
Oleh: Alicia Lily Michaela Padu
Mahasiswi Jurusan Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB
JurnalPost.com – Ilmu komunikasi merupakan sebuah bidang keilmuan yang sederhana namun juga luas disaat yang sama. Pada dasarnya ilmu ini membahas mengenai bagaimana sebuah pesan disampaikan, diterima, dan kemudian diinterpretasikan. Dalam berbagai aspek kehidupan selalu akan terjadi proses komunikasi. Namun di mata masyarakat awam yang tidak mendalami keilmuan ini, kata komunikasi diartikan dengan sudut pandang yang lebih sederhana. Banyak yang beranggapan bahwa ilmu komunikasi adalah ilmu tentang bagaimana kita berbicara satu sama lain di kehidupan sehari-hari. Tentunya pandangan ini tidak dapat dilihat sebuah anggapan yang salah. Setiap orang dapat menginterpretasikan pesan yang diterimanya dengan berbeda-beda.
Masing-masing orang akan memiliki pemahaman dan pendapatnya tersendiri terkait sebuah topik yang ada. Namun nyatanya ilmu komunikasi merupakan sebuah keilmuan yang lebih kompleks dari pada itu. Wiryanto (2004), menyatakan bahwa ilmu komunikasi dipengaruhi secara signifikan dan merupakan titik pertemuan dari beberapa disiplin ilmu lainnya, antara lain adalah sosiologi, psikologi, politik, bahasa, matematika dan teknik.Keilmuan ini kemudian menjadi tonggak munculnya studi atau jurusan lain seperti jurnalistik, public relation (hubungan masyarakat), komunikasi pemasaran, advertising (periklanan), penyiaran, desain komunikasi visual, performing arts communication, dan sebagainya.
Memasuki era konvergensi media, proses persebaran informasi menjadi semakin cepat dan mudah untuk diakses. Muncul anggapan bahwa ilmu komunikasi yang ada saat ini menjadi keilmuan sangat luas sehingga tidak memiliki fokus yang baik. Studi lebih lanjut terkait ilmu komunikasi secara umum kemudian dianggap sebagai sesuatu yang terlalu teoritis dan luas sehingga mereka yang medalaminya akan kesulitan dalam menemukan fokus yang diminati. Hal ini terus mengarah lebih lanjut hingga ke jenjang karir yang dijanjikan bagi mereka yang mendalami keilmuan ini.
Konvergensi Media dan Dampaknya
Istilah konvergensi media pertama kali dicetuskan oleh Henry Jenkins (2006), akademisi media yang dicetuskan sebagai bapak konvergensi media (Balbi, 2017), melalui karyanya yang berjudul “Convergence Culture: When Old and New Media Collide.” Jenkins (2006, dalam Dyer, 2010) menjelaskan bahwa konvergensi media adalah aliran konten melalui berbagai platform media, kooperasi antara beberapa industri media, pencarian struktur baru dari pendanaan media yang jatuh pada celah sempit antara media lama dan media baru, dan perilaku audiens media yang sering melakukan migrasi, atau terus berpindah untuk menemukan konten yang mereka inginkan.
Dengan kata lain konvergensi media adalah kondisi dimana khalayak tidak hanya menerima sebuah informasi dari satu sumber tentu, banyaknya sumber informasi yang tersedia kemudian merubah pola perilaku dan pola interaksi yang ada. Dampak besar yang dibawa oleh konvergensi media ini menghadirkan berbagai macam fenomena baru yang kemudian ditelaah lebih lanjut dan kemudian melahirkan teori-teori bar pula. Tentu hal ini memberikan pengaruh terhadap ilmu komunikasi sebagai sebuah keilmuan yang diajarkan dalam bidang akademik.
Jika berbicara mengenai pembelajaran ilmu komunikasi tentu akan mengarah pada program studi atau perguruan tinggi, tempat di mana proses tersebut diterapkan. Hadirnya konvergensi media mengakibatkan munculnya bidang-bidang baru yang lebih signifikan. Fenomena dan situasi yang dihadirkan akibat konvergensi media, khususnya digitalisasi memicu lahirnya bidang-bidang baru (yang juga menjadi jurusan sendiri di beberapa perguruan tinggi) seperti manajemen produksi media, digital branding, digital communications, dan industri kreatif. Tidak menutup kemungkinan program-program studi yang baru akan terus bermunculan.
Ancaman Identitas Keilmuan
Ilmu komunikasi sendiri disadari atau tidak disadari tengah mengalami ancaman. Hal ini diakibatkan oleh materi keilmuan yang semakin meluas menghasilkan jurusan-jurusan yang baru. Pembelajaran-pembelajaran ini lebih berfokus pada kompetensi dan kemampuan yang berkaitan langsung dengan karirnya hingga pemahaman terkait teori-teori utama ilmu komunikasi menjadi semakin minim diminati. Calhoun (2011) juga menulis sebuah kritikan tentang heterogenitas ekstrim ini dengan menyebutkan beberapa contoh spesifik kegelisahan terhadap hal tersebut, yaitu:
1. Sulit untuk menjelaskan secara spesifik kenapa komunikasi menjadi pilihan yang baik untuk dijadikan jurusan,
2. Kesulitan menentukan struktur kurikulum pembelajaran, dan
3. Luasnya bidang yang dicakup memunculkan kemungkinan pembelajaran ilmu komunikasi menjadi tidak spesifik dan hanya berbentuk pengetahuan umum terhadap bidang-bidang pengetahuan yang baru.
Hal ini tentu menjadi sebuah ancaman terhadap integrasi dari ilmu komunikasi itu sendiri. Relevansi jurusan ilmu komunikasi secara umum yang ada sekarang ini menjadi semakin dipertanyakan. Dengan turunan ilmunya yang luas menjadi semakin spesifik dan lebih berkaitan dengan teori-teori praktis profesi yang menjadikan banyak orang yang beralih kepada jurusan-jurusan tersebut. Ilmu komunikasi dianggap memberikan pengetahuan mendasar yang luas sehingga mereka yang mendalami ilmu ini pada akhirnya akan mengalami kesulitan dalam memilih hal mereka sukai berkaitan dengan karir kedepannya.




