MALANG, JurnalPost.com – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 23 Gelombang 2 telah menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) memberikan edukasi tentang pentingnya Menciptakan Generasi Anti-Bullying, Menuju Indonesia Emas pada hari Jumat (19/1/2024). Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) tersebut, berlangsung di SD Negeri 1 Landungsari yang berlokasi lengkap Jl. Tirto Rahayu, Dusun Bendungan, Landungsari, RT 04/RW 05 Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
Pengabdian Mahasiswa oleh Masyarakat di SD Negeri 01 Landungsari Dusun Bendungan menjadi sebuah kegiatan dengan inisiatif mahasiswa yang memiliki tujuan-tujuan jelas dan bermakna dengan fokus utama pada pencegahan bullying. Program ini tidak hanya berusaha memberikan pemahaman mendalam tentang bahaya dan dampak negatif perilaku tersebut, tetapi juga berusaha menciptakan perubahan positif yang lebih luas di lingkungan sekolah.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bertujuan untuk mendorong munculnya sikap proaktif dan keterampilan interpersonal pada siswa. Diharapkan bahwa siswa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan positif di lingkungan sekolah. Hal ini sejalan dengan upaya mendukung implementasi kebijakan anti-bullying di sekolah, memastikan bahwa nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan keberanian menjadi bagian integral dari pendidikan karakter.
Program ini juga mencakup pengembangan keterampilan sosial siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler dan proyek kolaboratif. Hal ini tidak hanya membantu siswa secara pribadi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan harmonis di sekolah. Lebih jauh lagi, program ini juga berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar terhadap pentingnya pencegahan bullying. Mahasiswa berperan aktif dalam membentuk persepsi dan sikap masyarakat terhadap isu ini.
Dengan tujuan-tujuan tersebut, mahasiswa dan pihak terkait tidak hanya menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif tetapi juga berkontribusi dalam mencapai visi besar Indonesia Emas melalui pembentukan karakter positif generasi muda.
Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh PMM kel 23 antara lain, yaitu Fun Learning yang berfokus pada pemberian pengetahuan terkait bullying dengan pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, selain itu mahasiswa PMM UMM kelompok 23 gelombang 2 juga melakukan kegiatan sosialisasi terkait bullying kepada orang tua dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran terkait dengan perilaku bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah. Program ini menjadi upaya kami untuk membangun kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua untuk bersama menjaga kesejahteraan anak.
Pentingnya partisipasi orang tua dalam upaya pencegahan bullying juga menjadi salah satu fokus program ini. Dengan melibatkan orang tua, diharapkan dapat menciptakan sinergi antara lingkungan sekolah dan rumah, serta menciptakan dukungan yang lebih besar untuk anak-anak dalam menghadapi potensi bullying.
“Kegiatan berupa sosialisasi bersama wali murid sebagai bukti peran aktif lingkungan lingkungan yang paling berdampak untuk menciptakan generasi anti-bullying” ujar Muhammad Dwiky, koordinator PMM UMM, Kelompok 23, Gelombang 2.
Dwiky melanjutkan, penyampaian materi dikemas secara sederhana dan menyenangkan berupa fun learning agar mudah dipahami oleh audiens.
“Fun learning merupakan kegiatan belajar sambil bermain yang diterapkan kepada siswa/i guna meningkatkan antusiasme dalam belajar. Penyampaian materi yang diberikan kepada siswa/i terkait tema “Bullying” yang dirangkum dengan menarik dan disampaikan dengan pembawaan yang menyenangkan” ucap Dwiky.

Fun learning dinilai efektif untuk meningkatkan animo dan partisipasi masyarakat dalam mendukung terciptanya generasi emas anti-bullying. Paparan tentang bullying disampaikan kepada masyarakat lingkungan RT 4/RW 5 di taman membaca bersama dibantu dengan ibu PKK setempat dengan materi yang memuat tentang bullying mulai dari definisi, klasifikasi, faktor penyebab, dan dampak baik bagi pelaku dan korban serta keluarga dan masyarakat terkait. Kegiatan ini menerima tanggapan positif dan harapan berkelanjutan, salah satunya disampaikan sebagai berikut “Kami berharap penyampaian materi ini dapat diterima secara maksimal oleh anak-anak di sekolah dan masyarakat sekitar. Diharapkan juga dapat menambah pengetahuan mereka tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, tentram, damai, sehat serta terhindar dari segala bentuk tindakan bullying” pungkas Dwiky.
Kesadaran akan fakta bahwa bullying mampu memakan korban baik fisik maupun mental adalah suatu hal yang dapat mengubah perilaku anak-anak. Oleh karena itu, pengalaman bullying yang disampaikan oleh korban dapat dianggap memiliki beberapa sifat positif sebagai jawaban bagi lingkungan yang tidak seluruhnya adalah korban yang percaya bahwa tidak ada cara untuk mencegah bullying. Kesempatan berbagi pengalaman yang diberikan kepada siswa/i melalui kegiatan journaling.
Kegiatan journaling ini berhasil membuka ruang diskusi bagi seluruh komponen yang terlibat dalam kegiatan belajar dan menghasilkan hasil diskusi yang sesuai untuk diterapkan sebagai langkah preventif. Salah satu langkah preventif yang akan dilakukan adalah peningkatan keamanan lingkungan sekolah dan kesadaran dari guru dan wali kelas sebagai upaya untuk menghindari situasi intimidasi antar siswa/i. Dengan demikian, keterangan langsung tentang pengalaman korban, sebagai korban langsung perundungan dapat mengembangkan gagasan yang jelas terkait bagaimana langkah pencegahan dan pola berperilaku di masa depan yang dapat diterapkan mengurangi potensi risiko baru.
Keterangan langsung dari korban perundungan ditemukan melalui kegiatan jurnaling yang masih menjadi rangkaian kegiatan anti-bullying oleh PMM UMM. Kegiatan ini ditujukan bagi anak-anak sekolah untuk menulis perasaan dan kegiatan yang terjadi sehari-hari bahkan selepas sekolah. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk mencari adanya indikasi bullying yang terjadi kepada siswa. Keterangan langsung dari siswa yang dimaksud adalah catatan kegiatan dan perasaan ketika terlibat dalam kegiatan yang ditulis dalam jurnal. Melalui keterangan langsung yang telah ditulis, diharapkan dapat disusun langkah pencegahan dan pola berperilaku dari pihak-pihak terkait di masa depan yang dapat diterapkan untuk mengurangi potensi risiko baru berdasarkan keadaan siswa.
Paparan informasi terkait bullying juga diberikan kepada tenaga pengajar setempat dengan kegiatan membagikan dan menelaah buku dari asosiasi psikologi pendidikan Indonesia tentang pencegahan bullying untuk meningkatkan awareness dan pemahaman terkait bullying di instansi pendidikan. Sehingga, dapat ditemukan solusi yang tepat dan bijak dalam menerima informasi yang telah disampaikan siswa melalui jurnal. Peran guru sebagai orang tua siswa di sekolah secara tepat dan bijak harus diterima oleh seluruh siswa, khususnya pada beberapa siswa yang terindikasi menjadi korban bullying dari teman-temannya. Sebagai contoh, seorang menulis keterangan di dalam buku jurnal bahwa dia merasa di bully sama teman-temannya dan merasa terasingkan oleh teman-temannya. Peran guru dalam menemukan letak permasalahan serta penanganan yang tepat khususnya yang berorientasi kepada korban menjadi konsentrasi bersama yang akan dilaksanakan dengan hati-hati dan berdasarkan ilmu pengetahuan terbaru yang dibantu dengan buku yang telah dibagikan dan ditelaah bersama.
Melalui buku yang telah dipilih, implementasi penanganan serius yang harus ditangani oleh para guru juga harus dilakukan bersama dengan psikolog anak untuk permasalahan yang di luar kemampuan guru. Hal penting yang juga dicatat adalah keberpihakan awal kepada korban dalam menentukan langkah penyelesaian dan langkah preventif dalam menumbuhkan rasa saling menghargai dan menyayangi kepada sesama teman untuk para siswa/i. Melalui pelaksanaan langkah preventif ini diketahui bahwa siswa/i menjadi lebih paham dan lebih aware terkait bullying sebagai perilaku yang sangat tidak baik dibuktikan dari cerita-cerita yang ditulis oleh para siswa di dalam buku jurnal tersebut.




