JurnalPost.com – Mahasiswa KKN Reguler 14 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG), Ahmad Abda’u Cholil melakukan pengabdian kepada masyarakat selama 12 hari di Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Dengan menghadapi keterbatasan akses terhadap bahan-bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat alat penebar pupuk dari pipa. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam menciptakan alat tersebut dan mengaplikasikan pupuk kompos organik dengan baik.
Pertanian berkelanjutan menjadi salah satu solusi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan menghasilkan produk pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu aspek penting dalam pertanian berkelanjutan adalah penggunaan pupuk organik, yang memberikan nutrisi alami tanah dan meningkatkan kesuburan tanah tanpa mencemari lingkungan. Namun, salah satu kendala dalam penerapan pupuk organik adalah distribusinya yang tidak merata dan efisiensi penggunaannya yang rendah. Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan inovasi dalam pengaplikasian pupuk organik. Salah satu cara efektif adalah menggunakan alat penebar pupuk yang dapat menghasilkan pola sebaran pupuk yang merata dan efisien.

Kegiatan ini berjalan selama 2 hari yang mencakup 6 dusun di Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Dalam kegiatan pendampingan tersebut menghadirkan para petani di Desa Segunung dan ini menjadi salah satu upaya petani dalam mempercepat proses penebaran pupuk organik. Pengabdian ini banyak memberikan masyarakat pengalaman baru melalui materi-materi yang diberikan teman-teman mahasiswa, terutama tentang bagaimana cara merakit alat penebaran pupuk serta cara mengoperasikan alat tersebut supaya berkelanjutan dalam proses penebaran pupuk.

Pada saat pendampingan juga diperkenalkan dalam bahan-bahan yang perlu dibutuhkan seperti, pipa, kayu, baut sekrup dan karet. Para petani antusias hadir dalam kegiatan ini karena materi yang diterapkan adalah pembuatan pipa sebagai alat penebar pupuk yang berefisien. “Disini masih belum ada alat seperti ini, mungkin alat ini dapat membantu para petani di Desa Segunung dalam proses penebaran pupuk lebih cepat,” ujar bapak No, warga Desa Segunung.
Penulis merasa dengan adanya kegiatan ini banyak memberikan pengalaman, terutama pengalaman bersosialisasi dan terjun langsung dengan masyarakat. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Untag Surabaya karena telah memfasilitasi selama 12 hari, mulai dari pembekalan hingga penutupan. Tak lupa juga terima kasih kepada dosen pembimbing lapangan, Moh. Dey Prayogo,S.I.Kom., M.I.Kom, yang telah membimbing dan mendampingi dari awal kegiatan hingga akhir. Kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar berkat antusiasme masyarakat Desa Segunung dan dukungan pihak terkait yakni Kepala Desa beserta jajarannya, serta pihak keamanan yang selalu melakukan pengawasan bagi mahasiswa Untag Surabaya.




