
Raza Saputra Rahmat
2008015076
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
JurnalPost.com – Dzikir merupakan salah satu amaliah dalam agama islam yang bertujan untuk menginggat Allah dengan perbuatan maupun pelafalan tertentu yang mempunyai masing-masing pemaknaan sehingga merasakan ketenangan hati pada seseorang yang mengamalkannya.
Setiap bacaan Dzikir mengandung makna tertentu dalam keyakinan kepada Allah SWT. Dalam berdzikir pastinya ingin mendapatkan keutaaman yang maksimal maka diperlukannya ada dalam melaksanakan hal tersebut. Ash-Shiddieqy (Nashori, 2005) ada beberapa adab dalam pelaksanaan Dzikir yaitu:
1. Niat
2. Taqarrub
3. Ihsan
4. Tadarru
5. Khauf
6. Tawaddu
Seorang hamba yang melaksanakan dzikir dengan adab yang benar maka akan mendapatkan ketenangan hati yang sesungguhnya dan nyaman dalam pelaksanaanya. Didalam dinamika psikologis bahwasannya dzikir mempengaruhi individu dalam keyakinan spiritual sehingga memunculkan keyakinan yang kuat kepada Allah.
Dzikir ditinjau secara etimologi bermula dari kata “dzakara” yang diartikan sebagai menyebut, mensucikan, menggabungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, memberi dan nasehat. Dengan begitu dzikir berarti mensucikan dan mengagungkan, juga dapat diartikan menyebut dan mengucapkan nama Allah atau menjaga dalam ingatan (mengingat). Menurut Al-Ghazali, pengertian zikir secara bahasa adalah mengingat, sedangkan secara istilah yaitu ikhtiar sungguh-sungguh untuk mengalihkan gagasan, pikiran dan perhatian manusia menuju Tuhan dan akhirat. Zikir ini bertujuan untuk membalikkan keseluruhan karakter manusia dan mengalihkan perhatian utama seseorang dari dunia yang sudah sangat dicintai menuju akhirat yang sejauh ini belum dikenali sama sekali.
Berzikir yang sebenarnya secara harafiah berarti kita selalu menyebut nama Allah SWT. Dan menghayatinya disanubari. Tidak hanya itu dzikir juga suatu ibadah yang diperkenalkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan berdzikir, kegelisahan hati, kecemasan emosi dan kemarahan dapat hilang dengan sendirinya. Menghilangkan kerisauan dalam hubungan antara dirinya dengan Allah SWT. Orang yang lalai tentunya akan dihantui kerisauan antara dirinya dengan Allahswt, yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan dzikir.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan menggunakan emosi secara positif dalam berbagai situasi. Dzikir, sebagai bentuk ibadah dan praktik spiritual dalam Islam, dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan kecerdasan emosional seseorang.
Kecerdasan emosional merupakan keterampilan penting dalam mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks Islam, zikir, atau pengingatan kepada Allah, bukan hanya merupakan ibadah spiritual, tetapi juga memiliki peranan signifikan dalam mengembangkan kecerdasan emosional seseorang. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana zikir dapat menjadi alat penting dalam meningkatkan kecerdasan emosional. Berikut adalah beberapa aspek peranan dzikir dalam meningkatkan kecerdasan emosional:
1. Kesadaran Emosional:
• Dzikir Hati (Qalb): Praktik dzikir hati, di mana seseorang mengingat dan mencintai Allah dalam hati, membantu meningkatkan kesadaran emosional. Ini melibatkan pemahaman yang lebih dalam tentang perasaan dan keadaan emosional diri sendiri.
2. Pengelolaan Stress dan Ketenangan:
• Dzikir sebagai Meditasi: Dzikir yang diulang secara teratur dapat berfungsi sebagai bentuk meditasi, membantu individu untuk merilekskan pikiran dan tubuh, mengelola stres, dan mencapai keadaan ketenangan.
3. Empati dan Keterhubungan Sosial:
• Zikir Berjamaah: Melakukan dzikir secara berjamaah membangun rasa persaudaraan dan keterhubungan sosial dalam komunitas. Hal ini dapat memperkuat kemampuan individu dalam memahami dan merespons emosi orang lain.
4. Pemahaman Diri:
• Refleksi melalui Dzikir: Dzikir melibatkan refleksi pada diri sendiri dan hubungan dengan Tuhan. Ini membantu individu untuk lebih memahami motivasi, nilai-nilai, dan tujuan hidup mereka, yang merupakan aspek penting dari kecerdasan emosional.
5. Mengelola Emosi Negatif:
• Dzikir sebagai Pembersih Jiwa: Praktik dzikir diyakini dapat membantu membersihkan jiwa dari emosi negatif seperti marah, iri hati, dan kebencian. Dengan mengalihkan perhatian pada aspek spiritual, seseorang dapat lebih mudah mengelola emosi-emosi tersebut.
6. Motivasi Diri:
• Dzikir sebagai Sumber Inspirasi: Dzikir mengandung nilai-nilai positif dan inspiratif. Melalui dzikir, individu dapat merenungkan makna hidup, menemukan tujuan yang lebih tinggi, dan memperoleh motivasi untuk mencapai potensi penuh mereka.
7. Penerimaan Emosi:
• Dzikir sebagai Wujud Syukur: Dzikir yang berfokus pada ungkapan syukur dapat membantu individu untuk menerima emosi-emosi mereka dengan lebih baik. Ini menciptakan sikap positif terhadap kehidupan.
Kesimpulan:
Praktik dzikir dalam Islam tidak hanya memiliki manfaat spiritual tetapi juga berdampak pada pengembangan kecerdasan emosional. Dengan menyertakan dzikir dalam kehidupan sehari-hari, individu dapat memperkuat koneksi spiritual mereka, mencapai ketenangan emosional, dan membangun kemampuan untuk mengelola emosi dengan bijak. dzikir bukan hanya berdampak pada dimensi spiritual, tetapi juga memainkan peranan krusial dalam pengembangan kecerdasan emosional. Dengan merangkul dzikir sebagai alat untuk memperkuat koneksi spiritual dan mengelola emosi, individu dapat mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam kehidupan mereka. Dzikir menjadi jalan untuk meraih ketenangan hati, kebijaksanaan emosional, dan hubungan yang lebih mendalam dengan sesama manusia.
Daftar Pustaka
Adlany Hazri, Al-Qur‟an Terjemah Indonesia, Jakarta: Sari Agung, 2002
Ghozali Ahmad. Zikir dan Amalan Nabi Sehari-hari. Jakarta: Zahra. 2006.
Ginanjar AgustianAry.Emotional Spiritual Quotient, Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: PT Arga Tilanta. 2009.
Hasbi Ash-Shiddieqy Teungku Muhammad, Pedoman Dzikir dan Do’a. Semarang PT. Pustaka Rizki Putra. 2002.
Hude, M. Darwis. Emosi, Penjelajahan Religio Psikologis Tentang Emosi Manusia dalam Al-Qur’an. Jakarta: Erlangga, 2006.
Sarnoto, Ahmad Zain. Kecerdasan Emosional Dan Prestasi Belajar: Sebuah Pengantar Studi Psikologi Belajar. Statement. Vol. 4, 2014.




