
Oleh: Salimah Renata Ghassani
JurnalPost.com – Sejak dibuka pada 11 Desember 2024, Hibisc sempat menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian di kawasan Puncak, Bogor. Dengan luas mencapai 16 hektare, taman hiburan ini menawarkan berbagai wahana seru serta desain bangunan ala negeri dongeng yang unik dan memanjakan mata. Namun, sayangnya, pada Kamis, 6 Maret 2025, Hibisc resmi berhenti beroperasi.
Pada 9 Januari 2025, saya bersama ibu dan kakak saya memutuskan untuk menghabiskan liburan di Puncak. Awalnya, kami tidak memiliki tujuan yang pasti. Kakak mengusulkan Dairyland Riverside, sementara ibu lebih tertarik untuk bersantai di sebuah kafe. Namun, dalam perjalanan, saya menemukan rekomendasi Hibisc melalui media sosial TikTok. Tertarik dengan konsepnya, saya langsung mencari informasi lebih lanjut melalui Instagram resmi Hibisc dan mengecek harga tiket serta jam operasionalnya.
Hibisc buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 dengan harga tiket yang cukup terjangkau. Tiket terusan dijual seharga Rp80.000 per orang pada akhir pekan dan Rp70.000 saat hari biasa, sudah termasuk akses ke 15 wahana. Ada juga tiket reguler dengan harga Rp50.000 (weekend) dan Rp40.000 (weekday), serta tiket khusus turis mancanegara seharga Rp170.000.
Perjalanan dari rumah hingga tiba di Hibisc memakan waktu sekitar dua jam. Kami berangkat pukul 08.00 dan tiba di lokasi sekitar pukul 10.15. Meski perjalanan cukup panjang, rasa lelah langsung terbayar ketika melihat suasana taman bermain ini yang begitu unik.
Begitu memasuki kawasan Hibisc, saya merasa seolah berada di dunia fantasi. Bangunan-bangunannya berdesain kerajaan warna-warni yang mencolok, menciptakan atmosfer seperti di negeri dongeng. Ditambah dengan udara sejuk khas Puncak, pengalaman pertama masuk ke taman ini terasa begitu menyenangkan.
Setelah membeli tiket on the spot, kami melewati proses pengecekan keamanan sebelum masuk ke area taman bermain. Spot foto yang estetik langsung menyambut kami begitu melewati pintu masuk. Tak ingin melewatkan kesempatan, kami pun mengabadikan momen bersama sebelum mulai mencoba wahana.
Wahana pertama yang kami kunjungi adalah Rumah Kelinci. Di sini, kami bisa melihat dan berinteraksi dengan berbagai kelinci menggemaskan dengan warna yang beragam. Suasana di area ini begitu nyaman dan cocok untuk anak-anak maupun orang dewasa yang ingin bersantai sambil memberi makan kelinci.
Setelah puas bermain dengan kelinci, kami melanjutkan ke Rumah Hantu, salah satu wahana favorit di Hibisc. Bangunan rumah hantu ini berbentuk istana angker yang megah dan menyeramkan. Saat hendak masuk, kami bertemu dengan dua anak kecil yang juga ingin mencoba wahana ini. Ibu sempat bertanya apakah mereka tidak takut, dan dengan penuh keberanian, salah satu dari mereka menjawab, ”Nggak, aku berani!”
Jawaban yang cukup mengejutkan, mengingat wahana ini memiliki trek yang cukup panjang hingga sekitar 30 menit. Saya sendiri sempat merasa ketakutan di dalam, tetapi pengalaman ini tetap seru dan menegangkan.
Setelah keluar dari Rumah Hantu, saya dan kakak mencoba Rainbow Slide, perosotan warna-warni yang cukup tinggi. Karena wahana ini tidak termasuk dalam tiket terusan, kami membeli tiket tambahan seharga Rp25.000 per orang. Sensasi meluncur dari ketinggian di tengah pemandangan indah Puncak memberikan pengalaman yang menyenangkan.
Kami kemudian melanjutkan petualangan ke wahana ontang-anting, yang berukuran sedang dan memberikan sensasi berputar tanpa terlalu ekstrem. Setelah itu, kami mencoba Octopus Riders, sebuah wahana yang berputar dengan gerakan yang lebih lembut dibandingkan ontang-anting. Wahana ini cukup ramah bagi pengunjung yang ingin menikmati sensasi berputar tanpa terlalu menantang adrenalin.
Setelah mencoba beberapa wahana, kami merasa lapar dan memutuskan untuk beristirahat di kantin Hibisc. Ternyata, kantin di sini cukup lengkap dengan berbagai pilihan makanan dan minuman, mulai dari pop mie, sosis bakar, hingga makanan berat seperti nasi goreng dan mie ayam.
Salah satu fasilitas yang menarik di Hibisc adalah tersedianya banyak tempat charger. Bagi pengunjung yang aktif menggunakan ponsel untuk berfoto atau merekam video, fasilitas ini sangat membantu agar tidak perlu khawatir kehabisan baterai.
Setelah istirahat dan mengisi energi, kami melanjutkan permainan ke Trampoline Park, yang menawarkan berbagai jenis trampolin dan perosotan seru. Wahana ini menjadi salah satu favorit saya karena memberikan kebebasan untuk melompat dan bermain tanpa batas.
Kami juga mencoba Pendulum, sebuah wahana yang cukup ekstrem karena tinggi dan berputar. Awalnya saya ragu, tetapi akhirnya tetap mencobanya. Meski sempat merasa sedikit mual, saya tetap menikmati sensasi yang ditawarkan wahana ini.
Sebagai penutup, kami mencoba Ontang-Anting untuk Dewasa, yang lebih tinggi dari wahana sebelumnya. Dari atas, saya bisa melihat pemandangan indah kawasan Puncak yang begitu memanjakan mata. Sensasi berputar di ketinggian sambil menikmati panorama yang luas membuat pengalaman ini semakin menyenangkan.
Setelah puas bermain, kami membeli es krim dan beristirahat sejenak sebelum menunaikan salat. Hibisc menyediakan mushola yang luas dan bersih, lengkap dengan mukena dan sajadah, sehingga pengunjung tidak perlu khawatir jika ingin beribadah. Toilet di tempat ini juga bersih dan nyaman, menambah kenyamanan bagi pengunjung.
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk berfoto kembali di beberapa spot favorit. Saya merasa perjalanan ke Hibisc ini benar-benar worth it, mengingat harga tiketnya yang terjangkau, wahana yang beragam, serta fasilitas yang lengkap.
Namun, di tengah popularitasnya yang semakin meningkat, kabar mengejutkan datang pada 6 Maret 2025. Hibisc resmi berhenti beroperasi. Penutupan ini menimbulkan tanda tanya besar, terutama bagi para pengunjung yang sudah merencanakan kunjungan ke taman hiburan ini.
Dedi Mulyadi, salah satu tokoh yang menyoroti penutupan Hibisc, menyampaikan bahwa terdapat beberapa permasalahan hukum dan administrasi yang menyebabkan operasional tempat ini dihentikan. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan wisatawan, mengingat Hibisc sudah menjadi destinasi favorit bagi banyak orang yang ingin menikmati suasana negeri dongeng di Puncak.
Banyak pengunjung yang menyayangkan penutupan ini, terutama karena Hibisc menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dibandingkan tempat wisata lain di kawasan Puncak. Kini, bangunan kastil warna-warni dan wahana-wahana yang dulu penuh dengan tawa pengunjung hanya tinggal kenangan.
Bagi yang sempat merasakan keseruan bermain di Hibisc, kenangan ini tentu akan menjadi bagian dari pengalaman liburan yang tak terlupakan. Namun, bagi yang belum sempat mengunjunginya, kisah tentang taman hiburan negeri dongeng ini hanya bisa dikenang dari foto dan cerita para pengunjung yang pernah merasakan magisnya Hibisc.
Hibisc mungkin sudah tidak lagi beroperasi, tetapi kehadirannya sempat memberikan warna baru dalam dunia wisata di Puncak. Meskipun perjalanan tempat wisata ini berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan, Hibisc tetap menjadi bagian dari sejarah pariwisata yang pernah ada di kawasan ini.
Salimah Renata
P/C2
J0401231009
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University




