Oleh: Fiyolla Rifadiyanti
JurnalPost.com – Dalam segala aspek kehidupan baik itu dalam lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hidup bermasyarakat dan sejenisnya, kita pasti melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi antar sesama. Komunikasi adalah hal yang paling sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang pastinya sudah sangat tidak asing lagi kita bahas, baik itu dalam bentuk komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi menghasilkan suatu tujuan yang jelas seperti bertukar pendapat, mengajak maupun memengaruhi seseorang untuk dapat melakukan apa yang kita komunikasikan.
Suranto (2010: 195) menyatakan bahwa komunikasi merupakan suatu proses interaksi, karena komunikasi adalah kegiatan dinamis yang berlangsung secara berkesinambungan. Komunikasi juga menunjukkan suasana aktif, diawali dari seorang komunikator menciptakan dan menyampaikan pesan, menerima umpan balik dari komunikan, dan begitu seterusnya pada hakikatnya menggambarkan suatu proses yang senantiasa berkesinambungan. Komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan. Adapun satu hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak yaitu jalinan komunikasi yang baik dan berkualitas. Melalui keluarga, anak dibimbing untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya serta menyimak nilai-nilai soial yang berlaku. (Sari, dkk (2010:36).
Seperti halnya dalam keluarga, keharmonisan hubungan komunikasi di antara setiap anggota akan menciptakan keluarga cemara sebagai cermin kebijaksanaan kepala keluarga yang terampil memimpin rumah tangga, memberikan arahan yang bijaksana kepada kepala rumah tangga, dan akhirnya menanamkan nilai-nilai luhur dalam generasi penerus, menciptakan individu yang penuh tunduk akan nilai budi pekerti dengan tutur kata dan perilaku yang luar biasa. Pendapat yang dikemukakan Suwardi Idris, (1990 : 60) dalam bukunya yang berjudul : Komunikasi Keluarga Suatu Pengantar Ringkas yaitu “Komunikasi keluarga adalah proses komunikasi yang terjadi dalam rangka menciptakan hubungan yang baik antar sesama anggota keluarga.” Keluarga cemara menggambarkan hubungan baik yang ditampilkan orang-orang terkait antar individunya yang saling mendukung dan komunikatif dalam menyampaikan pendapat. Bukan berarti tidak ada masalah, setiap keluarga justru memiliki masalahnya masing-masing, hanya saja akan ada perilaku tertentu yang diterapkan bagi masing-masing keluarga dalam menyikapi suatu masalah khususnya pada pola komunikasinya itu.
Dikutip dari webinar kesehatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Prof. Prof. Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes., Psikolog. menyebutkan bahwa berbagai macam persoalan dalam keluarga biasanya disebabkan karena adanya komunikasi yang kurang efektif. Beliau juga menambahkan ketika relasi dalam keluarga sudah positif, maka komunikasi juga bisa dibangun secara positif sehingga mungkin komunikasi yang kurang efektif tetap bisa dipersepsikan secara positif.
Untuk membangun komunikasi yang positif dalam keluarga sehingga bisa melahirkan sebuah keluarga cemara di masa depan, salah satu poin utama yang harus ditingkatkan adalah simpati dan menjadi pendengar yang baik. Mengapa begitu? Kehidupan setelah berkeluarga merupakan kehidupan yang hampir sepenuhnya diisi dengan berdiskusi. Entah itu berdiskusi tentang suatu hal yang serius atau bahkan hanya sekedar diskusi ringan yang diisi dengan candaan. Dengan adanya perasaan simpati serta saling mendengarkan di saat salah satunya berbicara, itu sudah menjadi langkah awal membangun hubungan harmonis antar sesama. Namun jika dari awal sudah memiliki rasa simpati yang minim apalagi tidak minat dalam mendengarkan si lawan bicara ini menyampaikan pendapat, selanjutnya dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi baru seperti rasa bosan, tidak dihargai dan sejenisnya.
Kriteria lain yang sebaiknya harus dipupuk untuk melahirkan keharmonisan dalam keluarga adalah :
1. Komunikatif dalam menyampaikan sesuatu
Terutama bagi seorang kepala keluarga, sudah sepantasnya bagi mereka untuk memiliki jiwa komunikatif dalam menyampaikan hal-hal yang dirasa perlu untuk keluarganya. Hal ini bertujuan agar informasi yang disampaikan bisa diketahui oleh seluruh anggota keluarga, tidak terjadi kesalahpahaman dan bisa menciptakan kedamaian dalam keluarga
2. Menyempatkan waktu untuk sekedar bercengkrama di sela-sela waktu
Setiap anggota keluarga mungkin memang mempunyai kesibukan, tapi bukan berarti setelah kegiatan kerja dan sekolah berakhir itu kita tidak bisa meluangkan waktu untuk beberapa saat bercengkrama dengan keluarga, ‘kan? Di waktu inilah semua anggota keluarga dapat bercerita tentang kegiatan sehariannya dan bertukar pikiran, menghilangkan rasa penat sejenak setelah beraktifitas seharian di luar. Hal ini dapat memicu hubungan harmonis karena adanya keterbukaan dan rasa percaya yang dibangun dalam sebuah keluarga
3. Memberi kepercayaan dan menerapkan kejujuran pada setiap anggota keluarga
Sebagai seorang anak, kita pastinya tetap memiliki privasi yang sama dengan orang lain. Bukan berarti karena kita adalah seorang anak maka kita tidak boleh menutupi apapun dari siapapun apalagi dari orang tua. Kita tetap memiliki privasi yang kita tetapkan hanya diri kita sendiri yang boleh mengetahuinya, tapi bukan berarti orang tua kita tidak ikut terlibat yaa. Orang tua tetap memiliki akses untuk mengetahui hal-hal tentang anaknya tapi atas persetujuan dan izin dari anak, dengan fungsi pengawasan sebagai tanggung jawab penuh dari mereka. Orang tua juga semestinya memiliki rasa percaya yang tinggi kepada anaknya sembari memantai dan mengawasi perkembangan anaknya dari usia dini hingga remaja, hingga ia menginjak usia dewasa.
4. Keterbukaan kepada orang tua
Merujuk pada poin sebelumnya, seorang anak sangat diperbolehkan untuk terbuka tentang apapun kepada orang tuanya. Baik itu dari kehidupan sekolah, pertemanan, percintaan dan masalah-masalah lain yang sekiranya tidak mampu untuk dipikul sendirian. Orang tua berhak tau perkembangan anak dibantu dengan terbukanya anak dalam menyikapi masalahnya. Poin ini menjadi titik fokus dalam keharmonisan keluarga agar menghindari suatu hal yang tidak diinginkan pada anak yang apalagi masih berada dalam fase remaja hingga dewasa, yang mana pasti mengalami banyak perubahan signifikan mulai dari emosi hingga fisik yang dikhawatirkan juga mengganggu aktifitas sehari-hari jika tidak ada orang tua yang mengawasi.
5. Mengadakan liburan keluarga
Hanya dengan sekedar berwisata ke pantai atau mungkin sekedar piknik santai di taman sambil menikmati waktu di luar lingkungan rumah merupakan hal yang dapat membangun hubungan harmonis keluarga, karena kita bisa merasakan suasana baru dengan lingkungan baru sambil bertukar pikiran atau bahkan hanya sekedar menertawakan hal sepele yang justru dapat memupuk rasa cinta dan kasih sayang antar anggota keluarga
6. Memberikan afirmasi dan dukungan emosional
Atas segala pencapaian dan hal yang sudah dilakukan oleh masing-masing anggota, sudah sepatutnya antar individu memberikan pujian serta dukungan yang baik dalam wujud saling bahu membahu serta ikut serta merayakan keberhasilan anggota keluarganya. Hal ini juga membuat individu tersebut merasa dihargai dan didukung atau apapun yang sudah ia usahakan tanpa melihat hasilnya, yang jelas ia sudah merasa diberikan dukungan emsional yang menggantikan sedikit jerih payahnya selama ia berusaha.
Dengan menerapkan beberapa poin-poin sederhana di atas dalam upaya menciptakan keluarga cemara yang diidam-idamkan banyak orang, kita dapat membangun dasar yang kokoh menuju hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Tidak hanya dalam keluarga, tapi ini juga bisa kita terapkan dalam lingkungan pertemanan, percintaan bahkan dalam kehidupan bermasyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Indriani, Yundari. (2022). Komunikasi dalam Keluarga. Kumparan. Diakses pada 5 Februari
2024 dari https://kumparan.com/lyunda94/komunikasi-dalam-keluarga-1zSuTaTEc9e/full
Nauw, S., Mingkid, E., & Marentek, E. (2018). PERANAN KOMUNIKASI KELUARGA
DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR ANAK (Studi pada masyarakat desa Tisaida distrik Tuhiba kabupaten Teluk Bintuni). ACTA DIURNA KOMUNIKASI, 7(3). Retrieved from https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/actadiurnakomunikasi/article/view/20397
Sabarua, J. O., & Mornene, I. (2020). Komunikasi Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak. International Journal of Elementary Education, 4(1), 83–89. https://doi.org/10.23887/ijee.v4i1.24322




