
JurnalPost.com – KKN merupakan suatu kegiatan yang bermanfaat dari berbagai kalangan. Tahun 2024 ini Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengirim mahasiswa nya untuk terjun secara langsung ke lapangan dengan belasan kelompok, salah satunya kelompok kami. Kelompok kami dari R-11 yang terdiri dari 34 mahasiswa yang didalam nya terbagi lagi menjadi 12 sub-kelompok.
Kegiatan KKN ini dilakukan di Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto yang dimana dilaksanakan pada tanggal 10 Juli – 21 Juli 2024. Pada saat kami melakukan survey ke desa tersebut, sub-kelompok kami yaitu sub-kelompok 04 menemukan bahwa pada Desa Wonoploso belum terdapat Buku Profil Desa sehingga minimnya informasi data desa tersebut. Oleh karena itu, sub kelompok kami memiliki ide pembuatan cetak/buku profil Desa Wonoploso. Isi yang ada dalam buku profil desa ini memuat jumlah penduduk (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan/profesi), sektor perekonomian, UMKM, BumDes, budaya, pendidikan, fasilitas, hasil bumi, demografi (luas desa, batas desa, jumlah dusun), infrastruktur, kerajinan.
Untuk mendapatkan informasi terkait jumlah penduduk (usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan/profesi), sektor perekonomian, UMKM, BumDes, budaya, pendidikan, fasilitas, hasil bumi, demografi (luas desa, batas desa, jumlah dusun), infrastruktur, kerajinan sub-kelompok kami melakukan wawancara ke perangkat desa, petani, dan pimpinan budaya yang ada di desa wonoploso.
Pada tanggal 11 Juli 2024 kelompok kami melakukan wawancara dengan salah satu perangkat desa yakni Bapak Didik Ian Hermanto (Pak Ian). Saat kami melakukan wawancara bersama Pak Ian, kami bertanya beberapa hal yakni Berapa banyak RT dan RW yang ada di desa wonoploso serta berapa jumlah penduduk dalam satu RT, kemudian beliau menjawab “Desa Wonoploso ada 7 RW dan juga 22 RT yang dimana di setiap RW nya terdiri dari 1 hingga 2 RT tergantung dari jumlah penduduknya. Dalam satu RT biasanya terdiri dari 300-500 penduduk.” Kemudian, kami bertanya kembali kepada Pak Ian mengenai Mata Pencaharian penduduk desa wonoploso apa saja, dan beliau menjawab “Mayoritas penduduk desa wonoploso bermata pencaharian sebagai petani, baik petani pemilik maupun buruh tani.”
Kelompok kami melanjutkan wawancara dengan petani yang merupakan mayoritas mata pencaharian yang ada di desa wonoploso. Dalam mendukung kegiatan dan kebutuhan para petani maka dibentuklah GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) yang dipimpin oleh Bapak Suparman yang tinggal didusun bamban. Kami bertanya mengenai jumlah hasil produksi yang diperoleh selama bertani, beliau menjawab “Dalam bertani, petani menanam tomat bisa menghasilkan 5 kg per pohon nya dengan harga per kilonya Rp 1.000 rupiah, kemudian padi dan jagung semasa panen bisa menghasilkan 1 kwintal, dengan di jual ke tengkulak per kwintal. Dengan adanya kebutuhan GAPOKTAN Desa Wonoploso hanya mendapat subsidi benih dan pupuk kimia dari pemerintah pusat pada tahun kemarin 2023 mendapati 100 juta subsidi pupuk kimia.”
Tidak hanya petani yang ada di desa wonoploso, namun terdapat beberapa budaya yang ada di desa wonoploso salah satunya budaya bantengan, kami wawancara dengan Bapak Imam Suwardi “Awal mula budaya bantengan dimulai dari adanya pencak satria pondok, yaitu aliran-aliran dari Abdul Qodir Jailani. Lama kelamaan munculah ditambahnya monyet-monyetan, harimau, dan lain sebagainya yang disertai dengan pencak silat. Tidak hanyatontonan semata, tetapi juga ada tuntunan dan tatanannya serta disertai dengan mengaji Qur’an dan kitab. Awal mulanya beberapa orang saja, namun seiring berjalannya waktu murid bapak Imam Suwardi berjumlah 30 orang asli dari Desa Wonoploso dan kurang lebih 60 orang dari dalam dan luar Desa Wonoploso. Budaya bantengan di Desa Wonoploso saya mulai sejak tahun 2014 hingga sekarang yang dimana saya turunkan ke generasi kedua. Nama ‘Putra Taruna Linggar Jati Junior’ merupakan perguruan bantengan Desa Wonoploso yang dipimpin generasi kedua.”
#KitaUntagSurabaya #UntukIndonesia #EcoCampus #KKNRegulerUntagSurabaya #Pemetaandata #BukuProfil #Wonoploso #Mojokerto




