• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

ESKALATOR SOSIAL MAHASISWA PRASEJAHTERA

Editor Redaksi
11 Mei 2026
in Puisi

Karya : Sehan Fathur Rahman
Kopma UIN Jakarta

Dari bibir orang tua mengalir sebuah doa yang sama,
“Kuliah, nak agar kau bisa angkat derajat kita semua.”
Bukan karena mereka paham teori sosial dan makna,
tapi karena kuliah adalah satu-satunya cahaya,
yang bersinar di ujung lorong hidup yang kelam dan lara,
maka harapan itu dipikul dengan segenap jiwa dan raga.

Pendidikan tinggi dijanjikan sebagai eskalator mulia,
mengangkat yang di bawah menuju kehidupan yang lebih bercahaya.
Namun eskalator itu macet, tersabotase, dan tiketnya tiada tara,
ada yang membeli kursi dengan uang ratusan juta,
sementara si miskin berdiri di luar pintu yang terkunci belaka,
menggenggam nilai tinggi yang kalah oleh kuasa dan harta.

UKT datang mencekik, birokrasi berlapis tiada berbelas rasa,
banding diajukan berkali namun sistem menutup pintu begitu saja.
Data berbohong, keluarga rentan tak tercatat dalam angka,
yang miskin dianggap mampu, yang mampu melenggang tanpa duka.
Beasiswa bocor ke tangan yang pandai mengisi formulir belaka,
sementara yang benar-benar butuh gigit jari tanpa daya.

Siang kuliah, malam berlari menjadi kurir di jalanan kota,
separuh gaji dikirim pulang agar keluarga tetap bisa makan seutuhnya.
Nilai IPK dijaga mati-matian bagai menjaga bara api yang hampir tiada,
bukan demi kebanggaan, tapi demi beasiswa yang menjadi nyawa.
Kegagalan bukan pilihan bagi mereka yang menanggung beban keluarga,
sebab surat drop out lebih menakutkan dari utang yang menggunung di meja.

Namun dari lumpur tekanan itu tumbuh akar yang kuat dan perkasa,
mereka tempa diri dalam organisasi, lomba, dan kerja nyata.
Mereka tahu ijazah saja tak cukup menjawab dunia,
maka relasi dan pengalaman dikumpulkan dengan susah payah sepenuh dada.
Sementara yang lain berlari di lintasan bersih tanpa lara,
mereka tetap melangkah walau jalannya penuh luka dan derita.

Bagi mereka kuliah bukan sekadar mengejar toga dan gelar semata,
ia adalah upaya memutus rantai kemiskinan yang melilit turun generasi kita.
Eskalator ini tersendat, mahal, namun tetap layak didaki dengan sepenuh jiwa,
yang harus berubah bukan semangat mereka yang membara,
yang harus berubah adalah sistem yang ingkar dan abai terhadap mereka,
negara harus hadir bukan hanya dalam kata, tapi dalam nyata.

Ciputat, 28 April 2026

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

DI REL BEKASI TIMUR

DI REL BEKASI TIMUR

Editor Redaksi
11 Mei 2026
0

Karya: Stefie Eqidelina & Aisyah Nurul Azkiya Kopma UIN Jakarta Malam turun membawa kabar pilu, di rel kereta, waktu seakan...

RINTIK HUJAN YANG MENYATUKAN DUA HATI

RINTIK HUJAN YANG MENYATUKAN DUA HATI

Editor Redaksi
11 Mei 2026
0

Karya : Aliyyah Zahra Kopma UIN Jakarta Rintik Hujan yang Menyatukan Dua Hati, Di bawah langit yang meneteskan rindu tanpa...

SENJA YANG INDAH

Editor Redaksi
5 Juli 2024
0

Penulis : Teguh Andriansyah Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra tertua yang ada di dunia. Dari masa ke masa,...

Cahaya Dalam Jiwa

Editor Redaksi
4 Juli 2024
0

Dalam Sunyi hidupku kudengar nama-Mu Bersemayam lembut di dalam dzikir kalbu Cahaya menerangi relung jiwa Membawa damai jiwa yang menggelora...

PUISI AHMAD ALIEF INDIE RAMADHAN

Editor Redaksi
29 Juni 2024
0

PENULIS : AHMAD ALIEF INDIE RAMADHAN JurnalPost.com - Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra tertua yang ada di dunia....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.