JurnalPost.com – Kampus Mengajar adalah bagian dari program MBKM yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan.
Bullying (penindasan/risak) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. Maka, kegiatan kampus mengajar sedikit banyak dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi di lingkungan sekolah, mengajarkan keterampilan literasi dan numerasi pada siswa serta mengatasi bullying di sekolah.
Oleh karena itu, Suriani Juwita Sianipar yang merupakan salah satu mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara melakukan program Kampus Mengajar MBKM ( Praktik Kerja Lapangan ) di SD Negeri 060788 Medan Maimun yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi maupun numerasi melalui pembelajaran etika dan moral siswa disekolah tersebut. Program Kampus Mengajar ini didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan yakni Ibu Dra. Tuti Atik M.SP dan Guru Pamong yakni Ibu Henny Khaitiyanti Sahara HSB, SS beserta Dosen Pengampu mata kuliah yakni Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos. M.Kesos.

Sekolah menjadi salah satu tempat di mana seorang anak banyak menghabiskan waktunya untuk tumbuh, berkembang, belajar, dan berinteraksi sosial serta membentuk karakter dan pola pikirnya. Sekolah adalah tempat yang seringkali menyaksikan kasus anak hingga dewasa sekalipun. Dapat kita ketahui bahwasanya hal ini dapat menyebabkan timbulnya karakter yang keras, bullying menjadi pengalaman menyakitkan yang akan selalu diingat, keinginan untuk membalas dendam, haus akan kekuasaan, dan bahkan perilaku yang tidak terpuji seperti membully orang lain. Sebaliknya, ada juga siswa yang cenderung pendiam, tidak mampu membela diri, dan akhirnya terus menjadi korban penindasan dari orang lain.
Oleh karena itu Suriani Juwita melakukan survey di beberapa kelas untuk mengetahui tingkat bullying yang ada disekolah dan untuk mengetahui bagaimana bully tersebut dapat mempengaruhi kemampuan belajar siswa. Dalam hal peningkatan literasi dan numerasi, Suriani Juwita banyak melakukan program-program kegiatan Kampus mengajar seperti belajar sambil bermain, calistung, pojok baca dan sebagainya. Dan untuk mencegah Bullying, Suriani melakukan sosialisasi berupa diskusi mini bersama dengan para siswa siswi dikelas dengan tema “Stop Bullying di Lingkungan Sekolah”.

Maka, Suriani Juwita berusaha melakukan kegiatan dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi siswa dengan menggunakan metode grupwork dari Zastrow melalui tahapan intervensi secara umum atau general. Adapun tahapannya meliputi hal berikut :
•Assessment
Tahap awal yang berisikan proses pendekatan pada siswa, pemberian pemahaman
maupun penjelasan terkait profesi pekerja sosial dan fase terjadinya kesepakatan
kontrak atau perjanjian tentang berapa lama proses intervensi dilakukan.
Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan bahwa beberapa siswa korban bullying disekolah kerap kali merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan orang lain . Hal ini membuatnya merasa inerior (rendah diri) dan mengubur semua potensi yang ia miliki.
• Planning atau perencanaan
Tahap yang berisikan penentuan strategi atau program yang tepat dan sengaja dirancang untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah siswa.
Suriani memberikan kesempatan besar bagi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam usaha menyelesaikan masalah yang dihadapi, dengan strategi yang melibatkan eksplorasi potensi diri melalui hobi mereka (membaca, memahami, dan menceritakan kembali).
• Intervensi atau implementasi
Berisi tahap pelaksanaan program dengan tujuan dan harapan terjadinya perubahan ke arah yang diinginkan. Sebelum dimulai penerapan program, praktikan memberikan konseling kepada siswa dengan menekankan dan menyadarkan akan potensi serta kekuatan yang dimiliki siswa tersebut. Setelah itu, memberikan pemahaman bahwa setiap individu memiliki nilai, keberhargaan, dan berhak bahagia.
Selanjutnya, masuk pada tahap pelaksanaan program, siswa diberi kesempatan untuk membaca, mewarnai, duduk santai bersama untuk berdiskusi dengan teman.
• Evaluasi dan terminasi
Ini adalah tahap akhir di mana dilakukan pemantauan atau evaluasi untuk menilai sejauh mana program yang telah dilaksanakan efektif dan berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Setelah tahap-tahap sebelumnya, Suriani menemukan ada perubahan yang signifikan pada siswa. Siswa mulai mengembangkan rasa percaya diri yang lebih kuat dari waktu ke waktu.
• Terminasi
Tahap ini menandai berakhirnya perjanjian antara tenaga sosial dan klien yang berjalan dengan sukses sesuai dengan harapan yang ditetapkan pada awal program.
Dengan demikian, Suriani Juwita berharap melalui program kampus mengajar ini dapat mengubah karakter dan meningkatkan etika moral siswa-siswi di lingkungan sekolah sehingga dapat menciptakan keadaan sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar dan meningkatkan prestasi siswa-siswi baik secara literasi maupun numerasi.


