
Oleh : Nora Niswatun Choirina – Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University
JurnalPost.com – Kecelakaan lalu lintas menjadi perhatian serius bagi banyak pihak, dikarenakan banyak nyawa menjadi korban dan kerugian material yang diakibatkan dari kecelakaan lalu lintas pun tidak sedikit. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas, umumnya disebabkan oleh faktor kelalaian manusia, faktor prasarana, faktor sarana, dan faktor lainnya.
Salah satu contohnya adalah kecelakaan bus rombongan peziarah di Gresik yang menggemparkan banyak orang. Masih segar dalam ingatan ketika pada awal tahun 2024 kita dikejutkan oleh berita kecelakaan maut yang terjadi di Kota Gresik Jawa Timur pada Sabtu malam, 27 Januari 2024 yang mengakibatkan lima orang peziarah meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.
Kronologi Kecelakaan Bus Rombongan Peziarah di Gresik
Kecelakaan disebabkan oleh sebuah bus yang melaju tak terkendali, diduga akibat supir kelelahan dan mengantuk sehingga bus oleng ke kanan jalan dan kemudian menabrak truk yang melaju dalam kecepatan sedang dari arah yang berlawanan.
Kronologi tersebut selaras dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Unit Penegakan Hukum Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Gresik, Iptu Tita Puspita Agustina dalam kesaksiannya menuturkan bahwa kecekalaan maut ini diduga disebabkan sopir bus mengantuk. Sementara salah satu warga setempat menyebut bus tersebut melaju dengan kecepatan tinggi yang kemudian oleng ke kanan sehingga menabrak truk yang melaju dari arah berlawanan.
Kondisi bus usai kecelakaan
Setelah kejadian kecelakaan tersebut terjadi, banyak media berita di Indonesia yang menayangkan berita terkait terjadinya kecelakaan tersebut. Dilihat dari banyaknya korban serta kondisi bus yang rusak parah dapat disimpulkan bahwa kecelakaan itu bukan hanya kecelakaan lalu lintas biasa saja, tetapi juga kecelakaan maut.
Seperti banyaknya kecelakaan yang biasa terjadi di jalan tol, kebanyakan kecelakaan itu adalah kecelakaan yang mengakibatkan banyaknya korban terluka, dari yang luka ringan, luka berat hingga meninggal dunia. Selain menimbulkan korban jiwa, kecelakaan ini juga menyebabkan bus mengalami kerusakan parah. Bagian depan bus hancur berantakan, dan pecahan kaca berserakan di sekitar lokasi kejadian. Bagian samping bus tampak rusak parah, menandakan bahwa kekuatan benturan sangat besar. Beberapa peziarah dievakuasi dengan menggunakan alat bantu pemadam kebakaran, sementara yang lainnya dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans.
Dalam kecelakaan ini, penyelidikan kepolisian mengungkapkan bahwa salah satu penyebab kecelakaan adalah karena faktor kelelahan sopir. Faktor ini merupakan faktor yang sering terjadi. Sopir bus tersebut telah bekerja dalam waktu yang lama tanpa istirahat yang cukup. Kondisi ini membuatnya mengantuk saat mengemudi, yang pada akhirnya berujung pada kehilangan kendali atas kendaraan. Hal ini menjadi poin kritis yang perlu mendapat perhatian serius dalam upaya memitigasi resiko kecelakaan serupa di masa mendatang. Perlunya tindakan yang lebih serius untuk mencegah kelelahan sopir.
Dalam manajemen risiko terdapat materi mengenai mitigasi risiko, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) risiko yaitu suatu akibat yang kurang baik atau menyenangkan dari suatu perbuatan atau tindakan. Dapat disimpulkan bahwa mitigasi risiko bencana adalah suatu tindakan atau upaya yang dilakukan untuk mencegah dampak dari suatu kejadian yang tidak menyenangkan dan yang tidak diharapkan. Dengan adanya mitigasi ini dapat kita terapkan dalam mengurangi risiko kecelakaan saat berkendara, sehingga dapat mengurangi atau menghindari akibat fatal dari kecelakaan tersebut.
Begitu pula dengan kejadian yang terjadi dari kecelakaan di jalur Pantura tersebut, dapat kita kaitkan dengan mitigasi risiko, agar kedepannya tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi. Dalam kasus mitigasi risiko bahaya kecelakaan ini, perusahaan bus pariwisata seharusnya mengambil tindakan yang tepat untuk memitigasi risiko bahayanya. Hal ini bisa dilakukan dengan memastikan adanya sopir cadangan yang siap menggantikan jika sopir utama mengalami kelelahan atau mengantuk. Ini bukan hanya untuk menjaga keselamatan para penumpang, tetapi juga sebagai langkah agar sopir tidak terbebani dengan jam kerja yang terlalu panjang.
Selain itu, menambahkan satu orang kernet di depan kemudi dapat menjadi solusi tambahan. Kernet ini tidak hanya sebagai penolong sopir dalam situasi darurat, tetapi juga sebagai teman perjalanan yang dapat membantu menjaga kewaspadaan sopir. Saling berinteraksi antara sopir dan kernet dapat menciptakan atmosfer yang lebih terjaga, mengurangi risiko kesalahan manusia akibat kelelahan. Tidak hanya tanggung jawab perusahaan bus dan sopir yang perlu diperhatikan.
Peran pemerintah dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara juga sangat penting. Sosialisasi dan briefing sebelum berangkat perlu menjadi bagian rutin sebelum setiap perjalanan, terutama yang melibatkan perjalanan jarak jauh. Para sopir dan kernet perlu diingatkan kembali tentang pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental, serta bahaya mengantuk saat mengemudi. Dalam sosialisasi tersebut, perusahaan bus dapat mengundang narasumber ahli dalam bidang kesehatan dan keselamatan transportasi untuk memberikan wawasan lebih lanjut. Masyarakat dapat memberikan tips dan saran praktis tentang bagaimana menjaga kondisi fisik dan mental agar tetap optimal selama perjalanan.
Selain itu, memberikan informasi tentang tanda-tanda kelelahan dan cara mengatasi mengantuk dapat menjadi bagian penting dari briefing tersebut. Langkah-langkah yang diusulkan di atas bukan hanya untuk keamanan para peziarah, tetapi juga untuk melindungi citra positif industri pariwisata. Kecelakaan seperti yang terjadi di Gresik tidak hanya merugikan korban dan keluarganya, tetapi juga menciptakan dampak negatif terhadap persepsi masyarakat terhadap keamanan perjalanan bus pariwisata.
Kecelakaan ini menjadi titik perhatian yang penting untuk mengevaluasi dan meningkatkan standar keselamatan dalam industri transportasi. Keterlibatan semua pihak, mulai dari perusahaan bus, sopir, kernet, hingga pemerintah, diperlukan untuk menciptakan lingkungan perjalanan yang lebih aman dan nyaman. Dengan langkah-langkah preventif dan peningkatan kesadaran, diharapkan kecelakaan serupa dapat diminimalkan atau dihindari di masa depan.




