
Oleh : Yusi Fauzani ( Mahasiswi Prodi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi, IPB University )
JurnalPost.com – Anisa Saharani Wanita yang lahir di Jakarta, 3 Mei 2003 ialah seorang mahasiswi Akuntansi semester enam Sekolah Vokasi IPB University. Bukan hanya sekedar mahasiswi, tetapi sebagai contoh nyata dari seseorang yang berani mencoba dan memiliki manajemen waktu yang luar biasa serta dapat menghasilkan penghargaan yang membanggakan.
Mahasiswi kelahiran Jakarta, saat ini sedang magang dan sebagai pengajar sekaligus freelancer. Mengulik cerita bagaimana ia menemukan potensi dirinya , ternyata ia memiliki beberapa pengalaman yang cukup membanggakan. Anisa menemukan potensinya di dunia berhitung sejak SMP dan berlanjut hingga SMA dari potensi tersebut ia memiliki prestasi Juara Kedua Ekonomi Syariah di Universitas Indonesia. Tidak hanya berkutik pada dunia berhitung, ia juga aktif dalam menulis penelitian dan essai pada Karya Ilmiah Remaja. Sejak SMA sudah memiliki berbagai pengalaman pada dunia ekonomi, pada akhirnya hal itu mengantarkan ke jenjang perkuliahan yakni jurusan akuntansi.
Pada awal perkuliahan, Anisa mengalami covid dan berdampak dengan tidak terjadi bertatap muka,namun pada semester seleanjutnya setelah tidak covid, ia melakukan balas dendam dengan lebih produktif, seperti saat liburan semester dua bulan ia isi dengan kegiatan magang mandiri dan mengajar. Mahasiswi semester tiga dengan segala ke-hectic an tugas kampus, ia gunakan untuk mengajar dan magang mandiri. Ia memiliki berpengalaman magang pada Direktorat Jenderal Pajak sebagai konsultan pajak. Dengan tekad berani mencoba hal itu dapat membuahkan hasil yang cukup baik bagi Anisa.
Anisa juga mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Politeknik Negeri Batam. Tentunya hal tersebut semakin menjadi tantangan bagi Anisa untuk mengelola waktunya dengan baik, lantaran ia juga sedang menjadi pengajar yang tentunya hal tersebut membuat ia sibuk di Tengah-tengah kegiatan PMM. Tidak hanya mengajar saja, ternyata ia mengikutu program beasiswa ke Singapore dan tidak hanya itu, ia juga sedang mempersiapkan untuk mengikuti Kompetisi Debat Perpajakan Nasional yang diselenggarakan oleh Direktorar Jenderal Pajak.
Segala persiapan tengah Anisa lakukan di sela-sela PMM dan akhirnya hal tersebut membuahkan hasil, ia berhasil terpilih beasiswa untuk terbang ke Singapura dengan mengikuti seminar dan dari kerja keras serta tekad yang berani ia juga berhasil menjuarai Kompetisi Debat Perpajakan Nasional dengan gelar Juara Pertama. Anisa terlihat bingung ketika ia ingin mengikuti lomba debat, dikarenakan ia tidak memiliki passion dalam bidang tersebut, namun dengan tekad yang berani mencoba hal tersebut membuahkan pengalaman yang tak terlupakan.
Berbicara mengelola waktu, Anisa berpikir bahwa mencari pengalaman tidak harus 24 jam, ia memiliki daftar prioritas, tentunya kewajiban mahasiswa dahulukan dulu urusan kampus dan tugas atau organisasi, namun karena ia sedang melakukan magang, ia memiliki waktu magang di hari Senin- Jum’at dan di weekend ia gunakan untuk mengajar. Anisa mengatakan bahwa jika orang-orang weekend beristirahat, yang ia lakukan ialah mengajar. Awal menyukai mengajar orang lain ialah sejak menjadi mahasiswi. Metode belajar Anisa untuk mengingat apa yang ia telah pelajari ialah dengan meengajar. Ia senang membuat orang lain paham dengan apa yang telah ia pelajari karena sejatinya mengajar ialah mempunyai tanggung jawab atas apa yang telah ia sampaikan.
Dari sekian banyak pengalaman yang Anisa raih, cara memulai pengalaman – pengalaman tersebut dari menemukan passion ialah dengan mulai fokus pada satu hal yang ia gemari dan dimaksimalkan. Menurut Anisa, sebenarnya orang lain bukan tidak tahu passion nya apa, tetapi orang lain hanya ragu dan perlu diyakinkan, tentu caranya ialah harus dicoba, selagi memiliki kesempatan dan peluang yang terdapat didepan mata diharuskan untuk diambil karena siapa lagi yang akan membuktikan kecuali diri sendiri. Anisa juga memiliki prinsip dalam hidupnya yakni, lebih baik kecewa karena gagal daripada menyesal karena tidak berani mencoba.




