JurnalPost.com – Indonesia memiliki potensi kemaritiman yang cukup besar. Potensi kemaritiman Indonesia adalah segala sesuatu yang terdapat di perairan laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk Indonesia dan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk Indonesia.
Secara potensi, perikanan Indonesia adalah yang terbesar di dunia, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Berdasarkan modus operandi atau cara produksi, perikanan terbagi menjadi dua yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya, dengan potensi produksi lestari sekitar 67 juta ton/tahun. Dari angka ini, potensi produksi lestari perikanan tangkap laut sebesar 9,3 juta ton/tahun dan perikanan tangkap di peraian darat (danau, sungai, waduk, dan rawa) sekitar 0,9 juta ton/tahun, atau total perikanan tangkap 10,2 juta ton/tahun. Sisanya, 56,8 juta ton/tahun adalah potensi perikanan budidaya, baik budidaya laut, budidaya perairan payau (tambak), maupun budidaya perairan tawar (darat).
Seperti yang kita ketahui, Indonesia punya budidaya rumput laut (alga) yang cukup tinggi, yakni hingga 462.400 ton setiap tahunnya. Salah satu lokasi budidaya rumput laut ada di Karimunjawa, sebuah kepulauan yang terletak di utara pulau jawa tepatnya di utara Kabupaten Jepara.
Rumput laut yang mulai dibudidayakan secara intensif tahun 2003, ternyata telah menjadi salah satu kekuatan baru ekonomi masyarakat Karimunjawa. Dengan luas budidaya 1.282 hektare yang dilakukan oleh 824 orang pembudidaya di perairan Karimunjawa, Kemujan ,dan Parang, kawasan ini bisa menghasilkan rumput laut 3.500 ton basah per tahun. Dengan demikian Karimunjawa dapat menghasilkan rumput laut senilai Rp. 3,5 miliar lebih.
Dengan nilai yang terhitung besar inilah, kami Tim Pengabdian Masyarakat IDBU (Iptek Desa Binaan Undip) Universitas Diponegoro, melaksanakan pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk membantu pemanfaatan potensi rumput laut di Karimunjawa, tepatnya di Desa Kemujan.
Kelompok Usaha Bersama (KUB) Jaya Karya Mandiri merupakan salah satu kelompok pembudidaya rumput laut di Desa Kemujan. Kelompok ini pula lah yang akan menjadi mitra dalam pengabdian masyarakat kali ini.
Dalam proses pembudidayaan rumput laut, dalam sekali panen yang berkisaran antar 45 hari, kelompok ini dapat memanen hingga 1 ton rumput laut dalam kondisi segar, yang kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari untuk meningkatkan nilai jual rumput laut. Proses pengeringan rumput laut ini memakan waktu berkisar 2 hingga 4 hari pada saat kondisi matahari bersahabat, bila sedang musim hujan proses pengeringan akan sangat terganggu, lamanya waktu pengeringan dapat meningkat 2 – 3x lebih lama, bahkan rumput laut dapat menjadi busuk.
Maka dari itu tim pengabdian Universitas Diponegoro yang diketuai Ir. Denis, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng. menginisiasi pemasangan dehydrator atau pengering rumput laut untuk membantu proses pengeringan rumput laut oleh KUB Jaya Karya Mandiri.

Penggunaan dehydrator akan membantu mengurangi waktu selama proses pengeringan. Dehydrator ini berpotensi untuk mengeringkan rumput laut dengan hanya memakan waktu sekitar 6 hingga 8 jam, yang mana ini cukup jauh dan lebih efisien dibandingkan dengan pengeringan secara konvensional.
“Salah satu rintangan terbesar dalam proses budidaya rumput laut adalah proses pengeringan, proses ini juga merupakan proses yang penting karena dapat meningkatkan nilai jual pada rumput laut. Namun proses ini membutuhkan waktu yang lama, belum lagi pengeringan ini bergantung pada musim dan cuaca.”
“Maka dari itu kami membuat mesin dehydrator ini yang bertujuan untuk membantu proses pengeringan. Dehydrator ini juga sudah terbantu oleh PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang telah kami pasang pada pengabdian tahun lalu. Jadi pada pengoperasiannya tidak akan membebankan masyarakat.” tutur Ir. Denis S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., ketua pengabdian masyarakat Undip.
Dehydrator ini bekerja dengan konsumsi daya sebesar 850W. Dehydrator ini juga dilengkapi dengan berbagai sensor seperti suhu, kelembaban, dan berat yang terintegrasi dengan mikrokontroller Arduino Mega.
Sensor – sensor ini dapat membantu masyarakat dalam penggunaannya agar menjadi lebih mudah. Sehingga pengoperasian hanya membutuhkan 1 kali menekan tombol start, dan akan berhenti saat sensor mendeteksi rumput laut sudah kering. Dehydrator ini juga dilengkapi dengan layar LCD untuk pemantauan secara real-time.
Pemasangan dehydrator rumput laut di Desa Kemujan Karimunjawa ini mendapat tanggapan positif dari KUB Jaya Karya Mandiri.
“Saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Universitas Diponegoro atas bantuannya pengering rumput laut bertenaga sel surya. Diharapkan bantuan ini dapat membantu proses pengeringan apalagi saat musim hujan, dapat lebih efisien dan lebih cepat, agar budidaya rumput laut ini menjadi lebih baik lagi.” ungkap Eko Hartanto selaku anggota KUB Jaya Karya Mandiri.
Dengan adanya pengabdian ini diharapkan dapat membantu serta mengoptimalkan proses budidaya rumput laut di Kemujan Karimunjawa. Dan dapat menjadi pemicu pengimplementasian dehydrator pengering rumput laut bagi Kelompok Usaha Bersama lainnya agar budidaya rumput laut dapat berkembang lebih baik.




