Oleh: Muhammad Athoillah Annafi
JurnalPost.com – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata pendidikan berasal dari kata “didik” dan mendapat imbuhan “pe” dan akhiran “an”, maka kata ini mempunya arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Sedangkan menurut UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan berguna bagi masyarakat.
Sedangkan pengertian filsafat pendidikan yaitu cabang filsafat yang mempelajari dan mempertanyakan masalah masalah dasar yang terkait dengan pendidikan. Filsafat pendidikan bertujuan untuk memahami hakikat pendidikan, mengeksplorasi nilai nilai yang ada di dalamnya dan membahas landasan teoritis yang mendasarinya. Filsafat pendidikan melibatkan refleksi kritis terhadap praktik pendidikan dan pendekatan-pendekatan pendidikan yang berbeda. Ia berupaya untuk memberikan pemahaman filosofis yang mendalam dan membangun dasar pemikiran yang kokoh bagi praktisi, peneliti, dan pemikir pendidikan. Filsafat pendidikan juga dapat membantu merumuskan prinsip-prinsip pedagogis, mengembangkan teori pembelajaran, dan memberikan arahan bagi perbaikan sistem pendidikan.
Secara keseluruhan, filsafat pendidikan adalah upaya pemikiran kritis dan reflektif terhadap masalah-masalah pendidikan, dengan tujuan untuk memahami, mempertanyakan, dan memperbaiki praktik pendidikan agar dapat mencapai tujuannya dengan lebih baik.
Para ahli filsuf mempunyai pandangan yang berbeda beda mengenai definisi filsafat peendidikan. Berikut diantaranya
1. Socrates: Socrates adalah filsuf Yunani kuno yang vokal dalam pemikiran pendidikan. Dia mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah menginspirasi siswa untuk mencapai kebijaksanaan melalui dialog dan pemikiran kritis. Pendekatan Socrates dikenal sebagai “maieutics” atau “seni pertanyaan”, di mana guru membimbing siswa melalui serangkaian pertanyaan untuk mengungkapkan pengetahuan yang ada dalam diri mereka.
2. Plato: Plato, murid Socrates, menulis banyak tentang filsafat pendidikan dalam karyanya yang terkenal, “Negara.” Menurut Plato, pendidikan ideal harus menghasilkan individu yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Dia memandang pendidikan sebagai proses untuk membentuk jiwa dan menekankan pentingnya kurikulum yang menyeluruh dan metode pembelajaran yang didasarkan pada pemikiran abstrak.
3. Aristotle: Sebagai murid Plato, Aristotle juga memberikan kontribusi signifikan dalam filsafat pendidikan. Dia memandang pendidikan sebagai pengembangan potensi individu. Menurutnya, pendidikan harus membantu siswa mengembangkan kemampuan mereka dan mencapai kebahagiaan sejati. Aristotle menekankan pentingnya pengamatan dan pengalaman praktis dalam pembelajaran.
4. Jean-Jacques Rousseau: Rousseau adalah seorang filsuf abad ke-18 yang berpengaruh dalam pemikiran pendidikan. Dia berpendapat bahwa pendidikan harus mengikuti perkembangan alami anak dan memperhatikan kebutuhan dan minat individu. Rousseau menekankan pendekatan holistik terhadap pendidikan yang melibatkan pembelajaran melalui pengalaman langsung dan alam.
5. John Dewey: John Dewey adalah seorang filsuf dan pendidik Amerika abad ke-20 yang dikenal dengan teori pendidikannya yang berpusat pada pengalaman. Menurut Dewey, pendidikan harus relevan dengan kehidupan nyata dan siswa harus terlibat dalam proses belajar yang aktif. Ia mendukung pembelajaran berbasis proyek, eksperimen, dan pemecahan masalah untuk mengembangkan pemikiran kritis dan kemampuan praktis.
6. Paulo Freire: Freire adalah seorang filsuf dan pendidik Brasil yang dikenal karena kontribusinya dalam pendidikan kritis. Ia menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk pembebasan dan pemberdayaan. Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya mempromosikan kesadaran kritis terhadap ketidakadilan sosial dan membantu siswa mengembangkan kebebasan berpikir dan tindakan.


