
JurnalPost.com – Empat mahasiswi fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim dengan nama Arempaja, sukses menembus Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2023 dalam bidang Riset Sosial Humaniora (RSH) dan memperoleh pendanaan dari Kemdikbudristek. Dinilai unik, tim ini mengangkat riset bertajuk “Eksistensi Eksotisme Surabaya sebagai Titik Jalur Rempah” dengan berusaha mengupas kembali sejarah Jalur Rempah sebagai warisan budaya Indonesia yang berperan penting dalam peradaban dunia di masa lampau, khususnya di Kota Surabaya.
Tim Arempaja, dengan nama lain “Ambarsari Rempah Soerabadja”, terdiri dari anggota dengan latar belakang studi yang berbeda-beda. Eka Suci, sebagai ketua dalam tim berasal dari program studi Administrasi Publik, begitu juga dengan Ananda Islami dan Nabila Putri. Adapun Nirma Maulita berasal dari program studi Hubungan Internasional. Dengan perbedaan tersebut, tim ini mampu mengelola antusiasme mereka terhadap sejarah dan budaya dengan memperkaya pandangan terkait Jalur Rempah melalui kacamata yang berbeda.
Ide riset tersebut berawal dari salah satu program yang digalakkan oleh Kemdikbudristek yakni Muhibah Jalur Rempah. Banyak sumber sejarah yang menyebutkan bahwa rempah-rempah merupakan komoditas berharga yang membuat bangsa Eropa berbondong-bondong datang ke Asia, khususnya Nusantara, pada masa itu. Akan tetapi, meski memiliki tonggak sejarah yang krusial pada masa lampau, Jalur Rempah, dan Indonesia sebagai penghasil negara rempah terbesar, belum memperoleh pengakuan dari dunia, seperti halnya Jalur Sutra sebagai jalur perdagangan dunia.
Tim ini juga menggandeng berbagai informan dan komunitas masyarakat dengan latar belakang yang berbeda untuk menggali informasi dan data primer terkait sejarah Jalur Rempah di Surabaya, salah satunya komunitas Begandring Surabaya. Kuncarsono (mas Kuncarsono) selaku ketua dari komunitas Begandring Surabaya, dan Nanang Purwono (Mas Nanang) yang merupakan salah satu anggota komunitas tersebut sekaligus pengamat sejarah, menjadi dua dari beberapa informan dalam riset tersebut. Kedua tokoh menekankan urgensi pengakuan Jalur Rempah Surabaya sebagai bagian dari warisan budaya yang tidak boleh terlupakan oleh waktu. “Rempah-rempah lebih dari sekedar bumbu masakan, rempah-rempah berperan besar dalam sejarah perdagangan di Indonesia”, ujar Mas Kuncarsono. Begitu pula dengan salah satu dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Purnawan Basundoro yang menyatakan pentingnya Jalur Rempah karena rempah merupakan bagian dari fakta sejarah yang pernah menautkan Indonesia dengan negara barat.

Tim Arempaja tidak hanya berupaya untuk mengenalkan eksistensi Jalur Rempah dikalangan masyarakat lokal Surabaya saja, melainkan juga diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pemerintah untuk membawa Jalur Rempah sebagai warisan budaya ke UNESCO. Serta Indonesia, khususnya Surabaya, diakui sebagai titik penting sejarah peradaban dunia.
Ditulis oleh: Nirma Maulita




