
Surabaya, JurnalPost.com – Kita ketahui bahwa Kota Surabaya menduduki kota metropolitan kedua setelah kota Jakarta. Kota yang sangat dipadati penduduk. Terlebih seluruh dunia pada tahun 2020 tengah dilanda wabah virus covid-19 yang dimana menurut data hasil registrasi jumlah penduduk kota Surabaya pada tahun 2020 mencapai angka 3.157.126 juta jiwa. Namun, dikarenakan saat itu terjadinya wabah virus covid -1 9 yang menyebabkan kematian oleh ribuan jiwa di surabaya alhasil terdapat penurunan jumlah jiwa. Dilansir dari Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kota Surabaya tercatat jumlah proyeksi penduduk kota Surabaya pada pertengahan 2023 mencapai angka 2,997.547 juta jiwa. Dari padatnya penduduk kota Surabaya ini menyebabkan timbunan sampah dari TPA Benowo juga semakin banyak. Dari data yang tersedia, timbunan sampah di TPA Benowo sekarang perhari mencapai sekitar 1.600 Ton sampah. Untuk itu pada tahun 2023 ini Universitas 17 Agustus 1945 melakukan kerjasama dengan DLH Surabaya dengan melalui program MBKM bekerja sama dengan DLH Surabaya untuk mengurangi timbunan sampah di TPA benowo melalui pendampingan mahasiswa yang diterjunkan langsung ke beberapa kampung yang ada di Surabaya.

Penulis artikel yang biasa disapa Annisa merupakan seorang mahasiswa aktif Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya jurusan Administrasi Publik semester 3 yang saat ini tengah menjalankan kegiatan MBKM yang bekerjasama dengan DLH Surabaya. Selama kegiatan MBKM ini, mahasiswa didampingi oleh bapak Ghulam Maulana Ilman, S.AP., MPA selaku dosen pembimbing. Dan selama kegiatan ini sebanyak dua mahasiswa ditempatkan di salah satu kampung yang menjadi pilihan dari DLH Surabaya yakni kampung RW 6 Kandangan yang merupakan salah satu kampung proklim Surabaya.

Surabaya, 22 September 2023 – Pada kampung RW 6 Kandangan salah satu kegiatan terkait dengan sampah ada yang terhenti. Yakni kegiatan pengomposan sampah. Dapat diketahui bahwa kompos merupakan salah satu cara untuk pengurangan timbunan sampah khususnya sampah organik (sisa bahan makanan, buah, dan daun kering). Relevan dengan banyaknya timbunan sampah di TPA Benowo, mahasiswa MBKM DLH melakukan kontribusi dengan mengadakan kegiatan pembuatan kompos mini di balai RW 6 Kandangan. Kenapa si pemulihannya dengan pengomposan mini? Kenapa tidak langsung kompos yang besar? Karena menurut kami dengan diterapkan pengomposan mini di setiap rumah sudah menjadi upaya mereka untuk peduli terhadap sampah yang semakin bertambah. Dan kompos ini juga bermanfaat untuk menyuburkan tanaman jadi, jika kompos mini ini bisa diterapkan disetiap rumah maka mereka yang memiliki tanaman bisa menggunakan hasil dari pengomposan mereka untuk di berikan ke tanaman mereka dan bisa mengurangi budget pengeluaran. Serta jika setiap rumah telah merealisasikan pengomposan mini dengan baik maka pengomposan ini bisa menjadi besar dan bisa menjadi adang bisnis UMKM bagi kampung RW 6 Kandangan. Semoga dengan adanya pemulihan pengomposan ini timbunan sampah di kampung rw 6 Kandangan dan TPA Benowo bisa berkurang.




