
Penulis : Arya Pranata Sidabutar
JurnalPost.com – Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) sebagai mata kuliah yang diampu oleh Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kesos dan Supervisor Randa Putra Kasea Sinaga, S.Sos, M.Kesos serta Mahasiswa Praktik bernama Arya Pranata Sidabutar (210902099) dari Program Studi K. Kegiatan ini dilaksanakan di UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia Pematang Siantar. Kegiatan praktikum dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai pada tanggal 17 Maret sampai dengan 4 Juni 2024. UPT Pelayanan Tuna Rungu Wicara dan Lanjut Usia di Pematang Siantar, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, merupakan unit pelaksana yang memberikan pelayanan sosial kepada tuna rungu wicara dan Lansia.
Pada praktikum ini saya memilih klien pada anak tunarungu wicara, Tuna rungu wicara merupakan masyarakat yang tergolong rentan dan sering kali diabaikan dalam tatanan sosial kita. Tuna rungu wicara sering kali mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan memahami percakapan, yang memerlukan perhatian khusus dari perspektif sosial dan ekonomi.
Tetapi di UPT ini para klien sudah menunjukkan keahliannya di bidang salon dan kecantikan Pelatihan salon diikuti oleh 14 partisipan yang merupakan tunarungu dan tunawicara. Usia partisipan berkisar antara 17 hingga 22 tahun, dengan mayoritas perempuan (12 perempuan dan 3 laki-laki). Sebagian besar partisipan berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, dengan tingkat pendidikan yang bervariasi dari lulusan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. 5 orang partisipan merupakan orang yang sama sekali belum pernah mengikuti sekolah formal. Mayoritas partisipan belum pernah mengikuti pelatihan profesional sebelumnya dan mengalami keterbatasan akses terhadap peluang pelatihan dan pekerjaan.
Peneliti sudah membersamai pelatihan ini selama 4 bulan, dengan pertemuan lima kali seminggu, setiap Senin hingga Jumat, selama 3 jam per sesi. Materi yang diajarkan meliputi teknik potong rambut, perawatan wajah, penggunaan peralatan salon, teknik pewarnaan rambut, dan manikur-pedikur. Pelatihan ini dipandu oleh dua instruktur salon profesional dan didampingi oleh tiga pekerja sosial. Metode pengajaran mencakup demonstrasi langsung, praktek berulang, dan sesi tanya jawab. Setiap partisipan diberikan alat-alat salon dasar untuk digunakan selama pelatihan dan diharapkan untuk mempraktekkan keterampilan yang dipelajari pada sesi berikutnya.
Berdasarkan observasi dan wawancara, banyak partisipan melaporkan peningkatan rasa percaya diri dan kemandirian. Manda (17 Tahun), menyatakan bahwa pelatihan ini memberinya harapan baru dan membuatnya merasa lebih dihargai dan mampu. Evaluasi kemandirian dilakukan dengan mengamati kemampuan partisipan dalam melakukan tugas tanpa bantuan instruktur setelah sesi pelatihan berakhir. Partisipan mampu menyelesaikan tugas-tugas salon secara mandiri dengan baik.
Dalam hal ini, pekerja sosial (mahasiswa PKL) mengambil peran untuk memberikan dukungan emosional dan motivasi kepada partisipan yang merasa frustasi atau putus asa melalui langkah intervensi yang merupakan pengaplikasian dari teori Tahap Intervensi Pekerja Sosial
• Engagement, Intake, Contract
Dalam menjalin kedekatan hubungan dengan kelompok anak korban kekerasan yang akan menjadi klien Praktikan dalam intervensi ini tidaklah mudah. Sejak awal Praktikan mencoba menjalin relasi dengan klien, beberapa diantara mereka yang masih memiliki trauma membuat mereka sulit untuk berkomunikasi dengan orang baru.
• Assessment
Dalam tahapan ini, Praktikan melakukan asesmen dengan teknik observasi dan wawancara kepada masing-masing klien. Klien terdiri dari enam orang. Pada saat observasi dengan klien, praktikan melihat bahwa dalam keseharian klien sering terjadinya perilaku-perilaku yang kurang baik terjadi diantara sesama klien sehingga menimbulkan perselisihan diantara sesama klien.
• Intervention
Pelaksanaan Pelatihan
Implementasi Rencana, Melaksanakan pelatihan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pekerja sosial memastikan semua aspek pelatihan berjalan lancar, dari penyediaan alat hingga pengaturan jadwal instruktur.
Dukungan Berkelanjutan
Bimbingan dan Pengawasan: Memberikan bimbingan dan pengawasan secara terus-menerus, membantu peserta mengatasi hambatan yang mereka hadapi, dan memastikan mereka mendapatkan manfaat maksimal dari pelatihan.
• Terminasi dan Rekomendasi
Sebagai tahap akhir dari pemberian intervensi oleh Praktikan, maka Praktikan melakukan pemutusan hubungan dengan klien sebagai tanda berakhirnya intervensi. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi klien untuk dapat secara mandiri dalam mengatasi permasalahan mereka tanpa bergantung dengan Praktikan. Meskipun dalam pengakhiran hubungan terdapat klien yang menyatakan bahwa ia akan kembali malas belajar apabila Praktikan pergi, namun Praktikan mencoba untuk memberikan motivasi dan semangat agar mereka bisa mandiri dalam menjalani keseharian mereka tanpa bergantung kepada Praktikan.
Penutupan Program, Memutuskan kontrak terhadap klien secara sah Dan saya berterimakasih kepada klien dan pada tahap ini saya juga berterimakasih kepada UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara Dan Lanjut Usia Pematang Siantar yang sudah menerima saya dalam melaksanakan PKL dalam waktu 4 bulan.
Artikel ini adalah publikasi tugas Praktik Kerja Lapangan dengan dosen pengampu: Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.





Saya ingin belajar diulang basic, intermedit, profesional dan academy