
JurnalPost.com – Salah satu dampak terbesar akibat bencana adalah trauma. Trauma biasa terjadi setelah seseorang melihat kejadian yang mengguncang jiwa dan mentalnya. Sebenarnya, trauma bisa berdampak pada siapa saja, dari orang dewasa, remaja, maupun anak-anak. Meski begitu, bagi anak-anak, trauma bisa berdampak pada psikis, bahkan ketika mereka beranjak dewasa. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak lebih rentan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa trauma.
Trauma pada anak diperlukan penanganan yang tepat agar trauma yang dialami tidak menimbulkan suatu hal yang tidak baik di masa pertumbuhan dan perkembangannya. Trauma berkepanjangan yang dialami anak dapat menimbulkan post traumatic stress disorder (PTSD) karena anak tidak bisa mengungkapkan perasaan sehingga menjadi trauma berebihan pada dirinya dan menimbulkan beberapa gejala seperti tidak tenang, takut, gelisah, dan mudah merasa panik.
Masalah ini dapat diatasi dengan menerapkan beberapa teknik intervensi psikososial seperti; playback therapy, group therapy, dan konseling yang menjadi inti dalam bekerja dengan individu. Yang dimana pada hal ini peran pekerja sosial sangatlah penting dalam mengembalikan fungsi sosial dari anak tersebut.
Bagi korban bencana yang mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), pelayanan psikososial lanjutan dapat terus dilakukan agar mereka dapat segera pulih dari trauma yang berkepanjangan.
Para pekerja sosial diharapkan dapat menerapkan fokus praktik mikro dengan cara menitikberatkan pada individu, memberikan dukungan positif, serta menciptakan kondisi yang mendukung, dan proses pemecahan masalah/ aspek-aspek psikososial dari anak yang merupakan korban bencana, dan bantuan yang bersifat nyata.




