• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Tekanan ekonomi memengaruhi kesehatan mental anak dalam keluarga berpenghasilan rendah

Editor Redaksi
25 Juni 2024
in Citizen Reporter

Oleh: M. Ridwan Reza Rivaldi
Universitas Muhammadiyah Malang

JurnalPost.com – Orang tua dengan pengetahuan rendah sangat memengaruhi perkembangan anak, terutama dalam pendidikan. Keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah cenderung fokus pada pemenuhan kebutuhan primer, sedangkan keluarga berpendidikan tinggi lebih memperhatikan perkembangan anak. Orang tua dari kelompok status sosial ekonomi menengah lebih mampu memberikan keteladanan dalam mengembangkan kehidupan sosial yang baik. Sebaliknya, orang tua dengan status sosial ekonomi rendah sulit menciptakan keadaan yang mendukung penyesuaian diri.

Berdasarkan latar belakang ini, masalah yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi anak tidak merapikan mainan, berbicara kasar, kurang kerjasama antar teman, kurang empati, kurang variasi guru dalam pembelajaran keterampilan sosial, orang tua terlalu memanjakan anak, berbicara tidak baik di depan anak, dan kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan keterampilan sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap keterampilan sosial anak usia 5-6 tahun di Kabupaten Malang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua
Ada interaksi timbal balik antara pola pengasuhan orang tua dan anak. Pola pengasuhan orang tua memengaruhi anak, dan sebaliknya, anak juga memengaruhi pola pengasuhan orang tua. Beberapa karakteristik anak yang memengaruhi pola asuh meliputi usia anak. Semakin bertambahnya usia, interaksi antara orang tua dan anak berubah. Selama masa bayi, tugas orang tua adalah memberi makan, mengganti pakaian, memandikan, dan menenangkan. Pada masa prasekolah, orang tua memperluas teknik kedisiplinan termasuk penalaran, instruksi, isolasi, hukuman, dan ganjaran. Pada masa usia sekolah, orang tua mendorong anak untuk lebih bertanggung jawab terhadap tingkah laku mereka, termasuk membuat keputusan dan menanggung konsekuensinya. Pada masa remaja, orang tua mengalami konflik potensial dengan anak yang dapat diselesaikan dengan diskusi, pemecahan masalah kolaboratif, dan kompromi.

Status Sosial Ekonomi Orang Tua
Status adalah kedudukan seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat. Status mengacu pada posisi atau keadaan seseorang dalam suatu jenjang sebagai simbol dari hak dan kewajiban serta peranan ideal yang dimilikinya. Status sosial adalah kedudukan seseorang dalam kelompok sosial yang berhubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut. Status memiliki dua aspek: aspek struktural yang mengandung perbandingan tinggi rendahnya dengan status lain, dan aspek fungsional yang berkaitan dengan peranan yang dimiliki seseorang.
Sosial merujuk pada prestise seseorang dalam masyarakat. Status sosial adalah setiap status yang melibatkan hubungan antara manusia satu dengan yang lain. Status sosial selalu mengacu pada kedudukan khusus seseorang dalam lingkungannya, martabat yang diperolehnya, serta hak dan tugas yang dimilikinya. Status sosial tidak hanya terbatas pada status dalam kelompok sendiri tetapi juga mempengaruhi status dalam kelompok lain.

Ekonomi adalah pengetahuan yang terstruktur untuk mengatur kehidupan rumah tangga, yang berkaitan dengan kelompok sosial sebagai kesatuan manusia yang hidup menurut norma dan aturan tertentu. Status sosial ekonomi adalah tingkatan seseorang berdasarkan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari penghasilan yang diperoleh. Ini memainkan peran penting dalam status sosial seseorang dalam struktur masyarakat. Penghasilan atau pekerjaan tertentu juga menentukan tinggi rendahnya status seseorang. Secara sederhana, status sosial ekonomi adalah status seseorang dalam masyarakat dilihat dari segi pendapatan, kekayaan, dan jabatan. Status sosial ekonomi dikonseptualisasikan sebagai ukuran komposit yang menggabungkan aspek ekonomi (keuangan dan kekayaan), aspek manusia (pendidikan dan pelatihan), aspek sosial (keluarga dan hubungan masyarakat), serta sumber daya dan perlindungan yang dimiliki individu atau komunitas untuk bertahan hidup.

Status sosial ekonomi dapat dipahami melalui pekerjaan, pendidikan, pendapatan, serta status sosial orang tua dalam masyarakat. Walter (dalam Rahayu, 2011:73) menyatakan bahwa ‘status sosial ekonomi mencakup kombinasi dari pendapatan keluarga, pendidikan, dan pekerjaan.’ Semua faktor ini mempengaruhi bagaimana anak merencanakan masa depannya. Status sosial ekonomi orang tua mendukung penyediaan fasilitas belajar yang dibutuhkan oleh anak (Rahayu, 2011:73). Tingkat pendidikan dan lamanya waktu pendidikan orang tua juga berdampak pada perilaku ekonomi anak. Pendidikan yang telah ditempuh orang tua secara tidak langsung membentuk karakter dan perilaku mereka (Budhiati, 2011:53). Dengan demikian, tingkat pendidikan dan durasi pendidikan orang tua memengaruhi pola asuh yang diberikan kepada anak, yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku anak tersebut.

Status sosial ekonomi sering kali disamakan dengan stratifikasi sosial, karena stratifikasi sosial juga mengelompokkan individu berdasarkan indikator tertentu seperti pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan. Nichol, et al (189) menegaskan bahwa pendekatan struktural dalam analisis kelas sosial biasanya mengukur kelas sosial melalui indikator status sosial ekonomi seperti pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan. Selain itu, status sosial ekonomi seseorang juga dilihat dari status sosial mereka dalam masyarakat.

Anak-anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda sesuai usia mereka. Pada remaja, khususnya siswa SMA, masa ini adalah saat mereka mulai menghadapi dunia nyata dan mencari jati diri mereka untuk menentukan harapan atau pandangan masa depan mereka. Harapan atau pandangan masa depan remaja merupakan orientasi yang mereka pikirkan dan ingin capai di masa mendatang, yang dipengaruhi oleh orang tua mereka. Lingkungan sekitar remaja juga berdampak pada perilaku dan keinginan mereka.

Menurut Nurmi, et al (1994), orientasi masa depan sangat terkait dengan harapan, tujuan, standar, serta rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, mimpi, dan cita-cita (Triana, 2013:282). Pembentukan orientasi masa depan adalah salah satu tugas perkembangan remaja yang mempengaruhi keberhasilan pencapaian tugas perkembangan berikutnya. Orientasi masa depan memungkinkan remaja untuk berpikir tentang keadaan di masa depan, seperti kesejahteraan hidup, yang berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan yang akan mereka tempuh untuk mencapai harapan masa depan mereka. Dampak yang terlihat adalah sikap dan perilaku remaja yang mempengaruhi proses dalam membangun orientasi masa depan, seperti kemandirian.

1. Tekanan Finansial:
Kondisi ekonomi yang sulit seringkali menyebabkan tekanan finansial yang signifikan pada keluarga. Anak-anak mungkin merasakan kekhawatiran orang tua mereka mengenai keuangan, yang dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan mereka sendiri.

2. Akses Terbatas ke Sumber Daya:
Keluarga dengan kondisi ekonomi sulit mungkin memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan mental, dukungan pendidikan, dan aktivitas rekreasi. Kurangnya akses ini dapat menghalangi anak-anak untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan untuk mengelola stres dan kecemasan.

3. Lingkungan Hidup yang Menantang:
Anak-anak yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit mungkin tinggal di lingkungan yang kurang mendukung, seperti daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi atau kondisi perumahan yang buruk. Lingkungan yang tidak aman dan tidak nyaman ini dapat meningkatkan perasaan stres dan kecemasan.

4. Pola Asuh dan Keterlibatan Orang Tua:
Orang tua yang menghadapi tekanan ekonomi mungkin memiliki lebih sedikit waktu dan energi untuk terlibat secara emosional dengan anak-anak mereka. Kurangnya keterlibatan dan dukungan emosional dari orang tua dapat membuat anak-anak merasa tidak aman dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental.

5. Stigma dan Diskriminasi:
Anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah mungkin menghadapi stigma dan diskriminasi di sekolah atau lingkungan sosial lainnya. Pengalaman ini dapat merusak harga diri mereka dan meningkatkan risiko stres dan kecemasan.

6. Paparan terhadap Kekerasan dan Konflik:
Kondisi ekonomi yang sulit dapat meningkatkan risiko konflik dalam keluarga atau paparan terhadap kekerasan, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Paparan terhadap kekerasan dan konflik ini dapat menyebabkan trauma dan masalah kesehatan mental pada anak-anak.

Dampak tuntutan ekonomi keluarga terhadap prestasi akademik anak
Orang tua adalah aktor utama yang mempengaruhi anak dan sumber daya bagi kehidupan anak. Menurut Berns (1993), perkembangan dan pembentukan anak dalam kehidupan sehari-hari terkait erat dengan interaksi di dalam keluarga. Interaksi yang berlangsung antara orang tua dengan anak dalam bentuk pemberian kasih sayang, pemenuhan kebutuhan anak, pengarahan, dan perlindungan termanifestasi dalam bentuk pengasuhan (Sunarti, 2012).

Penelitian Riska dan Krisnatuti (2018) menunjukkan bahwa anak yang memperoleh pengasuhan penerimaan yang semakin tinggi dari ibunya cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi. Pengasuhan penolakan (kekerasan dan penolakan) membuat harga diri anak semakin rendah. Penelitian lain yang dilakukan oleh Asilah dan Hastuti (2019) mengatakan bahwa adanya hubungan penerimaan ibu yang tinggi dapat meningkatkan harga diri anak. Pengasuhan dengan kekerasan dan pengabaian akan mengurangi harga diri anak dan meningkatkan perilaku perundungan pada anak.

Menurut Steinberg (2001), terdapat bukti yang menyimpulkan bahwa anak mendapat manfaat dari pengasuhan orang tua yang hangat, kuat, dan menerima kebutuhan akan otonomi psikologis anak. Pola asuh orang tua, baik yang menerima (acceptance) maupun yang menolak (rejection) anaknya akan memengaruhi perkembangan emosi, perilaku, sosial kognitif, serta fungsi psikologisnya (Khaleque & Rohner, 2002). Interaksi orang tua-anak melalui pengasuhan dapat dipengaruhi oleh permasalahan yang dihadapi oleh keluarga, salah satunya yakni kesulitan ekonomi.

Keluarga yang menghadapi situasi kesulitan ekonomi karena adanya penurunan tingkat pendapatan, ketidakstabilan pekerjaan, dan ketidakmampuan dalam membayar hutang akan menciptakan tekanan ekonomi (Conger et al., 1992). Tekanan ekonomi merupakan sindrom peristiwa atau kondisi yang memberikan pengalaman psikologis seperti stres akan kesulitan ekonomi (Gudmunson, 2010). Keluarga yang mengalami tekanan ekonomi akan melakukan adaptasi.

Penelitian Sunarti, Atat, Noorhaisma, dan Lembayung (2005) menyebutkan bahwa tekanan ekonomi adalah suatu kondisi yang diukur dengan melihat tekanan ekonomi secara aktual dan tekanan ekonomi keluarga secara persepsi yang dirasakan keluarga. Tekanan ekonomi aktual adalah suatu kondisi yang diukur dengan melihat keadaan ekonomi keluarga secara nyata, seperti kepemilikan aset, hutang, pendapatan keluarga, dan status pekerjaan. Menurut Conger, Conger, Matthews, dan Elder (1999), anak sebagai bagian dari anggota keluarga dapat memberikan penilaian tentang kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga. Penilaian anak terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga memberikan pengaruh pada tekanan emosional dan ketercapaian perkembangan anak.

Anak dengan orang tua dalam tekanan ekonomi berisiko untuk memperoleh pengasuhan kekerasan dan tentu saja akan memengaruhi capaian perkembangan anak (Simons, Whitbeck, & Wu, 1994) dan anak akan mencontoh gaya interaksi yang dipelajari dari orang tuanya dalam hubungan pertemanan seperti meniru orang tua dalam menangani konflik dengan paksaan dibandingkan dengan bernegosiasi (Downey & Coyne, 1990).

Menurut Galambos dan Silbereisen (1987), tekanan ekonomi memengaruhi perubahan perilaku pengasuhan pada ayah yang lebih bersifat menghukum, sewenang-wenang, dan menolak berdampak pada perasaan ketidakmampuan diri dan pencapaian rendah pada anak perempuan usia 13 sampai 16 tahun. Pada penelitian di Bogor, makin tinggi tingkat tekanan ekonominya maka akan makin rendah kualitas pernikahan, kualitas pengasuhan, kecerdasan emosi anak, dan pencapaian akademik anak (Sunarti et al., 2005).
Tekanan ekonomi memiliki dampak signifikan pada ketersediaan waktu orang tua untuk mendukung pendidikan anak mereka. Berikut adalah beberapa cara tekanan ekonomi mempengaruhi hal ini secara lebih rinci:

1. Peningkatan Beban Kerja: Orang tua yang mengalami tekanan ekonomi seringkali harus bekerja lebih banyak jam atau mengambil pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Hal ini mengurangi waktu yang bisa mereka habiskan bersama anak-anak mereka untuk membantu pekerjaan rumah, membaca, atau mendukung kegiatan belajar lainnya. Misalnya, seorang ibu tunggal yang harus bekerja dua pekerjaan mungkin tidak punya cukup waktu untuk memantau kemajuan akademis anaknya atau menghadiri pertemuan orang tua-guru di sekolah.

2. Stres dan Kelelahan: Tekanan ekonomi tidak hanya mempengaruhi keuangan tetapi juga kesehatan mental orang tua. Stres dan kelelahan akibat tekanan ekonomi dapat mengurangi kemampuan orang tua untuk memberikan perhatian dan dukungan emosional yang penting bagi perkembangan akademis anak. Stres ini dapat bermanifestasi dalam bentuk ketidaksabaran, mudah marah, atau ketidakmampuan untuk fokus pada kebutuhan pendidikan anak. Orang tua yang kelelahan mungkin juga tidak memiliki energi untuk terlibat dalam aktivitas belajar anak, seperti membantu dengan pekerjaan rumah atau membaca bersama sebelum tidur.

3. Keterbatasan Sumber Daya: Keluarga dengan tekanan ekonomi mungkin tidak mampu menyediakan sumber daya pendidikan seperti buku, perangkat teknologi, atau les tambahan yang dapat membantu anak dalam belajar. Kurangnya akses ke sumber daya ini dapat membuat orang tua merasa tidak berdaya dalam mendukung pendidikan anak mereka. Misalnya, dalam era digital, anak-anak membutuhkan akses ke komputer dan internet untuk mengerjakan tugas sekolah dan penelitian. Keluarga dengan tekanan ekonomi mungkin tidak mampu menyediakan fasilitas ini, yang berdampak negatif pada prestasi akademis anak.

4. Interaksi Keluarga yang Negatif: Kondisi ekonomi yang sulit dapat menyebabkan ketegangan dan konflik dalam rumah tangga, yang pada gilirannya dapat mengurangi kualitas interaksi antara orang tua dan anak. Interaksi yang penuh tekanan atau negatif ini dapat mengganggu lingkungan belajar anak dan menurunkan motivasi mereka untuk belajar. Ketegangan ini bisa menyebabkan anak merasa tidak didukung atau tidak dihargai, yang dapat berdampak pada kepercayaan diri dan keinginan mereka untuk berprestasi di sekolah.

5. Kurangnya Keterlibatan di Sekolah: Orang tua yang bekerja berjam-jam atau memiliki beberapa pekerjaan mungkin tidak memiliki waktu atau energi untuk terlibat dalam kegiatan sekolah anak-anak mereka, seperti menghadiri pertemuan orang tua-guru, mengikuti kegiatan sekolah, atau menjadi sukarelawan di acara sekolah. Keterlibatan orang tua di sekolah adalah salah satu faktor penting yang mendukung keberhasilan akademis anak. Kurangnya keterlibatan ini dapat membuat anak merasa kurang diawasi atau kurang didukung, yang dapat mempengaruhi motivasi dan pencapaian akademis mereka.

6. Dampak Jangka Panjang pada Anak: Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan tekanan ekonomi sering kali harus mengambil tanggung jawab tambahan di rumah, seperti mengurus adik-adik atau bekerja paruh waktu. Ini dapat mengurangi waktu dan energi mereka untuk fokus pada pendidikan mereka sendiri. Selain itu, tekanan untuk membantu keuangan keluarga dapat membuat anak merasa terbebani dan stres, yang berdampak negatif pada kesehatan mental dan kinerja akademis mereka.

7. Lingkungan Belajar yang Tidak Mendukung: Keluarga yang mengalami tekanan ekonomi mungkin tinggal di lingkungan yang kurang mendukung perkembangan pendidikan anak, seperti kawasan dengan sekolah berkualitas rendah atau fasilitas pendidikan yang kurang memadai. Lingkungan yang tidak mendukung ini dapat mempengaruhi motivasi dan prestasi akademis anak, serta menurunkan kesempatan mereka untuk meraih kesuksesan di masa depan.

8. Kesehatan dan Kesejahteraan Anak: Tekanan ekonomi sering kali berdampak pada kesehatan fisik dan mental anak. Anak-anak dari keluarga dengan tekanan ekonomi mungkin mengalami malnutrisi, kurang tidur, atau masalah kesehatan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar dan berkonsentrasi di sekolah. Selain itu, stres yang dialami oleh anak-anak ini dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka, meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan masalah perilaku.

9. Dukungan Sosial yang Terbatas: Tekanan ekonomi dapat membatasi akses keluarga ke dukungan sosial yang penting, seperti layanan konseling, program dukungan pendidikan, atau bantuan pemerintah. Kurangnya dukungan ini dapat membuat orang tua merasa terisolasi dan kurang mampu memberikan bantuan yang diperlukan kepada anak mereka dalam hal pendidikan.

KESIMPULAN
Pembagian kerja dan tuntutan ekonomi adalah dua faktor utama yang memengaruhi perkembangan anak secara signifikan dalam konteks keluarga modern. Dalam banyak kasus, tuntutan ekonomi yang tinggi mendorong orang tua untuk menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah untuk mencari nafkah, baik dengan bekerja lebih banyak jam atau mengambil pekerjaan tambahan. Hal ini mengakibatkan keterbatasan waktu yang dapat mereka alokasikan untuk berinteraksi dan mendukung anak-anak mereka secara langsung. Tekanan ekonomi yang dialami oleh keluarga sering kali memaksa orang tua untuk terlibat dalam pekerjaan dengan intensitas tinggi, sering kali dengan jam kerja yang tidak menentu atau jauh dari rumah. Dalam keadaan seperti ini, waktu yang bisa dihabiskan bersama anak-anak menjadi sangat terbatas. Kehadiran fisik orang tua di rumah mungkin menjadi jarang, dan ketika mereka hadir, fokus utama mereka adalah sering kali terbagi antara menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan mencoba menyediakan waktu berkualitas untuk anak-anak.

Keterbatasan waktu bersama ini memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap perkembangan anak. Anak-anak mungkin merasa kurang mendapat perhatian yang memadai dari orang tua mereka. Dukungan emosional yang diberikan oleh orang tua dapat berkurang, karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mendengarkan keluh kesah anak, berbicara tentang hari-hari mereka di sekolah, atau memberikan dorongan positif yang diperlukan untuk perkembangan mereka. Selain itu, kurangnya ketersediaan orang tua juga mempengaruhi dukungan akademis yang diterima anak. Anak-anak sering kali membutuhkan bantuan dalam mengerjakan tugas sekolah, bimbingan dalam memahami materi pelajaran, atau bahkan bantuan praktis seperti transportasi atau peralatan studi. Tekanan ekonomi dapat menghambat kemampuan keluarga untuk menyediakan sumber daya ini, seperti buku pelajaran, akses ke internet, atau biaya les tambahan yang mungkin dibutuhkan anak untuk meningkatkan prestasi akademis mereka.

Tidak hanya itu, kurangnya keterlibatan orang tua dalam kehidupan sekolah anak juga dapat mempengaruhi motivasi dan perilaku anak di lingkungan pendidikan. Orang tua yang sibuk dengan tuntutan ekonomi mungkin tidak dapat hadir dalam pertemuan orang tua-guru atau acara sekolah lainnya. Keterlibatan ini sangat penting untuk membangun hubungan yang positif antara sekolah dan keluarga serta untuk mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

Mengembangkan Karir Housekeeping Melalui One Day Career MedWist di Grand City Hotel Solo

Mengembangkan Karir Housekeeping Melalui One Day Career MedWist di Grand City Hotel Solo

Editor Redaksi
29 September 2024
0

JurnalPost.com - Salah satu tujuan pelatihan Housekeeping adalah pelatihan tentang pekerjaan di housekeeping agar kandidat memiliki skills yang diperlukan saat...

Pengabdian Masyarakat Dosen Departemen Biokimia IPB University: Peningkatan Kesehatan Masyarakat Desa Sukamaju melalui Minuman Fungsional Herbal ‘SIJAKA’ dan Sari Kedelai

Pengabdian Masyarakat Dosen Departemen Biokimia IPB University: Peningkatan Kesehatan Masyarakat Desa Sukamaju melalui Minuman Fungsional Herbal ‘SIJAKA’ dan Sari Kedelai

Editor Redaksi
2 September 2024
0

Bogor, JurnalPost.com (27/08) - Departemen Biokimia, IPB University menyelenggarakan kegiatan SKEMA: Masyarakat Sehat Pangan Sehat: Peningkatan Kesehatan melalui pengolahan sumber...

Tutorial Pembuatan Buket Snack; Mahasiswa PMM UMM Mengadakan Kegiatan Edukatif dan Kreatif untuk Pemuda Karang Taruna

Tutorial Pembuatan Buket Snack; Mahasiswa PMM UMM Mengadakan Kegiatan Edukatif dan Kreatif untuk Pemuda Karang Taruna

Editor Redaksi
30 Agustus 2024
0

JurnalPost.com - Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang merupakan suatu agenda yang wajib di lakukan bagi semua...

Kembangkan Kolaborasi Desa dengan Media Massa, PMM Mahasiswa UMM Desa Kalisongo Adakan Pelatihan Sosialisasi Pengembangan Press Release

Kembangkan Kolaborasi Desa dengan Media Massa, PMM Mahasiswa UMM Desa Kalisongo Adakan Pelatihan Sosialisasi Pengembangan Press Release

Editor Redaksi
29 Agustus 2024
0

JurnalPost.com - Pada Senin, 12 Agustus 2024, Kelompok PMM Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Media Massa di...

PELATIHAN PEMBUATAN TAS ANYAMAN BERSAMA IBU-IBU PEMILIK UMKM

PELATIHAN PEMBUATAN TAS ANYAMAN BERSAMA IBU-IBU PEMILIK UMKM

Editor Redaksi
29 Agustus 2024
0

JurnalPost.com - Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) adalah program pengabdian yang dilakukan Mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Malang untuk berkontribusi...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.