
JurnalPost.com – Desa Bedingin dikenal sebagai salah satu pusat pembuatan genteng terkemuka di Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Sebagian besar penduduknya adalah pengrajin genteng, mewarisi keahlian ini dari generasi sebelumnya. Pada awalnya, hanya sedikit orang yang membuat genteng di Desa Bedingin, tetapi seiring berjalannya waktu, minat warga lain untuk bergabung dalam industri ini semakin meningkat. Saat ini, hampir semua warga desa terlibat dalam membuat genteng, dan jika kita mengunjungi desa tersebut, kita akan melihat genteng tanah liat sedang dikeringkan di halaman rumah mereka sejauh mata memandang.
Menurut salah satu masyarakat desa bedingin yaitu Pak Winanto, kebanyakan masyarakat yang memproduksi genteng saat ini memang meneruskan usaha dari ayah mereka. Pak Winanto sendiri telah meneruskan usaha tersebut dari ayahnya yang sekarang sudah berjalan sekitar 30 tahunan. Untuk bahan baku sendiri dari genteng yang diproduksi, beliau menggunakan tanah liat yang dipesan dari luar kota. Tak seperti dulu yang memang menggunakan tanah liat dari desa bedingin sendiri namun saat ini mengingat bahan baku tanah liat yang semakin menipis dan demi menjaga kelestarian sumber daya alam yang ada di desa bedingin sehingga rata-rata masyarakat yang memproduksi genteng mengambil bahan baku tanah liat dari luar kota.
Untuk pengerjaan dalam memproduksi genteng sendiri dimulai dengan mencetak tanah liat agar siap dibentuk menjadi genteng. Tanah liat sendiri juga harus menggunakan tanah lempung khusus dan dengan beberapa campuran bahan penguat. Lalu setelah tanah liat dirasa sudah cukup dengan tingkat pengerasannya, tanah dicetak dengan mesin yang membutuhkan tenaga. Dan diletakkan pada kayu yang dinamakan “tampan” sebagai penjaga bentuk genteng. Lalu dikeringkan dengan cara dijejer dibawah kipas angin sebagai pemercepat proses pengeringan genteng. Setelah dirasa sudah cukup kering, genteng dimasukkan pada tungku pembakaran sebagai proses akhir dari produksi genteng yang membutuhkan waktu 18 jam untuk sekali pembakaran sehingga cukup untuk dikirim pada konsumen.
Dalam proses pengerjaan genteng sendiri juga tidak boleh dikerjakan dengan terburu-buru agar dapat menghasilkan genteng yang berkualitas. Sedangkan konsumen dari Pak Winanto sendiri berasal dari berbagai daerah, rata-rata konsumen beliau dari daerah Magetan hingga Malang. Beliau juga menyatakan bahwa memang membutuhkan tenaga dari produksi genteng tersebut. Namun dengan rasa senang agar dapat meneruskan dan menjaga usaha keluarga yang telah ada beliau tetap menekuni usaha tersebut dengan suka cita.
Disusun oleh:
1. Abd. Basid – [email protected]
2. Rendy Prasetyo Nugroho – [email protected]
3. Hafidz Asyifa – [email protected]
Dosen pengampu: Dr. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Program studi ilmu komunikasi
Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya




