
JurnalPost.com – Di sebuah desa kecil, ada seorang gadis yang bernama Yamsasni atau kerap orang-orang memanggilnya dengan sebutan Iyen. Iyen lahir dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan bisa dibilang miskin. Ayahnya atau yang biasanya dipanggil Yunan adalah seorang pegawai rendahan, sedangkan ibunya atau yang biasa dipanggil dengan nama Ani itu hanya seorang ibu rumah tangga. Iyen memiliki 10 bersaudara kakak beradik yang diantaranya adalah 5 orang anak laki-laki dan 5 orang anak perempuan. Masing-masing dari saudaranya sudah memiliki tugas yang diberikan oleh orang tuanya.
Iyen adalah seorang anak yang sangat rajin dan suka berbaur kepada orang-orang sekitar. Kehidupan sehari-harinya adalah membantu orang tua berjualan untuk mencari nafkah. Terkadang ia juga ikut berjualan keliling, menjual masakan ibunya. Iyen juga kerap membantu ibunya berjualan di pasar, sehingga bibit-bibit untuk menjadi pengusaha itu sudah mulai terlihat. Setelah tamat sekolah menengah pertama, ia dipanggil oleh ibunya (Ani), yang mengatakan bahwa ibunya sudah tidak sanggup untuk membiayai sekolahnya ke jenjang sekolah menengah atas. “Seandainya ingin melanjutkan sekolah carilah biaya sendiri” ucap ibunya. Iyen termenung sejenak, ia sangat ingin melanjutkan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan yang tinggi dan menjadi orang yang sukses.
Agar bisa melanjutkan sekolahnya, ia berusaha mencari uang sendiri dengan cara membantu orang berjualan telur pecah, yang ia jualkan lagi dan dari hasil penjualan itu ia mendapat bonus dari si pemilik telur tersebut. Kebiasaan hari-harinya ia juga membantu kedua orang tuanya berjualan beras. Iyen adalah anak yang cerdas, ia membeli beras dengan orang lain dengan harga yang lebih murah, kemudian ia menjualnya ke orang tuanya dengan harga normal. Sehingga mendapatkan untung dari hasil berjualan beras tadi untuk biaya kebutuhan sekolah. Pada kelas 2 sekolah menengah atas, iyen diajak oleh kantor penerangan untuk ikut bermain drama tentang penyuluhan. Nah, dari hasil itu ia juga mendapatkan tambahan uang saku. Kegiatan itu dijalaninya sepanjang ia bersekolah.
Pada akhir pendidikan sekolah menengah atas, ayahnya (Yunan) meninggal dunia. Ibunya tidak berjualan beras lagi, tetapi membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Setelah pulang sekolah, Iyen membantu ibunya berjualan di warung sampai malam hari. Saat Iyen lulus dari sekolah menengah atas, dan pada saat ia hendak melanjutkan di bangku perkuliahan, ia sangat bingung harus biaya dari mana. Kebetulan Iyen megenal dengan seorang anggota kepolisian yang bernama pak Yuslan atau pemilik kantin di polres. Tanpa rasa malu ia menawarkan dirinya untuk bekerja sebagai pembantu atau membantu istrinya pak Yuslan berjualan di kantin, demi ia bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Ia adalah seorang anak yang pekerja keras.
Saat ia mengantarkan sarapan pagi untuk bapak kapolres, pada saat itu bapak memanggil dan bertanya kepadanya “Sudah lama kerja di kantin dek?” lalu ia mejawab “Belum Pak, masih baru”. Bapak itu melanjutkan pertanyaannya “Gak kuliah?” “Ini saya sedang bekerja agar bisa kerja sambil kuliah, Pak” jawabnya. Dan bapak itu pun menawarkan sebuah pekerjaan kepada Iyen yaitu bekerja di kantor kepolisian sebagai PHL (Pegawai Harian Lepas). Iyen pun menyambut dengan senang tawaran itu, dan menjawab “Iya, Pak saya mau, kapan saya bisa bekerja, Pak?” tanyanya. “Kamu bisa mulai bekerja besok” jawab bapak itu.
Pagi hari pada jam 06:30 Iyen berangkat ke kantor untuk bekerja. Ia sudah meminta izin kepada ibu pemilik kantin untuk bekerja di kantor dan ibu pun mengizinkannya. Sejak saat itu, ia bekerja di kantor sebagai PHL dan setelah 1 tahun bekerja sebagai honorer, ada penerimaan untuk PNS (Pegawai Negeri Sipil), tetapi ia tidak lolos. Sembari bekerja iyen juga berkuliah di salah satu perguruan tinggi tetapi pada saat semester lima ia memiliki kendala biaya dan saudara lain tidak bisa membantu, akhirnya ia mengambil keputusan untuk berhenti atau keluar dari perkuliahan dan pekerjaannya. Iyen kembali pulang ke rumah ibunya dan kemballi membantu ibunya berjualan.
Suatu hari ia berkenalan dengan seorang lelaki yang bernama Yunazli yang bekerja sebagai penjual ikan. Setelah satu tahun setengah menjalin hubungan kedekatan, mereka pun menikah. Pada usia pernikahan dua minggu ia diajak oleh saudaranya untuk merantau dari Bangkinang ke Rengat. Beberapa bulan setelah merantau Iyen melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Tetapi kehidupan ekonomi mereka saat itu sangat minim sekali, untuk biaya melahirkan di rumah sakit Rengat hanya 30.000. Pada saat itu mereka tidak memiliki uang, dan pada hari kelima barulah datang Ibunda Iyen untuk menjemput Iyen ke rumah sakit dan untuk membawanya pulang.
Setelah anak pertama berumur 1 tahun ia membuka usaha kantin di kantor Pematang Reba di spenda sedangkan suaminya bekerja sebagai penjaga malam. Setelah setahun buka kantin di spenda Iyen dan keluarga pindah ke kantor Badan Pemerintah Daerah, sementara suaminya jadi suaminya mencari peluang usaha ke Belilas. Lalu beberapa bulan buka kantin di bepeda lahir anak kedua yang berjenis kelamin laki-laki. Alhamdulillah usaha kantin berjalan lancar dan kehidupannya mulai membaik. Suaminya didatangi oleh toke ikan dari Medan, untuk menawarkan berjualan di Belilas. Maka sejak itu suamipun berjualan ikan sementara ia tetap menjalankan usaha di kantin. Jarak tempat tinggal dengan usaha suaminya lebih kurang setengah jam jadi berangkat pagi pulangnya sore. Itulah yang ia jalani kurang lebih setahun.
Karena merasa berjualan ikan lebih menguntungkan, maka ia memilih mengikuti suami untuk pindah ke Belilas. Setelah tiga tahun di Belilas ia pun melahirkan anak ketiganya yang berjenis kelamin laki-laki. Setelah anaknya berusia satu tahun Iyen pun membuka kuliner soto tetapi, jualannya tidak bertahan lama karena dua tahun kemudian anak laki-laki yaitu anak ke empatnya lahir. Kehidupan Iyen sekeluarga dari hari ke hari semakin membaik dan sejahtera. Lalu mereka membeli setempat tanah dan membangun rumah untuk tempat tinggal. Usaha ikan pun semakin berkembang, mempunyai anggota yang sangat banyak dan suaminya pun adalah satu-satunya toke di Belilas.
Perjalanan hidup ia dan keluarganya tidak baik baik saja, karena kehidupan sudah mulai mapan maka cobaan pun mulai berdatangan. Kehidupan yang dijalani oleh keluarga Iyen pada saat itu rumah tangganya sedang diguncang oleh masalah. Iyen pun mengandung anak kelima, pada saat usia kandungan sudah membesar Iyen berangkat ke Payakumbuh (kampung) karena merasa tidak nyaman tinggal di Belilas. Pada bulan April lahirlah seorang putri atau anak kelima. Setelah kelahiran putrinya ia dijemput oleh suaminya untuk kembali ke Belilas. Karena mempunyai rezeki tambahan, Iyen dan suaminya pun membuka usaha kolam renang yang dibangun kurang lebih setahun. Setelah selesai, ia mengelola kolam renang sementara suami tetap pada usaha ikannya. Pada dua tahun saat peresmian kolam renang lahirlah anak ke enam atau bisa disebut bungsu yang berjenis kelamin perempuan.
Suaminya menyuruhnya untuk melanjutkan kuliah nya yang tertunda kemarin di saat ia masih gadis. Iyen pun mendaftar di sebuah perguruan tinggi atau sekolah tinggi ilmu ekonomi. Iyen selalu diantar jemput oleh suaminya yang jaraknya lebih kurang 45 menit dari rumah ke kampus, dan saat itu suaminya sudah mulai sakit sakitan. Pada saat ia berkuliah semester tiga suaminya meninggal dunia. Iyen menjadi orang tua tunggal, yang menjalani usahanya sendiri. Membesarkan ke-enam orang anak dengan sangat baik. Masa-masa sulit itu selalu di jalani dengan sabar dan ikhlas. Berjuang melanjutkan kuliahnya sampai pada titik akhirnya 2014 ia resmi menyandang Sarjana Ekonomi.
Kehidupan terus berjalan, ia tidak pernah merasa bosan dan tetap berusaha mencari rezeki untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya yang pada saat itu, anak kedua sudah menjadi anggota kepolisian. Anak ketiga yang ditinggal seorang ayah masih SMP sekarang telah menyelesaikan perkuliahan nya. Sementara anak keempat sedang menyelesaikan perkuliahan semester akhirnya di sebuah universitas di Riau. Lalu anak kelima yang pada saat ditinggal masih kelas satu SD kini sedang menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa semester 5 di Universitas Negeri Padang. Dan terakhir yaitu si bungsu, anak yang ditinggal di usia tiga tahun sekarang sudah duduk pada kelas 3 di bangku SMA.
Itulah lika liku perjalanan kehidupan Iyen dan keluarga. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini. Selagi mau berusaha tidak ada yang tidak mungkin. Dan janganlah pernah lupa untuk selalu berdoa kepada-Nya.




