
JurnalPost.com – Kemampuan literasi, khususnya membaca, merupakan fondasi penting bagi anak-anak untuk dapat berkembang dan berprestasi secara optimal. Membaca tidak hanya membantu mereka memperluas wawasan dan pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menulis, dan berkomunikasi. Sayangnya, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan literasi ini, terutama mereka yang tinggal di panti asuhan.
Di sinilah peran mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial menjadi sangat penting. Melalui program praktik kerja lapangan (PKL), mereka memiliki kesempatan untuk terjun langsung dan membantu meningkatkan kualitas hidup anak-anak kurang beruntung di panti asuhan. Salah satu contoh nyata dapat dilihat di Panti Asuhan Pelangi Kasih di Kota Medan, Sumatera Utara.
Dalam studi yang dilakukan di panti asuhan ini, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial berhasil menerapkan program pendampingan yang terstruktur dan berkelanjutan untuk meningkatkan minat baca anak-anak penghuni panti. Melalui pendekatan yang holistik dan adaptif, mereka berhasil membantu anak-anak mengatasi tantangan rendahnya minat membaca.
“Selama ini, anak-anak di panti asuhan kami hanya diasuh dengan cara tradisional, seperti mengawasi mereka saat belajar dan mengajari pekerjaan rumah tangga. Kondisi sarana dan prasarana yang ada juga belum dimanfaatkan secara maksimal, sehingga tidak banyak meningkatkan kapasitas dan prestasi anak,” ungkap Bapak Pengasuh Panti Asuhan Pelangi Kasih.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial yang sedang menjalani PKL di panti asuhan ini langsung bertindak. Mereka menerapkan metode pekerjaan sosial dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD) untuk memahami permasalahan yang dihadapi anak-anak.
Melalui FGD, mereka menemukan bahwa masalah mendasar yang dihadapi anak-anak panti adalah kurangnya minat membaca buku teks (reading ability) dan kemampuan memahami pelajaran tentang angka (numeracy). Anak-anak merasa kesulitan dalam menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru di sekolah.
Berbekal temuan ini, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial mulai merancang program pendampingan yang terstruktur dan berkelanjutan. Mereka menerapkan teori pembelajaran sosial, di mana anak-anak dapat mempelajari informasi dan perilaku baru dengan mengamati orang lain.
Program yang dirancang meliputi kegiatan membaca buku, belajar sambil bermain, belajar dan membaca dengan media internet seperti YouTube, serta sharing mengenai pembelajaran di sekolah. Semua kegiatan ini dirancang agar anak-anak dapat belajar dengan lebih menyenangkan dan termotivasi untuk meningkatkan kemampuan literasi mereka.
Hasil dari program ini sangat menggembirakan. Anak-anak panti menjadi lebih semangat dan rajin dalam membaca serta belajar bersama. Mereka sangat antusias saat mengikuti kegiatan membaca buku dan belajar sambil bermain. Dampaknya pun terlihat di sekolah, di mana mereka kini dapat menjawab pertanyaan guru dengan lebih baik.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran mahasiswa PKL ini. Mereka telah membantu meningkatkan minat literasi membaca anak-anak kami dan sangat terbantu dalam mengisi kegiatan mereka setelah pulang sekolah,” ungkap Bapak Pengasuh Panti Asuhan Pelangi Kasih.
Tidak hanya itu, program pendampingan yang dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial ini juga memberikan manfaat yang signifikan bagi lembaga panti asuhan dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan menciptakan generasi muda yang lebih kuat dan siap menghadapi masa depan, mereka turut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih sejahtera.
Cerita inspiratif dari Panti Asuhan Pelangi Kasih ini menunjukkan betapa pentingnya peran mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial dalam membantu meningkatkan kualitas hidup anak-anak kurang beruntung. Melalui sentuhan program yang terencana dan berkelanjutan, mereka mampu memberikan solusi yang nyata bagi tantangan-tantangan yang dihadapi anak-anak panti asuhan, khususnya dalam hal literasi membaca.
Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah pendekatan yang holistik dan adaptif. Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan membaca anak-anak, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis, sosial, dan emosional mereka. Melalui metode FGD, mereka dapat memahami permasalahan secara mendalam dan merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak.
Selain itu, keberlanjutan program juga menjadi faktor penting. Tidak cukup hanya dengan memberikan intervensi sesaat, tetapi dibutuhkan pendampingan yang terus-menerus agar anak-anak dapat benar-benar mengembangkan minat dan kemampuan literasi anak-anak di panti.
Cerita dari Panti Asuhan Pelangi Kasih ini menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup anak-anak kurang beruntung. Dengan sentuhan program yang terencana dan berkelanjutan, mereka mampu memberikan solusi yang berdampak signifikan, tidak hanya bagi individu anak-anak, tetapi juga bagi lembaga dan masyarakat secara keseluruhan.
Ke depannya, diharapkan semakin banyak mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial yang terjun langsung ke lapangan dan menerapkan program-program inovatif untuk membantu anak-anak di panti asuhan. Dengan demikian, kita dapat menciptakan generasi muda yang lebih kuat, siap, dan berdaya saing, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera.
Oleh: Marsel Juand Fablo Panggabean
Kesejahteraan Sosial, Fakultas ilmu politik dan ilmu social, USU




