
Oleh:
Mukhammad Rahman Ardhiansyah¹, Zulfikar Homzah², Achmad Farhan Fauzan Alam³, Zidny Nafila Amalia⁴, Syafitri Cintia Nur Rizkha⁵, Eliana Dewi Setyorini⁶, Nia Kharisma⁷, Lukman Fikri⁸*
JurnalPost.com – Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (LPPM) UNNES dan Mitra terkait melakukan Kuliah Kerja Nyata bagi mahasiswa Unnes Angkatan 2020 Tahun 2023. Kegiatan KKN kali ini berlangsung di desa Gedongjetis Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah kegiatan kali ini mengambil tagline “Bersama UNNES Giat, membangun Indonesia dari Desa sebagai amanah dari Pusat Pengembangan (Pusbang) KKN UNNES. Dalam kegiatan KKN ini mengangkat permasalahan yang berkaitan dengan pentingnya menanamkan pengetahuan dasar bagi anak-anak SD yang berhubungan dengan sastra khususnya tentang Puisi dan Dongeng.
Pembicaraan tentang sastra selalu menarik perhatian. Apalagi bila dikaitkan dengan pengajaran sastra di sekolah. Sastra sering mendapat status yang berbeda dibandingkan dengan disiplin ilmu lain seperti eksakta. Bermain di dunia karya sastra merupakan salah satu wadah yang dapat menumbuhkan dan membentuk budaya literasi siswa. Sebagai salah satu karya seni yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, karya sastra menampilkan sisi-sisi kehidupan manusia dengan segala aspeknya. Karya sastra selalu bergerak maju seiring dengan perkembangan kehidupan manusia.
Karya sastra merupakan salah satu bacaan yang paling digemari oleh pembaca (siswa) dibandingkan jenis-jenis karya atau buku bacaan jenis lainnya. Perkembangan karya sastra dari waktu ke waktu pun selalu memberikan warna dan tawaran menarik bagi pembacanya. Karya sastra selalu memotret kehidupan manusia atau lahir dari tiruan kehidupan manusia maupun alam. Karya sastra lahir dari sumber fakta-fakta yang didapatkan dari pengalaman pengarangnya. Walaupun demikian, terkadang karya sastra tidak begitu dekat dengan sebagian masyarakat kita.
Karya sastra terkadang masih dianaktirikan. Penganaktirian bidang sastra tentunya akan berdampak negatif terhadap perkembangan sastra dan pembelajaran sastra. Menurut Mahayana (2012) marjinalisasi pengajaran sastra di sekolah boleh jadi merupakan representasi pandangan masyarakat terhadap kesusastraan yang dihasilkan bangsanya sendiri. Fenomena sastra tersingkir dari pembacanya serta memperhatikan tujuan penyair seperti yang diungkapkan oleh Horatius dalam Asyraf Suryadin (2006) menggelitik hati penulis untuk membedah karya sastra anak khususnya puisi dan dongeng.
Keberadaan sastra anak terkhusus puisi dan dongeng, saat ini belumlah memperoleh perhatian yang serius di negeri yang kita cintai ini. Padahal, keberadaan sastra anak merupakan salah satu alat pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan budi pekerti anak. Melalui sastra anak semisal puisi dan dongeng, anak dapat melakukan oleh rasa, olah batin, dan olah budi sehingga secara tidak langsung telah mengajarkan kepada anak tentang hal-hal baik dan hal-hal yang tidak baik. Sastra anak yang berfiungsi menyenangkan dan bermanfaat dapat diimplementasikan. Sastra anak diharapkan mampu menghadirkan inspirassi dan imajinasi anak-anak untuk membangun narasi-narasi Kebajikan tentang kehidupan untuk menjadikan anak menjadi manusia seutuhnya.
Diksi puisi sudah terlalu familiar kita dengar. Bahkan, dari banyak jenis karya sastra, puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang sering dianggap mudah untuk menuangkannya dalam tulisan. Seiring dengan hal itu, ketika diminta untuk menjelaskan pengertian puisi, kita begitu sulit untuk menjelaskannya.
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan’, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendri yang mungkin berisi pesanatau gambaran suasana-suasana tertentu baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 2014: 134).
Menurut Waluyo (2005:1) Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Pilihan kata-kata yang digunakan betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Bahasa pada puisi umumnya singkat dan padat, tetapi memiliki kekuatan makna. Umumnya penyair berusaha memilih kata-kata yang memiliki persamaan bunyi (rima). Menurut Waluyo (2005:1) bentuk karya sastra terbagi atas prosa, puisi, dan drama. Bentuk karya sastra puisi inilah yang merupakan karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. Dalam puisi, kata-kata yang ditulis mewakili makna yang lenih luas dan lebih banyak. Kata-kata dicarikan konotasi atau makna tambahannya dan dibuat bergaya dengan bahasa figuratif.

Selanjutnya, dongeng merupakan sebuah cerita yang sejatinya tidak benar-benar terjadi dan hanya bersifat fantasi saja. Meski begitu, dongeng bisa menjadi hiburan yang positif bagi anak karena mampu meningkatkan daya imajinasi mereka. Ciri-ciri dongeng biasanya ceritanya pendek, bersifat fiktif, tidak diketahui pengarangnya, dan temanya mengandung pesan moral. Manfaat dongeng antara lain menanamkan nilai moral kepada anak, menciptakan kedekatakan batin dan emosional, menambahkan kosakata anak, meningkatkan rasa ingin tahu anak, dan dapat menurunkan Tingkat stress anak.
Penanaman nilai-nilai yang terdapat pada puisi dan dongeng pada anak dengan sedini mungkin, akan dapat menanamkan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai karakter pada anak. Kegiatan giat Unnes yang dilakukan saat ini melalui KKN sangat memberikan dampak positf dan energi pencerahan untuk anak-anak di masa depan. Penanaman kesadaran melalui hal-hal kecil diharapkan jadi vioner untuk membangun hal-hal besar. Semoga kegiatan yang memberikan ruang bagi tumbuh kembang anak di masa depan terus menjadi konsen dan prioritas utama demi kemajuan anak bangsa. Memangun budaya literasi melalui hal-hal kecil dan sederhana diharapkan menjadi pemacu dan pemicu untuk mengibarkan budaya literasi untuk anak-anak di masa depan.




