JurnalPost.com – Akuaponik merupakan kombinasi antara hidroponik dan akuakultur dimana dalam akuaponik ekskresi hewan dimanfaatkan sebagai nutrisi untuk tanaman. Air kemudian bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur. Dalam sistem perikanan konvensional, kotoran ikan dan sisa pakan harus dibersihkan untuk mencegah terjadinya penumpukan amonia yang dapat meracuni ikan. Pada sistem akuaponik, air yang mengandung limbah diubah oleh mikroorganisme menjadi nutrisi yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman, sehingga tidak ada air dan sisa pakan yang terbuang, semua dapat dimanfaatkan kembali. Ikan menjadi kunci sistem akuaponik karena sebagai penyedia nutrisi tanaman. Ikan yang digunakan di sini adalah ikan lele sangkuriang dan ikan nila. Sistem akuaponik dapat diterapkan di lahan yang tidak terlalu luas karena peralatan yang diperlukan cukup sederhana sehingga sangat cocok untuk dipraktikkan di perkotaan.
Pembuatan budidaya akuaponik tidak memerlukan peralatan yang mahal, melainkan dapat menggunakan barang-baerang di sekitar kita. Alat dan bahan tersebut yaitu pipa paralon, pompa aquarium, dan rockwool sebagai media tanam.

Pada gambar di atas terlihat Bening Kusumawati, mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur melakukan proses pembersihan pipa paralon dari kotoran dan lumut sebelum digunakan untuk instalasi akuaponik. Pipa tersebut nantinya akan diberi benih yang sudah disemai dalam setiap lubangnya. Tanaman yang digunakan adalah bayam dan kangkong dan nantinya akan menjadi sayuran organik karena hanya menggunakan nutrisi dari kotoran ikan.
Penerapan akuaponik memiliki keunggulan utama yaitu mendapatkan 2 produk dari satu budidaya yaitu ikan dan sayuran organik karena tidak menggunkan bahan kimia, selain itu pemeliharaannya mudah karena tidak memerlukan penyiangan, terbebas dari hama tanah dan tidak memerlukan penyiraman. Keuntungan lainnya adalah hemat air karena penurunan volume air tetap terjadi, tetapi jumlahnya relatif sedikit yang disebabkan oleh proses penguapan air dan terserap oleh tanaman. Penambahan air hanya dilakukan sekitar seminggu sekali hingga ketinggian air yang telah ditentukan.




