatangan. Ia bahkan sempat lupa pernah mendaftar ke beberapa kampus sampai akhirnya membuat daftar sendiri di spreadsheet. Tapi di tengah euforia itu, ada kekhawatiran yang membayangi: beasiswa yang belum juga pasti “Saya diterima UNSW Sydney, tapi statusnya international sponsored student,” ujarnya. Artinya, jika sponsor belum ada, statusnya bisa dibatalkan kapan saja. “Jadi, LoA itu seperti kertas yang bisa terbang kalau tidak dipegang dengan beasiswa.”

Dan keajaiban itu datang: pengumuman Beasiswa Garuda. “Saya ingat, itu hari yang sangat emosional,” kenangnya. Ia menatap layar ponselnya lama bukan karena tidak percaya, tapi karena sadar, mulai hari itu hidupnya tidak lagi sama. Beasiswa Garuda bukan hanya tiket kuliah, tapi amanah. “Saya takut mengecewakan negara,” katanya jujur. Ketakutan itu bukan beban, melainkan bentuk cinta: keinginan agar setiap rupiah yang dikucurkan negara benar-benar berbuah.

Kini, Gelar menjadi mahasiswa Bachelor of Engineering (Honours) di University of New South Wales (UNSW), Sydney. Tahun pertamanya ia isi dengan General Engineering, dan ia sudah menyiapkan langkah untuk fokus ke Renewable Energy Engineering. “Saya ingin berkontribusi pada energi bersih,” katanya dengan mata berbinar. Ritme kampus di Australia cepat dan kompetitif. Kuliah diisi dengan Lecture, Lab, dan Tutorial yang menuntut inisiatif, “Awalnya minder,” ia jujur. “Tapi lama-lama saya sadar, kalau mau bertahan, harus berani bicara.” Dari situ, pertemanan tumbuh, mereka belajar, berdiskusi, bahkan bercanda dalam bahasa yang kadang tidak sepenuhnya ia kuasai, tapi penuh makna universal: kerja keras.

Di tengah kesibukan akademik, Gelar tetap menjaga keseimbangan. Ia belajar di rumah karena jarak ke kampus sekitar 15 menit berjalan kaki. Jika jenuh, ia pergi ke pantai sambil mendengarkan musik. “Pantai itu kayak ruang napas,” ujarnya. “Tempat untuk ingat lagi kenapa saya berjuang sejauh ini.”

Bagian unik lain dari perjalanan Gelar adalah pelajaran Mandarin yang ia ambil sejak masa pembinaan beasiswa. “Awalnya berat,” katanya. “Begitu masuk level tiga, nggak ada pinyin. Semua huruf, semua harus dihafal.” Tapi dari situ ia belajar arti sebenarnya dari kata “konsisten.” Dan ketika ditanya apa arti menjadi orang Indonesia di ruang global, Gelar tidak butuh waktu lama menjawab: “Menjadi duta bangsa. Tetap berjati diri Indonesia meski di luar negeri.” Jawaban itu sederhana, tapi tulus. Karena bagi Gelar, representasi tidak datang dari bendera di meja konferensi, tapi dari sikap sehari-hari: kerja keras, rendah hati, dan rasa hormat pada orang lain.

Setiap keberhasilan membawa beban baru. “Saya masih sering takut gagal,” ia mengaku. Tapi kini ia tahu caranya berdamai: dengan tidak menyembunyikan kelelahan, dan belajar memaafkan diri sendiri. Ada satu pertanyaan yang ia renungkan lama: “Kalau semua prestasi ini hilang, apa yang tersisa dari diri saya?” Ia menunduk sejenak sebelum menjawab: “Mungkin saya cuma orang biasa. Tapi setidaknya orang biasa yang pernah mencoba.” Dan mungkin di situlah nilai sebenarnya dari kisah Gelar. Ia bukan sekadar siswa cerdas dengan sederet LoA, tapi seseorang yang berani bermimpi di tengah keterbatasan, yang tahu bahwa doa ibu dan keyakinan kecil bisa membawa langkah sejauh ribuan kilometer.

Sebelum menutup pembicaraan, ia sempat berpesan untuk generasi muda di Indonesia. Bukan dengan kalimat panjang atau kata motivasi mahal, melainkan dengan nada yang jujur dan hangat: “Persiapkan diri. Berjuanglah sekuat-kuatnya. Karena sebelum sukses, kita pasti akan menemukan kegagalan. Tapi justru di sanalah kita belajar siapa diri kita sebenarnya.”

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

Inspiratif! Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang Sukses Menyeimbangkan Kuliah dan Kepanitiaan di Acara Komukino 2025

Inspiratif! Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang Sukses Menyeimbangkan Kuliah dan Kepanitiaan di Acara Komukino 2025

Editor Redaksi
22 Desember 2025
0

Semarang, JurnalPost.com, 18 Desember 2025 — Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) Kembali menunjukkan kapasitas dan profesionalisme mereka...

Melangkah Teguh Menuju Puncak Prestasi

Melangkah Teguh Menuju Puncak Prestasi

Editor Redaksi
16 Desember 2025
0

Oleh : Resti Melysa JurnalPost.com - Di balik sorak penonton dan gemerlap arena pertandingan, tersimpan kisah panjang tentang disiplin, pengorbanan,...

SEMESTER TANPA AKHIR

SEMESTER TANPA AKHIR

Editor Redaksi
16 Desember 2025
0

Oleh: Yogi Saputra Nim        :22016160 Matkul   :Berita dan Fotografi JurnalPost.com - Langit sore di atas kampus terlihat sama seperti bertahun-tahun...

Air Terjun Lubuk Batang:  Pesona Tersembunyi dari Lima Puluh Kota

Air Terjun Lubuk Batang: Pesona Tersembunyi dari Lima Puluh Kota

Editor Redaksi
7 Desember 2025
0

Oleh: Eza Dwi Rahayu Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNP JurnalPost.com - Di tengah eksotisme Kabupaten Lima Puluh Kota,...

Gadis Kecil yang Memiliki Cita-Cita yang Tinggi

Gadis Kecil yang Memiliki Cita-Cita yang Tinggi

Editor Redaksi
5 Desember 2025
0

JurnalPost.com - Di sebuah desa kecil, ada seorang gadis yang bernama Yamsasni atau kerap orang-orang memanggilnya dengan sebutan Iyen. Iyen...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.