Karya : Aliyyah Zahra
Kopma UIN Jakarta
Rintik Hujan yang Menyatukan Dua Hati,
Di bawah langit yang meneteskan rindu tanpa jeda,
aku berdiri sebagai manusia sederhana yang nyaris tak berarti,
hanya membawa hati kecil tak seberapa luas dan tak seberapa kuat,
namun entah bagaimana mampu menampung hadirmu sepenuhnya,
seperti bumi yang setia memeluk hujan tanpa pernah jenuh.
Hujan menulis namamu di setiap genangan yang berkilau,
seolah dunia diam-diam merapalkan doa tentang kita,
aku yang hanya bayang samar di keramaian hidup,
menemukanmu cahaya yang mampu menghangatkan dingin terdalam,
meski aku hanya serpihan kecil di luasnya semesta.
Kita bukan kisah besar yang diukir megah oleh waktu,
hanya dua hati yang ditakdirkan saling menemukan arah,
dengan langkah kecil yang tampak biasa bagi dunia,
namun bagiku mampu mengguncang seluruh isi dada,
seolah hidupku dimulai tepat saat aku mengenalmu.
Aku pernah merasa dunia ini terlalu dingin untuk ditinggali,
seakan hujan turun hanya untuk menambah sepi yang kupunya,
padahal mungkin itu hanya gerimis yang singgah sebentar,
namun sejak kau hadir di antara rintik yang sederhana,
dingin itu berubah menjadi hangat yang tak ingin kulepas.
Kau datang dengan senyum yang menyimpan cerita panjang,
mengaku kuat meski matamu menyimpan lelah yang dalam,
dan aku yang tak pandai memberi keajaiban,
hanya mampu menjadi tempat singgah yang sederhana,
di mana hatimu boleh beristirahat tanpa berpura-pura.
Hujan menjadi saksi tanpa suara tentang kita,
jatuh perlahan seolah tak ingin mengganggu kedekatan ini,
di bawahnya, kita belajar saling menggenggam,
meski kita hanyalah dua hati yang mudah rapuh,
justru saling menguatkan dalam diam.
Tak ada janji megah yang kita ucapkan di bawah langit,
hanya kehadiran yang terus kita jaga dengan tulus,
karena cinta bukan tentang kata yang paling indah,
melainkan tentang tetap tinggal dan tidak pergi,
meski keadaan tak selalu memudahkan langkah kita.
Dan bila suatu hari hujan turun lebih deras dari biasanya,
aku tak akan meminta langit untuk berhenti,
biarlah ia menjadi lagu yang mengiringi langkah kita,
selama kau tetap di sampingku tanpa ragu,
bahkan badai pun terasa seperti pelukan yang hangat.
Aku bukan rumah sempurna tempatmu berteduh selamanya,
hanya ruang sederhana dengan dinding yang kadang retak,
namun jika kau memilih menetap di dalamnya,
akan kujaga dengan seluruh cinta yang kupunya,
meski mungkin tak seberapa, namun tulus tanpa syarat.
Dan pada akhirnya, jika dunia tetap berjalan seperti biasa,
jika hujan tetap jatuh tanpa pernah lelah,
setidaknya kita pernah saling menemukan di antaranya,
dua hati yang saling jatuh cinta dalam sederhana,
dan memilih bertahan, seindah hujan yang tak pernah sia-sia.
Ciputat, 28 April 2026

