
JurnalPost.com – Pembelajaran Infrastruktur dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau yang sering disebut P5 ini menjadi salah satu struktur kurikulum pendidikan yang berlaku di Indonesia, dimana kurikulum yang berlaku saat ini adalah kurikulum Merdeka. Kegiatan P5 merupakan upaya yang ditujukan untuk memperkuat pencapaian profil pelajar pancasila yang mengacu pada standar kompetensi kelulusan, serta diharapkan dapat menginspirasi siswa untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Berdasarkan satuan pendidikan Sekolah Dasar, tema projek profil pelajar pancasila yang dikeluarkan oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan meliputi Gaya hidup, Kearifan local, Bhineka Tunggal Ika, Bangunlah jiwa, Suara demokrasi, Rekayasa dan Teknologi, Kewirausahaan, serta Kebekerjaan.
SD Negeri bangah melaksanakan gelar karya P5 dengan mengangkat tema kewirausahaan dengan tujuan mampu meningkatkan rasa kemandirian dalam berwirausaha, serta dapat meningkatkan kerja sama antara siswa dengan wali murid. Kegiatan ini berlangsung diluar jam pelajaran yang sekaligus menjadi acara perpisahan kelas VI dan acara pelepasan bagi Mahasiswa Kampus Mengajar 7 yang bertugas di Sekolah tersebut, sehingga acara tersebut berlangsung dengan penuh keharuan. Pelaksanaan Gelar Karya P5 Kewirausahaan ini melibatkan siswa kelas VI untuk menghasilkan dan menjual hasil karya mereka dengan bantuan para wali murid, serta diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menunjukan rasa cinta terhadap Tanah Air seperti tarian daerah, menyanyikan lagu-lagu nasional, dan juga pengenalan produk-produk khas daerah.

Gelar Karya P5 Kewirausahaan ini tentu saja memberi banyak manfaat di lingkungan sekolah tersebut. Selain menciptakan kebersamaan antara pihak sekolah dengan para siswa dan wali murid, kegiatan ini juga bertujuan untuk menciptakan generasi yang mandiri, serta lebih kreatif dan inovatif melalui produk-produk yang mereka hasilkan. Tidak hanya itu, Gelar Karya P5 Kewirausahaan ini juga menjadi salah satu kegiatan untuk meningkatkan jiwa sosial dan ekonomi.
Oleh: Chintya Nirmala Sari, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya




