
JurnalPost.com – Surabaya adalah salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia. Sebagai salah satu kota terbesar, Surabaya menghadapi berbagai permasalahan, salah satunya adalah masalah sampah rumah tangga. Pertumbuhan volume limbah ini berlangsung seiring dengan pertumbuhan eksponensial, sementara kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mengikuti pertumbuhan linier. Dampaknya adalah umur yang singkat bagi TPA karena tidak mampu menampung limbah yang terus bertambah.
Kendala teknologi dan infrastruktur yang terbatas menjadi masalah kompleks dalam pengelolaan limbah, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, partisipasi aktif masyarakat juga diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan limbah ini, karena kurangnya kesadaran akan dampak negatif dari limbah dapat memperburuk masalah pengelolaan limbah secara keseluruhan. Dalam upaya mengatasi limbah yang berlebihan, 2 (dua) mahasiswa yang berasal dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) mengambil solusi yang inovatif dengan memanfaatkan Takakura yang ada di RW 07 Wonokromo. Selain itu, pada RW 07 Wonokromo termasuk kedalam kategori Kampung Zero Waste atau kampung yang bebas dari sampah.
Sosialisasi ini dilaksanakan di halaman rumah Ketua RW 07 Wonokromo pada tanggal (13/7) pukul 09.30 WIB dihadiri oleh kurang lebih 20 orang, yang mana 2 diantaranya yaitu Ketua RW 07 Wonokromo dan Fasilitator Kelurahan Wonokromo.
Program kerja pemanfaatan Takakura ini dilatarbelakangi karena banyaknya limbah sampah rumah tangga seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak diolah dengan tepat sehingga menyebabkan timbulan sampah yang cukup tinggi pada wilayah RW 07 Wonokromo, sehingga mahasiswa asal UPNVJT telah mengidentifikasi timbulan sampah dan menemukan ide untuk membuat inovasi Takakura agar lebih berguna.
Takakura adalah salah satu metode pengomposan yang dapat dilakukan oleh masyarakat luas karena metodenya yang sederhana dan mudah diterapkan. Proses ini diperkenalkan melalui penyuluhan interaktif dan demonstrasi video. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa peserta sangat antusias dan senang mengikuti karena memperoleh pengetahuan baru tentang pengelolaan sampah organik rumah tangga, menghasilkan kompos sebagai produk akhir, yang bisa dijual untuk menambah pendapatan keluarga.
Salah satu mahasiswa yang terlibat, Remitha Via Adisty, menyatakan bahwa mereka ingin menunjukkan bahwa limbah rumah tangga tidak selalu menjadi masalah. Dengan inovasi ini, limbah tersebut dapat diubah menjadi solusi yang menguntungkan.

Pembuatan Takakura dilakukan dengan cara Dinding keranjang dilapisi dengan kardus bekas. Satu bantal sekam diletakkan di dasar keranjang, lalu dilanjutkan dengan memasukkan bibit kompos. Setelah itu dimasukkan sampah organik dan diaduk merata dengan bibit kompos. Larutan aktivator EM4 ditambahkan ke dalam campuran bibit kompos dan sampah, lalu ditutup dengan bantal sekam, dan dilanjutkan dengan menutup menggunakan tutup keranjang.
Bantal sekam yang kedua lalu diletakkan di atas campuran sampah dan bibit kompos. Fungsi bantal sekam ini adalah untuk menjaga kelembaban dan temperatur selama proses komposting berlangsung. Mulut keranjang kemudian ditutup kain berpori sebelum keranjang ditutup rapat menggunakan penutupnya. Kain berpori berfungsi untuk melindungi isi keranjang dari kemungkinan masuknya serangga melalui lubang-lubang yang ada pada tutup keranjang.
Sampah organik sisa dapur dapat dimasukan ke dalam keranjang setiap hari sedikit demi sedikit. Sampah yang baru dimasukkan perlu diaduk dengan campuran dalam keranjang untuk mempercepat proses komposting. Sampah organik dalam keranjang dapat menjadi kompos dalam waktu 2-4 minggu. Jika keranjang hampir terisi penuh, dua per tiga bagian kompos dalam keranjang dapat dipindahkan ke wadah tertutup.
Program kerja ini diterima dengan baik oleh warga RW 07 Wonokromo karena dinilai memberikan dampak positif bagi mereka. Program ini juga berkelanjutan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan limbah sampah rumah tangga. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia dalam menangani masalah limbah sampah rumah tangga. Untuk kelanjutan program ini, dapat dilakukan sosialisasi, pelatihan, dan kerja sama dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk pengembangannya.
Oleh karena itu, pemanfaatan limbah sampah rumah tangga diharapkan dapat mengurangi jumlah timbunan sampah, menjaga kelestarian lingkungan, dan menjadikan RW 07 Wonokromo sebagai kampung zero waste.




