
JurnalPost.com – Desa Bedingin yang terletak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, terdapat industri genteng yang menjadi salah satu pendukung utama perekonomian desa dan tidak hanya menjadi sumber pendapatan masyarakat melainkan juga merupakan pelestarian tradisi dan budaya setempat. Industri genteng yang awalnya dilakukan secara manual kemudian diturunkan dari generasi ke generasi hingga berkembang dan menggunakan alat yang lebih modern tapi masih mempertahankan metode tradisional untuk menjaga kualitas produk dan mempertahaknakan tradisi.
Industri genteng meberikan kontribusi yang cukup besar bagi Desa Bedingin. Dengan adanya proses pembuatan genteng mulai dari penggalian tanah liat sampai mendistribusikan ke pasar, hal itu dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan dapat menggurangi pengganguran. Hal tersebut juga dapat membantu meninggkatkan penghasilan warga Desa Bedingin. Industri genteng juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal dan dengan itu maka warga desa juga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan mendapatkan kehidupan yang layak. Selain pertumbuhan ekonomi, industri genteng juga berdampak pada sosial dan budaya Desa Bedingin. Keterampilan dalam membuat genteng secara tradisional terus diturunkan dari generasi ke generasi, yang membuat Desa Bedingin memiliki ciri khas tersendiri dalam pembuatan genteng dan terus memepertahankan ciri khas terebut hingga menjadi budaya lokal.
Salah seorang warga dan pengerajin genteng setempat yang bernama Pak Winanto (54) telah menjadi pengerajin secara turun menurun menjelaskan bagaimana proses pembuatan genteng. Pembuatan genteng diawali dengan pengambilan tanah liat untuk bahan baku (biasanya 20 dam) kemudian dijemur terlebih dahulu untuk menurunkan kadar air. Bahan baku ini bisa habis dalam kurun waktu 3-5 bulan. Tanah liat yang kering tadi disiram dengan air kemudian ditutup menggunakan terpal kemudian didiamkan hingga satu minggu agar air benar-benar meresap. Apabila air sudah meresap, tanah dipadatkan dengan diinjak-injak. Proses tersebut memakan waktu 1-2 hari. Kemudian, tanah digiling di mesin dan dipress membentuk balok untuk kemudian menjadi adonan bahan membuat genteng. Bahan adonan tersebut dipress secara manual untuk membentuk genteng. Genteng kemudian diletakkan secara vetikal di nampan dan dikipas selama 2 hari. Setelah itu, genteng dijemur di bawah matahari untuk kemudian masuk ke dalam proses pembakaran yang memakan waktu 18 jam hingga 24 jam.
Pak Winanto menjelaskan bahwa beliau menjual genteng miliknya mulai dari harga Rp.1500 hingga Rp.1700 (per satuan genteng), tergantung model. Pak Winanto biasanya menggirimkan genteng buatanya ke daerah Magetan dan untuk pembelian dapat langsung datang ke tempat beliau atau dapat melalui whatsapp.
Industri genteng di Desa Bedingin Ponorogo merupakan contoh usaha lokal dapat menunjang perekonomian desa dan dapat menjadi suatu kebudayaan dan tradisi. Industri genteng diharapkan dapat terus berkembang dan berkontribusi lebih lagi bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat lokal.




