Ditulis oleh Syarafina Aulia Phalosa
Mahasiswa IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
JurnalPost.com – Ibu Mujiyanti atau biasa dipanggil Ibu Muji ialah seorang perempuan berusia 43 tahun yang berjuang demi kehidupannya. Alasannya ialah dia telah melewati beberapa ujian hidup yang tak mudah. Dia ialah orang asli Yogyakarta yang menikah dengan orang yang bekerja di Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon pada tahun 2001. Setelah pernikahannya dia langsung ikut suaminya untuk ke Cirebon tanpa membawa peralatan apapun, yang dia bawa hanyalah sebuah pakaian. Dia pun tak tahu bahwa dia akan tinggal di sebuah mess Rumah Sakit di Gunung Jati Cirebon dikarenakan suaminya masih honorer. Berjalannya waktu, Ibu Muji memiliki anak dan satu tahun telah berlalu Ibu Muji akhirnya bisa membeli rumah kecil di daerah Kebonkunir. Saat itu Bu Muji pun tak tahu bagaimana sifat orang Cirebon itu, bagaimana pula kegiatan yang ada di Kebonkunir. Ternyata masyakat Kebonkunir memiliki pekerjaan untuk merangkai bunga melati untuk pengantin.
Dari sini Bu Muji pun belajar dan akhirnya bisa mengikuti pekerjaan itu. Waktu berlalu dan pada tahun 2007 suami Bu Muji diangkat menjadi pegawai negeri yang membuat hidup keluarga Bu Muji lebih baik lagi. Namun, ternyata tak semudah itu, anak pertama Bu Muji di umur 16 tahun mengalami struk ringan disaat mau masuk Farmasi Muhammadiyah dan untungnya anak itu diberi keringanan. Bu muji sampai periksa ke dokter syaraf Gunung Jati dan sampai dirujuk untuk ke Rumah Sakit Solo. Sebelum ke Solo itu Bu Muji silaturahim ke kiyai Abu guna meminta doanya dan dikasihlah saran bahwa anaknya itu disuruh ikhtiar sholat malam dan sediakan air putih, serta tak lupa dibacakan surat al-insyirah sebanyak 7 kali dan surat al-fatihah. Terjadilah keajaiban disini, pada saat anak pertama Bu Muji dibawa ke rumah sakit Solo untuk diperiksa dan setelah diperiksa ternyata anak pertama Bu Muji dinyatakan bersih atau sehat padahal sebelumnya itu ada pendarahan di otak.
Bu muji pun membangun rumah di tahun 2009. Ini pun dengan perjuangan yak tak mudah sebab dia harus menyicil bahan-bahan untuk membangun rumah seperti batu bata, kayu, besi. Dia bawa bahan-bahan tersebut menggunakan sepeda. Ingat dengan hal ini membuat Bu Muji sedih. Pada tahun 2009 Bu Muji juga memiliki seorang anak lagi yang diberi nama Yahya. Namun, cobaan hidup mendatanginya lagi. Anak keduanya ini yaitu yahya tumbuh kembangnya kecil sampai Bu Muji ini berusaha ke dokter lalu ke tumbuh kembang anak, ke poli gizi supaya anaknya ada perkembangan bagus tapi sudah seperti itu dari sananya jadi tidak bisa gemuk dan Bu Muji pun menerima dengan lapang dada. Walaupun tubuhnya yang kecil,
Yahya diberi keistimewaan oleh Allah karena cepat untuk menangkap ilmu agama seperti mengaji. Anak keduanya ini disekolahkan di Qiraati Shidqul Amal karena denger kata orang-orang kalau ngaji di qiraati itu susah terus mahal. “Saya ga mikir mahalnya, saya malah tertantang kenapa ngajinya susah, saya malah pengen tahu, kok ngaji susah?” Ujar Bu Muji ini. Berjalannya setahun anak itu perkembangannya bagus dan 2 tahunnya anak itu sudah menyelesaikan jilidnya sebab kalau dulu anak sudah jilid 2b itu sudah dikategorikan bagus untuk ikut test korcab anak tk. Waktu itu Yahya baru umur 5 tahun setengah sudah mencapai targetnya di qiraati. Akhirnya berjalannya waktu, setahun anak itu cepet ngajinya dari mulai jilid 3, 4, 5, 6, juz 27 hingga Al-qu’an dan akhirnya setahun itu Yahya bisa ikut khataman di qiraatinya. Dari sinilah Bu Muji terinspirasi untuk ikut belajar mengaji. Dia berpikiran bahwa “anak saya pintar mengaji nanti kalau seumpamanya nanya sama saya, saya gabisa, otomatis saya jawabnya apa”.
Daripada Bu Muji hanya mengantarkan namun tidak ada manfaatnya, jadi ijin ke suami ikut ngaji dan alhamdulillah sama suami diijinin. Lalu yahya khatam di umur 6 tahun dan dimasukkan ke SD Shidqul Amal sebab Bu Muji selalu mementingkan ilmu agama untuk anak-anaknya. Waktu pun berlalu yahya lulus SD dan mencapai hafalan 15 juz. Tiga tahun digunakan Ibu Muji untuk menyelesaikan belajar ngajinya, setelah mendapatkan syahadah guna mengajar, dia teringat kalimat dari Kiyai Abu bahwa “kalau punya ilmu itu ditularkan, biarpun sedikit tapi mendapatkan pahala dan barokah”. Akhirnya Bu Muji pun menuruti perkataan Kiyai Abu dan mengajarkan ngaji untuk anak-anak di Shidqul Amal. Walaupun Ibu Muji hanya mengajarkan a ba ta tsa namun itulah yang penting untuk diamalkan dan untuk di akhirat nanti. Ibu Muji pun masih mengajar di Shidqul Amal sampai sekarang karena niatnya yang begitu besar untuk tholabul ilmi sehingga membuat hidup Bu Muji ini nyaman.
Anak-anak Bu Muji selalu diajarkan ilmu agamanya terlebih dahulu. Tak hanya anak kedua saja yang disekolahkan untuk mengaji, anak pertama juga mengaji dan sudah sampai khatam al-qur,an dan bisa istiqamah tadarusnya serta sholat lima waktunya. Alasannya Bu Muji memiliki prinsip yang sangat luar biasa yaitu dia tidak akan meninggalkan harta untuk anak-anaknya namun dia akan meninggalkan ilmu untuk anak-anaknya. Bu muji juga mengantarkan anak pertama ke masjid untuk sholat jumat di umur 5 tahun karena bapanya sedang kerja, jadi Bu mujilah yang menggantikan peran tersebut dan menemani anaknya di rumah deket masid sampai selesai sholat jumat. Perjuangan Bu Muji sebagai seorang ibu juga patut diancungkan jempol sebab ibu adalah kunci semangat untuk anak-anaknya.




